
Keesokan harinya. Darren kembali mendatangi kantor polisi untuk kembali melakukan laporan tentang hilangnya Mei. Dia sudah tidak bisa tenang sebelum ada kepastian dari pihak kepolisian bahwa mereka akan melakukan pencarian terhadap istrinya yang sudah hilang kontak sejak kemarin.
"Pak, ini sudah lebih dari dua puluh empat jam istri saya tidak ada kabar, tolong diproses laporan saya dan segera lakukan tindakan untuk mencari istri saya," ucap Darren pada seorang polisi yang menerima laporannya.
"Baik, Pak. Kami akan menindak lanjuti laporan, Anda." Polisi itu memberikan sebuah berkas untuk ditandatangani oleh Darren dan dia juga memberikan beberapa pertanyaan pada Darren perihal istrinya yang tidak bisa dihubungi sejak kemarin.
********
Di kediaman Babeh Rojak.
"Nyak, udah jangan nangis terus. Kak Mei pasti ditemukan," ucap Niki.
"Dia tuh anak Nyak satu-satunya. Nyak gak bisa tenang sebelum dia ditemukan," ucap Nyak Saroh yang sedari semalam terus menangis karena khawatir pada Mei.
"Sekarang Darren lagi di kantor polisi, semoga aja polisi segera membantu kita untuk menemukan Mei," jelas Babeh Rojak.
"Aye pengen anak kita ditemukan dalam keadaan selamat. Bilangin ama pak polisi temukan Mei dan bawa dia pulang dalam keadaan selamat," ucap Nyak Saroh pada suaminya.
"Gue juga berharap begitu. Gue mau nyusul Darren ke kantor polisi," ucap Babeh Rojak lagi.
"Niki, Bayu, lu berdua jagain Nyak lu dengan baik ya. Babeh pergi dulu," ucap Babeh Rojak lagi pada Niki dan Bayu.
"Iya, Beh. Hati-hati di jalan ya," sahut Niki.
Babeh Rojak pun langsung pergi dari rumahnya menggunakan sepeda motor dan langsung menuju kantor polisi untuk menemui Darren yang sekarang sedang membuat laporan pada kepolisian. Babeh Rojak tak bisa tenang sebelum tahu bahwa Mei masih bisa ditemukan atau tidak. Dia berharap anaknya itu bisa di temukan dan bisa berkumpul lagi bersama keluarganya.
*******
Di pasar.
Joni, Karen dan Dion sedang berdiskusi. Mereka sedang membagi tugas mereka untuk hari ini. Karena Mei masih belum ditemukan juga. Dion meminta Karen bekerja mengamankan pasar sedangkan dirinya dan Joni pergi untuk mencari Mei. Mereka tak bisa mencari Mei bersamaan, salah satu dari mereka harus ada yang stanby di pasar itu untuk menjaga keamanan di sana.
__ADS_1
Mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka begitu saja dan membiarkan ada keributan di pasar. Karena itulah Karen harus tetap di pasar, meski sebenarnya dia ingin sekali membantu mencari Mei.
"Jelas ya. Ka, Lu gak apa-apa'kan kerja sendiri?" tanya Dion pada Karen.
"Gak apa-apa. Lu berdua cari Mei ampe dapat ya," sahut Karen.
"Kita akan berusaha," ucap Joni.
"Kita pergi dulu ya. Kalau ada yang mencurigakan, segera telpon gue!" titah Dion sebelum pergi.
"Iya. Lu tenang aja," sahut karen lagi. Dion dan Joni hanya mengangguk pelan lalu segera pergi dari sana. Mereka ingin tetap mencari Mei meski sekarang polisi sudah melakukan penyelidikan tentang hilangnya Mei.
Tak lama, setelah Dion dan Joni pergi dari pasar. Satya datang ke sana, dia turun dari mobilnya dan langsung berjalan memasuki pasar untuk mencari Karen atau pun teman-teman Mei yang lainnya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Satya bertemu dengan Karen di dekat toko pakaian. Satya pun langsung menghampiri Karen dan langsung menanyakan Mei padanya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mei dan berbicara dengan perempuan yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.
