Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 55


__ADS_3

Pagi hari sekitar pukul tujuh. Mei dan Darren baru keluar dari kamarnya, mereka berjalan langsung menuju ruang makan karena semua orang rumah sudah menunggu mereka untuk sarapan. Mei dan Darren berjalan beriringan. Mei berjalan lebih dahulu sedangkan Darren di belakangnya, sejak keluar dari kamar, Darren terus memperhatikan gaya berjalan Mei yang terlihat sedikit aneh tapi seperti sedang tidak kesakitan.


Mei yang tak merasa dirinya diperhatikan, terus berjalan hingga akhirnya mereka tiba di ruang makan. Perempuan yang biasa dijuluki preman pasar itu pun langsung menyapa semua keluarga suaminya. Dia tersenyum ramah pada mereka tak lupa dia juga menyapa Gaby lalu ikut duduk bergabung bersama mereka.


Darren langsung duduk di kursi yang letaknya berdampingan dengan Mei. Dia langsung meraih piring makannya dan langsung mengisinya dengan nasi dan lauknya tak lupa dia juga menawari Mei mau makan apa. Dirinya tahu, hari ini adalah hari pertama Mei menjadi bagian dari keluarganya dan mungkin Mei masih canggung terhadap semua orang rumahnya.


"Mei, kamu mau makan apa?" tanya Darren pada istrinya itu.


"Aye bisa ambil sendiri," sahut Mei.


"Ayo, Mei jangan sungkan-sungkan. Makan apa pun yang kamu mau sampai perut kamu kenyang," ucap Bu Aryanti.


"Betul sekali apa kata, Mama. Ayo kak, Mei! Makan yang banyak," ucap Isabella.


"Mama, habis ini aku mau sekolah sama Mama," ucap Gaby pada Mei.


"Tentu saja, Sayang. Ayo makan dan setelah itu kita berangkat sekolah," ucap Mei.


"Gaby, sekolah sama mama besok saja. Hari ini, mama kamu lagi sakit. Semalam dia keseleo dan pinggangnya sakit, harus dibawa ke dokter dulu," jelas Darren pada putri tercintanya.


"Yah. Mama kenapa sampai sakit pinggang?" tanya Gaby.


"Semalam 'kan ada kecoa di kamar papa dan karena mama kamu berlarian akhirnya terjatuh deh," jelas Darren berbohong.


Darren yang sudah berpengalaman itu tahu bahwa istrinya pasti masih merasa kesakitan akibat perbuatannya semalam. Dirinya juga tahu, Mei pasti kesulitan berjalan karena ada yang berubah pada bagian tubuhnya yang berada di area bawah. Sebisa mungkin dirinya menahan Mei agar tetap di rumah dan tidak melakukan aktivitas apa pun sebelum kondisinya membaik.


"Aye bisa, kok nganterin Gaby ke sekolah," ucap Mei.

__ADS_1


"Gak usah. Hari ini Gaby sekolah sama Mama saja," ucap Bu Aryanti.


"Sebenarnya aku mau nganterin Gaby sekolah tapi karena Kak Darren masih cuti jadinya aku harus ke kantor buat menggantikan posisi kakak," ucap Isabella.


"Gaby biar sama mama saja," ucap Bu Aryanti lagi.


Setelah sepakat dengan obrolan mereka. Mereka pun mulai sarapan dalam keheningan. Tak ada satu orang pun yang berbicara di sana, hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring makan mereka.


Setelah selesai sarapan, mereka semua melanjut aktivitas masing-masing. Gaby dan Bu Aryanti langsung pergi ke sekolah, Pak Wiliam dan Bella pergi ke kantor sedangkan Bu Sarah langsung masuk ke dalam kabarnya lagi. Darren dan Mei juga langsung meninggalkan meja makan, mereka pergi ke halaman rumah untuk menikmati sejuknya udara pagi hari.


