
Di dalam rumah. Hengky berusaha mengejar Mei meski dirinya merasakan kesakitan. Dengan langkah kaki yang pincang, dia keluar dari kamar itu.
"Pak, Anda sedang terluka istirahat saja dulu," ucap asisten rumah tangganya yang membantunya.
"Ke mana istri saya pergi?" tanya Hengky dengan suara keras.
"Maaf, Pak. Istri, Anda kabur. Tadi pintu sedang terbuka karena saya sedang membuang sampah ke depan dan tanpa saya ketahui ternyata istri, Bapak sudah pergi dengan menumpang kendaraan bermotor yang kebetulan lewat," jelas asisten rumah tangga yang tadi menolong Mei.
Dia sengaja berbohong demi menyelamatkan Mei. Mereka memang tak mengenal Mei. Mereka membantu Mei karena tak tega dinikahi secara paksa, sebagai seorang perempuan tentunya mereka mempunyai rasa iba pada sesamanya.
"Sial. Ke arah mana dia pergi?" tanya Hengky sembari mengumpat.
"Dia ke arah sana, Pak. Keluar lewat jalan belalang," jelas asisten rumah tangga itu, berbohong.
Sebenar Mei tidak menumpangi kendaraan apa pun dan dia pergi ke arah depan perumahan itu. Dia berlari sangat kencang dengan tanpa menggunakan alas kaki. Asisten rumah tangga itu ingin memberikan Mei sandal tapi Mei keburu pergi karena takut tertangkap lagi oleh Hengky.
"Awas, kamu Mei. Kamu tidak akan pernah lepas dariku," ucap Hengky sembari berjalan menghampiri mobilnya. Dia hendak menyusul Mei karena tak ingin kehilangan belahan jiwanya untuk yang kedua kalinya.
********
Di tempat lain.
Di sebuah tempat yang sama-sekali tidak pernah Mei datangi. Dia berjalan tanpa arah dan tujuan, dia tidak tahu harus pergi ke mana karena memang dirinya tidak mengenal tempat itu. Di tepi jalan raya, ditengah teriknya matahari yang membakar kulit siapa pun yang berada di luar ruangan. Mei berjalan tanpa menggunakan alas kaki, dengan tangan yang masih terborgol tapi, dia terus berusaha menjauh dari rumah Hengky.
Mei sudah kelelahan tapi, dia tetap berjalan. Lapar dan haus mulai menyerangnya,tapi dia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa. Di sana tidak ada satu orang pun yang perduli padanya dan tidak ada satu orang pun yang merasa iba padanya. Dirinya juga tak mengenal siapa pun di sana yang bisa dia mintai pertolongan.
"Ya Allah, ini di mana? Aye harus ke mana?" gumam Mei sambil terus berjalan.
Beberapa orang yang melintasi di sana, menatap Mei dengan tatapan heran. Mungkin mereka berpikir bahwa Mei adalah seorang penjahat yang melarikan diri dari kejaran polisi karena kondisi tangannya yang diborgol. Mungkin juga ada yang berpikir bahwa dirinya adalah orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa. Bagaimana tidak disangka gila? Penampilannya acak-acakan, dirinya memakai kebaya dan berdandan lengkap seperti pengantin yang akan melangsungkan pernikahan hari ini, tapi dirinya juga terborgol.
__ADS_1
"Kantor polisi ... ya, aye harus ke kantor polisi, tapi di mana kantor polisinya?" gumam Mei setelah ingat dengan polisi. Dirinya harus melaporkan kasus yang menimpanya pada kepolisian agar dirinya bisa pulang dan berkumpul bersama keluarganya.
*******
Di kota tempat keluarga Mei tinggal.
Di kediaman Darren.
Darren sedang bersiap karena dia akan pergi ke luar kota sekarang juga. Dia akan ikut bersama petugas kepolisian untuk menjemput Mei yang belum diketahui keberadaannya. Sebenarnya, Polisi memintanya untuk tidak ikut tapi dirinya memaksa, dirinya berjanji tidak akan mengganggu pekerjaan mereka, dirinya akan pergi sendiri ke tempat yang berbeda dengan para polisi itu, dirinya hanya ingin menjemput istrinya secara langsung dan bukan polisi yang menyerahkan istrinya padanya.
