
"Mei itu mereka yang masuk ke rumah kamu," ucap Bu Ayu saat melihat dua orang laki-laki masuk ke rumah orang tuanya Mei.
"Iya Bu, siapa mereka? Aye gak kenal mereka tapi kenapa mereka melakukan ini sama Nyak."
"Sekarang lebih baik kita salin rekaman ini ke ponsel kamu untuk dijadikan bukti pada polisi atau kalau memang kamu mau menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, kamu bisa mencari mereka dengan mengenali mereka lewat video ini."
"Iya Bu. Ini ponsel aye!" Mei memberikan ponselnya pada Bu Ayu. "Terimakasih ya Bu, Ibu jadi repot deh karena harus bantuin aye."
"Iya sama-sama, lagian sudah kewajiban Ibu sebagai tetangga dan lagi Ibu sama sekali tidak merasa repot."
Mei tersenyum ramah, tetangganya itu memang baik dan sering menolong tetangganya yang kesusahan.
"Ini ponsel kamu!" Bu Ayu memberikan ponsel itu pada Mei. "Video nya sudah ada didalam ponsel kamu ya."
Mei meraih ponselnya lalu memasukan ponselnya kedalam saku celananya.
"Terimakasih banyak Bu kalau gitu aye permisi ya."
"Iya, semoga Nyak kamu baik-baik saja ya."
"Alhamdulillah, Nyak baik-baik aja. Aye pulang ya Bu, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
*******
"Anak-anak kalian belum mulai belajarnya?" tanya Darren pada anak-anak yang sedang menunggu Mei di sana.
"Belum, kak Mei nya kayaknya gak datang deh," ucap Amel.
"Belum datang? Kemana dia?"
"Gak tahu Om tapi kak Mei pernah bilang kalau dia telat lebih dari sepuluh menit berarti dia gak akan datang, ini kami sudah menunggunya selama hampir setengah jam," ucap Niki.
"Ya udah, biar om aja yang ngajarin kalian hari ini. Mungkin kakak kalian sedang ada urusan penting."
Anak-anak itu pun mulai duduk lagi di tempat masing-masing dan membuka bukunya.
"Kenapa Mei tidak datang? Ada apa dengan dia? Gak mungkin dia gak datang kalau tidak terjadi sesuatu padanya, setahu aku dia sangat menyayangi anak-anak ini," ucap Darren didalam hatinya.
__ADS_1
"Sekarang belajar apa anak-anak?" tanya Darren pada anak-anak itu.
"Terserah Om lah, kan Om gurunya."
"Eh iya ya, lupa. Karena Om gak tahu pelajaran kalian sudah sampai mana jadi hari ini kita belajar baca saja ya. Ayo siapa yang mau baca duluan?"
*******
"Astaghfirullah, Nyak lu kenapa Mei? Kenapa wajahnya bonyok gitu," ucap Rojak yang baru datang ke rumahnya.
"Ada orang yang sengaja datang dan menganiaya Nyak, Babeh tenang aja gak sampai tiga hari, aye pasti akan menemukan mereka. Mereka harus menerima akibat dari perbuatan mereka sama Nyak."
"Mei, Nyak kagak apa-apa kok. Bang tolong larang anak kita buat balas dendam pada mereka," ucap Saroh.
"Lu gimana? Lu udah kayak gini masih aja maafin mereka, biarin Mei nyari mereka kalau perlu gue yang akan bikin muka mereka kayak oncom."
Rojak yang merasa sesak saat melihat kondisi wajah sang istri pun tak dapat menyembunyikan kemarahannya.
"Kita gak tahu siapa mereka Bang, kita tidak bisa melawan orang berduit. Abang tahu kan yang benar bisa jadi salah dengan adanya duit."
"Nyak jangan khawatir, aye akan minta Darren untuk pergi dari aye biar gak ada lagi yang melukai Nyak kayak gini."
"Jangan Mei, Nyak udah bilang kalau Nyak kagak apa-apa."
"Mereka meminta agar Mei menjauhi Darren, Bang."
"Ini pasti kerjaan orang yang suka sama Darren atau orang yang suka sama lu Mei."
"Maksud Babeh apa, gak mungkin Mario ngelakuin ini. Aye tahu bener dia tuh orang baik."
"Selama ini yang suka sama lu kan bukan cuma Mario tapi mungkin yang suka sama Darren juga bukan cuma elu. Kita lapor polisi aja biar polisi yang nyari mereka."
"Jangan dulu Beh, biar aye yang nyari mereka."
"Lu jangan sampai membahayakan diri lu Mei."
"Nggak Beh, aye cuma pengen tahu aja mereka siapa, bisa aja mereka salah orang, tadi Babeh bilang yang suka sama Darren bukan cuma aye aja. Bisa aja kan mereka salah sasaran?"
Sebenarnya bukan itu alasan Mei melarang orang tuanya melaporkan kejadian yang menimpa Saroh pada polisi tapi dirinya ingin dirinya sendiri yang memberi pelajaran pada orang yang sudah berani mengganggu ketenangan keluarga mereka. Dengan adanya rekaman CCTV milik tetangganya, dirinya bisa lebih mudah untuk mencari mereka.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!" seru Darren dari luar rumah.
"Waalaikumsalam!" Mei berjalan menuju pintu untuk melihat tamu di depan rumahnya.
"Kamu ... ngapain ke sini? Ini udah mau maghrib," ucap Mei saat melihat Darren.
"Aku khawatir sama kamu. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Tadi aku ke tempat biasa kamu ngajar anak-anak tapi kamu gak ada jadinya aku ke sini untuk memastikan keadaan kamu."
"Ada sedikit masalah. Aye rasa ada yang tidak suka dengan hubungan kita tapi aye gak tahu siapa orangnya."
"Maksud kamu?"
"Ada orang yang sengaja datang ke rumah untuk nyariin aye dan karena aye gak ada di rumah mereka menganiaya Nyak sampai Nyak babak belur dan mereka juga merusak barang di rumah aye."
"Apa, siapa yang berani melakukan ini? Bagaimana keadaan Ibu kamu sekarang?"
"Baik-baik aja, mereka tidak sampai melakukan yang lebih parah lagi, mereka ingin aye menjauhi kamu."
"Apa! Kenapa mereka meminta hak itu?"
"Darren, aye minta sekarang ini kamu jangan terlalu dekat dengan aye sebelum aye bisa menangkap mereka. Aye gak mau Nyak terancam keselamatannya."
"Tapi Mei–"
"Tolong mengertilah, Darren."
"Baik, kalau gitu aku pulang sekarang."
Darren segera kembali ke mobilnya dan masuk ke dalamnya! Dia pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Siapa Mei?" tanya Rojak saat Mei sudah masuk ke dalam rumahnya lagi.
"Darren. Tapi udah pulang, aye usir dia dari rumah."
"Kenapa, lu tega bener."
__ADS_1
"Biar gak ada yang gangguin Nyak lagi, aye gak mau membahayakan Nyak."
Bersambung