
Darren menatap Mei lalu menghampirinya!
"Sakit ya?" tanyanya sembari menyentuh leher Mei yang terluka.
"Sedikit."
"Lain kali jangan bertindak sendiri, mintalah bantuan dari petugas keamanan atau orang di sekitar kamu."
"Aye kagak apa-apa kok. Jangan khawatir."
"Gimana aku gak khawatir kalau keadaan kamu seperti ini."
"Aye baik-baik aja."
"Baik dari mana hah? Kamu gak sadar apa ini apa? Selang ini apa? Ini tuh tandanya karena kamu sudah lemah."
Mei terdiam karena Darren berucap dengan nada bicaranya yang sedikit dinaikkan.
"Kamu tahu gak, kalau kamu kenapa-kenapa aku bisa gila, aku tuh sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku gak siap dan gak akan siap kehilangan kamu."
"Ini duda sebenarnya lagi marah atau lagi ngebucin sih atau dia sedang ngegombal?" ucap Mei didalam hatinya.
"Dengar, lain kali jangan gini lagi ya, jangan terluka lagi ya."
"Iya, maaf kalau aye sudah membuat kamu khawatir."
Darren menatap Mei lalu mencium keningnya dengan lembut. Setelah itu Darren duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit tempat Mei terbaring.
"Oh ternyata gini ya rasanya dicium sama orang yang dicintai," ucap Mei masih dalam hatinya.
"Istirahatlah agar kamu bisa cepat sembuh dan agar aku bisa cepat menikahi kamu."
Mei tersenyum tipis lalu menutup matanya. Setelah kurang lebih sepuluh menit Mei terpejam, dia membuka matanya dan langsung mendapati Darren yang masih menatapnya.
"Kenapa bangun lagi? Cepat tidur, kamu harus istirahat."
"Kamu juga tidur."
"Aku belum ngantuk, aku akan tidur sebentar lagi."
"Aye mau ke toilet. Apa boleh?"
__ADS_1
"Tentu saja, ayo aku bantu kamu berjalan."
Mei mulai bangkit dari tempatnya lalu mulai berjalan.
Dengan dibantu oleh Darren Mei berjalan perlahan menuju kamar mandi!
"Sampai sini aja," ucap Mei saat tiba di depan pintu kamar mandi.
"Gak sampai ke dalam?"
"Kamu mau lihat aku ... dasar kamu ya bisanya cari kesempatan mulu."
"B_bukan gitu Mei, aku cuma khawatir kamu gak bisa jalan sampai sana."
"Bisa kok. Kamu jangan khawatir." Mei melepaskan tangan Darren yang masih melingkar di pundaknya!
"Kalau kamu memang khawatir, tunggu aku di sini ya." Mei masuk ke dalam kamar mandi itu lalu menutup pintunya dengan rapat.
*******
"Bang, aye kok khawatir banget sama Mei ya. Aye nyesel tadi malah pulang," ucap Saroh pada Rojak.
Malam semakin larut tapi Saroh dan Rojak belum tertidur karena mengkhawatirkan Mei yang dirawat dengan hanya ditemani oleh Darren saja.
"Terserah Abang aja, yang pasti aye khawatir sama Mei."
"Kalau mau ke rumah sakit lagi, ayo. Abang juga khawatir sama anak kita."
"Ya udah ayo Bang."
Saroh dan Rojak pun memilih pergi ke rumah sakit lagi karena terlalu khawatir terhadap Mei.
*******
Waktu berjalan begitu cepat, kini bulan mulai berganti dengan matahari.
Darren tertidur dengan posisi duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit dengan menjadikan ranjang rumah sakit itu sebagai penopang kepalanya.
Di luar ruangan tempat Mei dirawat, Saroh dan Rojak juga tertidur di kursi ruang tunggu.
Semalam waktu mereka tiba di depan pintu ruangan rawat Mei, mereka melihat Mei sudah tertidur dan Darren juga sudah tertidur di samping ranjang rumah sakit yang Mei tiduri, akhirnya mereka mengurungkan niat mereka untuk menghampiri Mei dan membiarkan mereka beristirahat.
__ADS_1
Mei mengerjapkan matanya kala merasa ada sesuatu yang menindih tangannya. Dia pun membuka matanya dan melihat Darren yang masih tertidur.
"Darren pasti lelah setelah semalaman menjaga aye," ucap Mei didalam hatinya.
Tak lama Darren terbangun dan mengangkat kepalanya.
"Mei, kamu sudah bangun. Maaf, aku ketiduran."
"Gak apa-apa, kalau masih ngantuk tidur aja lagi."
"Lu udah bangun Mei," ucap Rojak yang baru membuka pintu ruangan itu.
"Babeh, Nyak, pagi-pagi udah ke sini aja."
"Dari semalam Nyak sama Babeh kemari tapi karena lu udah tidur jadinya kita nunggu di luar."
"Kenapa gak masuk aja?"
"Nyak sama Babeh takut mengganggu istirahat kalian."
Saat mereka mengobrol, datang seorang Dokter dan seorang suster yang hendak memeriksa keadaan Mei.
"Permisi, saya mau cek kondisi pasien dulu," ucap Dokter itu.
"Silahkan Dok." Rojak memberi tempat untuk Dokter itu memeriksa kondisi Mei.
Dokter itu pun mulai memeriksa keadaan Mei, setelah selesai Dokter itu meminta suster untuk melepas selang infus yang masih terpasang ditangan Mei.
"Pasien sudah pulih, jadi bisa pulang hari ini juga," jelas Dokter itu.
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
"Tapi luka di lehernya belum kering, ada perawatan khusus untuk menjaga agar lukanya cepat kering. Nanti saya kasih tahu caranya."
"Baik, Dokter. Terimakasih banyak ya Dok," ucap Darren.
Dokter itu pun langsung pergi dari ruangan itu.
"Ibu tolong ikut saya ke ruangan saya ya, saya akan buatkan resep obat untuk nantinya Ibu tebus di apotek dan juga saya akan menjelaskan bagaimana cara membersihkan luka yang terdapat pada leher pasien."
Saroh segera mengikuti langkah Dokter itu sedangkan Darren dan Rojak tetap terdiam di ruangan itu menunggu suster itu selesai dengan semua urusannya.
__ADS_1
Bersambung