"Darren, kamu hati-hati di sana ya. Bisa saja penjahat itu sangat berbahaya," ucap Bu Aryanti pada Darren.
"Iya, Darren. Kita tidak tahu penjahat itu sebenarnya menginginkan apa, jangan sampai dia juga mengincar nyawamu," ucap Bu Sarah yang merasa khawatir pada Darren.
"Iya, Mam, Nek. Aku di sana bersama polisi yang siap melindungi aku. Kalian di sini doakan semoga Mei cepat ditemukan," ucap Darren sembari berjalan ke luar rumah dengan menyeret kopernya.
"Pa, bawa mama pulang secepatnya ya. Aku sudah kangen sama mama," ucap Gaby pada Darren.
*******
Di kediaman Babeh Rojak.
Di rumah itu, kedua orang tua Mei sangat khawatir, bahkan Nyak Saroh belum berhenti menangis sejak kemarin. Mereka semua berkumpul di ruang depan, di sana ada adik-adiknya Mei dan juga tiga teman Mei yang setia dan selalu perhatian pada Mei.
"Nyak, Beh. Jangan terlalu dipikirin, sekarang Bang Darren bersama polisi sedang menyusul Mei ke luar kota. Di sana mereka juga akan dibantu oleh petugas kepolisian sana, Nyak sama Babeh jangan bersedih lagi," ucap Karen pada Nyak Saroh dan Babeh Rojak.
"Gimana, gue kagak sedih. Anak gue satu-satunya hilang dan sampai sekarang belum ketemu," ucap Nyak Saroh sambil terus menangis.
"Nyak, sekarang polisi sedang berusaha. Kita doakan saja semoga Mei cepat ditemukan dan penjahatnya juga ketangkap," ucap Dion.
__ADS_1
"Dion benar, Nyak. Kita doakan semoga Mei selamat biar bisa pulang dan berkumpul lagi di mari bersama-sama kita," ucap Joni.
"Jangan nangis mulu, nanti yang ada, Nyak sakit lagi," ucap Babeh Rojak sembari mengelus punggung sang istri.
*********
Di tempat lain.
Anak buahnya Satya baru selesai melakukan investigasi, mereka juga mengetahui bahwa Mei dibawa kabur oleh seseorang dan kini mereka tengah bersiap untuk pergi ke luar kota. Mereka akan mencari Mei sampai dapat.
"Kalian yakin, Mei dibawa kabur ke luar kota?" tanya Satya pada salah satu anak buahnya.
"Yakin, Pak. Kami juga melihat ada seorang perempuan yang terlibat dalam penculikan itu," sahut salah satu anak buah Satya.
"Kita urus para penculik itu nanti. Sekarang yang terpenting adalah Mei. Temukan Mei terlebih dahulu, saya takut penculik itu melakukan sesuatu pada Mei," jelas Satya.
"Siap, Pak. Kami sudah siap untuk pergi."
Tanpa berucap lagi. Satya segera melangkah menghampiri mobilnya, baru dia akan naik ke mobilnya, tiba-tiba Bu Widya memanggilnya.
"Satya!"
Satya menghentikan gerakan kakinya yang hendak menaiki mobilnya lalu menoleh ke arah sang ibu. Iya, Mam. Ada apa?" tanyanya.
"Kamu yakin, akan pergi? Kamu belum tahu siapa gadis itu. Bagaimana kalau ternyata dia sudah memiliki suami? Mama takut kamu kecewa," ucap Bu Widya.
"Aku yakin, Ma. Bagaimana pun hasil akhirnya, aku pasti akan menerima. Syukur-syukur dia masih sendiri," sahut Satya yang memiliki harapan besar untuk bersama-sama dengan Mei. Dia pun langsung menaiki mobilnya dan seorang bodyguardnya pun langsung melajukan mobil itu dengan perlahan.
Bu Widya masih berdiri di sana sambil menatap mobil Satya. Dirinya belum pernah melihat putranya memperjuangkan seorang wanita sampai seperti itu. Dirinya takut anaknya itu akan kecewa, mengingat mereka belum tahu tentang Mei dan juga tidak tahu siapa sebenarnya Mei itu.
__ADS_1
Bersambung