Di halaman rumah keluarga Darren yang luas dan terdapat beberapa jenis bunga dan pepohonan yang tumbuh di sana membuat halaman rumah itu menjadi takan pribadi yang sangat nyaman untuk disinggahi. Darren mengajak Mei duduk di kursi taman itu dan menikmati hari pertama mereka menyandang status suami istri. Mereka duduk bersebelahan dengan tangan Darren yang merangkul punggung Mei dari belakangan.


"Kamu bahagia hari ini?" tanya Darren pada Mei.


"Tentu saja tapi sebenarnya aye khawatir sama anak-anak aye," sahut Mei yang memang selalu mengkhawatirkan anak-anak asuhnya yang kini masih tinggal di kolong Jembatan.


"Terima kasih sudah mau menampung mereka," ucap Mei.


"Aku cinta sama kamu dan cinta bukan hanya menyatukan kita saja tapi menyatukan antara dua keluarga sekaligus. Kamu saja bisa menerima Gaby dan menyayangi dia kenapa aku tidak? Lagipula aku juga sayang sama anak-anak itu," ucap Darren lagi.


"Ternyata kamu orang yang benar-benar baik. Aku pikir, kamu tidak akan punya hati sebaik ini."


"Kok, kamu bicara seperti itu?" tanya Darren sembari menatap Mei.


"Kamu 'kan suka bicara pedas terhadap aye dan juga kamu paling benci sama anak-anak jalanan yang menurut kamu pemalas itu."


"Itu dulu. Dulu aku benci sama preman cantik ini karena aku merasa preman cantik ini yang sudah berusaha menculik aku tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenal kamu dan akhirnya aku juga tergila-gila padamu," ucap Darren sembari mengelus pipi Mei.

__ADS_1


Mei tersenyum lalu meraih tangan Darren dan menggenggamnya. "Karena kita tidak bisa menganggap orang itu buruk hanya melihat dari penampilannya saja. Buktinya benci yang kamu tujukan padaku kini menjadi cinta," ucapnya.


"Ada yang pernah bilang. Katanya benci yang terlalu bisa berubah menjadi cinta dan ternyata karma itu memang benar adanya. Sekarang aku sangat mencintai kamu Maisya Melanie," ucap Darren.


"Udah-udah. Gombalnya jangan dilanjutkan, aye kangen sama pasar rasanya kayak ada yang hilang kalau aye gak ke pasar sehari saja," ucap Mei yang sudah ingin pergi ke pasar padahal dirinya baru menikah selain itu juga dirinya setiap hari ke pasar tapi tatap saja rindu dengan suasana pasar yang ramai itu.


"Kangen suasana pasar atau kangen para pedagang jomblo yang sukanya merayu kamu?" tanya Darren.


"Mana ada yang berani merayu aye. Selama ini hanya kamu yang berani merayu aye," jelas Mei.


"Bisa aja ngelesnya. Buktinya banyak laki-laki yang mengejar kamu, ingin menjadikan kamu istrinya," ucap Darren sembari mencubit hidung Mei.


"Tapi mereka gak ada yang berani merayu aye. Mereka langsung ngajak aye nikah tanpa basa-basi dulu sebelumnya. Beda kalau sama kamu," jelas Mei.


"Makanya kamu mau sama aku ya?" tanya Darren penuh percaya diri.


"Sebenarnya kalau bukan karena Gaby, mungkin sekarang aye nikahnya bukan sama kamu tapi sama si dia yang hampir membuat aye jatuh cinta."


"Karena Gaby? Berarti kamu gak cinta, dong sama aku?" tanya Darren.


"Ya, cintalah kalau kagak, gak mungkin kita nikah. Awalnya karena Gaby yang hampir diculik oleh mamanya," ucap Mei mengingat masa lalu.


Darren tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya. "Maaf ya, waktu itu aku gak tahu yang sebenarnya makanya aku benci banget sama kamu," ucapnya.


"Itu sudah berlalu, sekarang aye sudah membuktikan bahwa aye bukan orang jahat dan satu lagi yang paling penting. Aye berhasil membuat kamu cinta sampai sebucin ini sama aye," ucap Mei dengan senyum lebar selebar bibirnya.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2