
"Assallamuallaikum, selamat malam, Om Tante," ucap Darren pada kedua orang tua Mei yang sedang duduk berdua di teras rumahnya.
"Waalaikumsalam," sahut Rojak dan Saroh berbarengan.
"Om, Tante, Mei nya ada? Saya ingin bertemu dengan dia."
"Ada, masuk dulu Nak," ucap Saroh.
Darren tersenyum ramah lalu mengekor dibelakang Saroh sementara Rojak tetap duduk di tempat semula.
"Duduk dulu, Nyak panggilin Mei nya dulu ya."
"Terimakasih Tante." Darren pun duduk di kursi itu.
"Mei, ada yang mau ketemu elu tuh di depan," ucap Saroh saat sudah berada di dalam kamar Mei.
"Orangnya udah datang?" tanya Mei.
"Udah lu temui dia dulu sana."
"Iya Nyak, aye juga mau keluar ni."
Saroh dan Mei pun berjalan beriringan keluar dari kamar Mei!
Mei duduk di kursi yang berhadapan dengan Darren sedangkan Saroh langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minum untuk tamunya itu.
"Aye belum siap-siap. Aye pikir gak jadi karena kamu gak ada nelpon," ucap Mei.
"Pasti jadi lah, Gaby udah nunggu di restoran bersama Isabella."
"Isabella juga? Kenapa jadi banyakan?"
"Iya, Gaby maunya gitu."
"Ini teh nya, silahkan diminum," ucap Saroh.
"Terimakasih Tante, padahal gak usah repot-repot bikinin minum untuk saya," ucap Darren.
"Gak apa-apa, gak repot kok." Saroh pun kembali ke dapur untuk menaruh nampan!
"Kalau gitu kamu minum aja dulu teh nya, aye mau ganti baju dulu."
Darren mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Lah kok kamu sendirian. Mei nya mana?" tanya Rojak yang baru masuk ke dalam rumahnya setelah mencari udara segar didepan rumahnya.
"Mei lagi di kamarnya Om."
Rojak pun duduk di sana untuk menemani Darren sebelum Mei datang ke ruangan itu.
__ADS_1
"Om, aku mau izin untuk ngajak Mei makan malam," ucap Darren setelah Rojak duduk bersamanya.
"Kamu siapanya Mei?"
"Saya temannya Mei, sebenarnya saya tidak begitu dekat dengan Mei. Anak saya Gaby yang meminta Mei menemaninya makan malam," jelas Darren.
"Anak? Kamu udah punya anak, lalu istri kamu kemana?"
"Istri saya pergi setelah melahirkan Gaby dan sampai saat ini anak saya tidak mengenali Mamanya."
"Jadi kamu dengan istri kamu udah bercerai?"
Darren tak menjawab, dia menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling meremas jarinya.
"Maaf ya, bukannya Babeh ingin tahu urusan pribadi kamu tapi yang mau kamu ajak pergi ini kan anak Babeh, Babeh hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada anak Babeh. Bagaimana kalau ada yang bilang anak Babeh ini pelakor? Sekarang kan zamannya pelakor."
"Kami sudah bercerai semenjak Gaby lahir jadi Om gak usah takut."
"Lagi pada ngobrolin apa?" tanya Mei yang sudah mengganti pakaiannya.
"Kagak ada, Babeh cuma nemenin tamu lu sebentar."
"Beh, aye mau pergi sebentar, boleh kagak?"
"Ya lu udah cantik gini masa mau gue larang nanti kalau gue larang lu malah ngamuk lagi."
"Boleh. Boleh kok, udah lu pergi aja."
"Terimakasih Beh."
*******
Di sebuah restoran mewah.
"Gaby, kamu makan sama Tante aja di sini biarkan Papa makan sama Tante Mei ya," ucap Isabella.
"Kenapa?"
"Biar Tante Mei beneran jadi Mama kamu. Kamu mau kan Tante Mei jadi Mama kamu?"
"Iya, mau banget."
"Kalau gitu kalau nanti Papa dan Tante Mei datang dan udah pesan makanan, kamu minta kita pindah tempat duduk ya biar Papa sama Tante Mei makan berdua aja."
"Siap Tante."
**********
Di kediaman Mario.
__ADS_1
"Mario kapan kamu mau ketemu lagi sama Mei?" tanya Romli.
"Gak tahu lah Pa. Baru juga kemarin ketemu masa ngajak ketemu lagi."
"Sebenarnya lu suka gak sama Mei?"
"Suka. Siapa yang gak suka sama cewek cantik, baik lagi."
"Lah terus kenapa kamu nyantai-nyantai aja dimari. Ya ajak dia jalan kek, ajak dia belanja kek biar dia juga suka sama kamu."
"Belanja? Emang anak gadis mau belanja apa?"
"Biasanya kan perempuan sukanya belanja tas, baju, sepatu dan banyak lagi."
"Nggak Pa, Mei itu beda dari perempuan kebanyakan. Dia itu gadis tomboi gaya berpakaiannya aja kayak laki-laki, tingkah lakunya beda sama perempuan lainnya."
"Terus gimana dia tahu kamu suka sama dia kalau kamu gak menunjukkan rasa kamu itu?"
"Aku juga bingung gimana caranya mendekati dia secara dia itu ... ah pokoknya Papa gak akan ngerti deh."
"Papa telpon nih Babehnya si Mei dan langsung lamar anaknya buat kamu." Romli memainkan ponselnya lalu langsung menelpon Rojak.
"Pa, Pa jangan dong. Pa matiin telponnya."
Romli tak menghiraukan perkataan Mario, dia terus melanjutkan telponnya yang masih belum tersambung.
*******
Di rumah Rojak.
[Halo Romli, tumben lu nelpon malam-malam.] Rojak menerima telpon dari temannya itu dan langsung bertanya pada temannya.
*******
[Ini gue mau tanya, anak lu ada gak?]
Mario terus menyuruh Romli membatalkan apa yang akan dia bicarakan dengan Rojak ditelpon itu dengan menggunakan bahasa isyarat agar suaranya tak terdengar oleh Rojak.
[Mei baru aja pergi sama temannya] ucap Rojak dari sebrang telpon.
[Laki atau perempuan temannya anak lu itu?]
[Laki.]
Mario pun tertegun setelah mendengar teman yang pergi bersama Mei adalah laki-laki.
Bersambung
__ADS_1