"Karen, Mei di mana?" tanya Satya setelah tiba di samping Karen.
"Apa! Mei hilang?" ucap Satya dengan suara sedikit keras hingga beberapa pedagang di sana mendengar suaranya.
"Mei hilang? Hilang ke mana?" tanya salah satu pemilik toko pakaian sembari berjalan mendekati Karen dan Satya.
"Nggak. Aye cuma bercanda, Mei aman, kok," ucap Karen berbohong karena tak ingin membuat para pedagang di sana khawatir pada preman cantik kesayangan mereka.
"Bercanda jangan keterlaluan. Jangan bikin gue jantungan karena belahan jiwa gue hilang," ucap salah satu pemuda yang bekerja sebagai penjaga toko perhiasan di pasar itu.
Satya menatap pemuda itu. Karena perkataan pemuda itu, Satya mengira bahwa dia adalah pacarnya Mei. Satya tersenyum padanya karena dia menatapnya.
"Kita bicara di tempat lain," ucap Karen pada Satya.
Karen berjalan ke belakang pasar yang biasanya di sana tidak terlalu ramai bahkan terbilang sepi. Satya mengikutinya dari belakang, dia penasaran dengan pernyataan Karen yang mengatakan bahwa Mei menghilang.
__ADS_1
Setibanya di belakang pasar, tepatnya di sudut tembok tinggi pembatas pasar dengan area luar. Karen berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tembok tinggi itu sedangkan Satya bersiap untuk mendengarkan perkataan Karen.
"Jadi, bagaimana? Kamu bercanda tentang hilangnya Mei?" tanya Satya karena Karen tak kunjung bicara.
"Mei memang menghilang. Kebetulan kamu datang ke mari, ada yang ingin aye bicarakan dengan kamu," jelas Karen.
"Apa? Bicara saja," ucap Satya.
"Kemarin kamu bilang kalau Mei menolong kamu dan juga ibu kamu. Bisa jadi, hilangnya Mei ada hubungannya dengan kejadian itu," ucap Karen.
"Maksud kamu apa? Aku tidak mungkin menculik Mei dan lagi aku tidak mungkin bisa mengalahkan tenaganya," ucap Satya.
"Bukan itu maksudnya. Bisa jadi, penjahat itu dendam pada Mei dan akhirnya mereka menculik Mei. Sebaiknya, kamu cari tahu siapa penjahat yang menculik ibumu dan mulai melakukan pencarian terhadap mereka. Aye gak mau teman aye itu pulang dalam kondisi tidak baik-baik saja," jelas Karen.
"Oke. Aku akan membantu mencari Mei. Boleh aku minta fotonya? Agar aku bisa mengerahkan semua anak buahku untuk mencarinya," jelas Sayta.
"Ada, tapi jangan disalahgunakan," ucap Karen sembari merogoh ponselnya dari saku celananya.
Dia meminta nomor whatsapp Satya lalu mengirim foto beberapa foto Mei lewat pesan whatsapp itu. Setelah mendapat notifikasi pesan, Satya langsung membuka pesan dari nomor baru itu dan langsung menyimpan foto Mei yang dia dapat dari Karen.
"Sudah ada. Aku permisi karena aku harus segera mencari Mei," jelas Satya.
"Silahkan. Jangan lupa telpon aye kalau udah ada titik terang tentang teman aye itu," ucap Karen lagi.
"Pasti. Aku pasti akan menelpon kamu kalau aku mendapatkan informasi tentang Mei," sahut Satya lalu dia segera pergi dari tempat itu.
"Tuh anak, tahu gak ya kalau Mei udah nikah? Jangan-jangan dia suka lagi sama Mei," gumam Karen yang lupa mengatakan bahwa Mei sudah mempunyai suami.
Selama ini, memang banyak pemuda yang suka pada Mei tapi setelah Mei menikah sudah jarang ada pemuda yang mendekati Mei tapi Satya, sepertinya dia sedang berusaha untuk mendekati Mei.
Satya memang tidak tahu bahwa Mei sudah menikah, yang dia tahu, dia mencintai Mei dan akan memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
Bersambung