Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 26


__ADS_3

"Makan dulu dah kalian," ucap Mei pada anak-anak asuhnya.


"Kakak udah makan belum?" tanya Niki.


"Belum, kakak lagi males makan."


"Kenapa? Nanti kakak sakit," ucap Bayu.


"Kakak lagi diet, biar gak gemuk."


"Padahal gemuk juga masih cantik," ucap Amel.


"Iya, cantik banget malah," sambung Alif.


"Udah ah, kalian gak akan ngerti urusan orang dewasa. Makan tuh nanti keburu dingin nasinya." Mei duduk sambil menatap anak-anak asuhnya itu.


Mereka pun mulai menyentuh nasi yang dibawakan oleh Mei itu.


Di tempat yang lumayan jauh dari Mei dan anak-anak itu berada, Darren berdiri dibalik sebuah gubug sambil sesekali mengintip apa yang dilakukan Mei di gubug yang menurutnya tidak layak untuk dihuni itu.


"Jadi selain ngajarin mereka menulis dan membaca, Mei juga ngasih makan mereka. Pantas dia gak pernah mau diajak pergi di siang hari," ucap Darren didalam hatinya.


Darren terus memperhatikan Mei yang sedang bercanda bersama dengan anak-anak itu.


"Mas permisi, saya mau masuk rumah saya," ucap seorang wanita paruh baya pada Darren.


Saat itu Darren memang berdiri tepat didepan pintu gubug itu, tanpa dia sadari ternyata sang pemilik ingin masuk dan dari tadi memperhatikan dirinya.


"Oh, maaf Bu, silahkan." Darren pun menyingkir dari sana untuk memberi jalan pada ibu itu.


"Lagi ngapain Mas? Ngintipin mereka ya?"

__ADS_1


Jiwa kepo ibu itupun meronta saat tahu Darren sedang memperhatikan Mei dan anak-anak itu.


"Nggak kok, saya cuma ingin tahu anak-anak itu tinggal dimana karena saya sering melihat mereka ngamen di jalanan."


"Oh, mereka memang suka ngamen Mas, untuk jajan karena mereka kan tidak punya orang tua."


"Orang tua mereka kemana?"


"Meninggal. Untungnya ada Neng Mei yang perduli sama mereka."


"Gadis itu siapa Bu?"


"Itu Neng Mei, dia baik sekali sama mereka bahkan sama kami juga dia baik. Neng Mei lah yang ngasih makan mereka setiap harinya padahal dia cuma kerja sebagai penjaga keamanan di pasar tapi dia mampu memberikan mereka makan setiap harinya."


"Oh gitu ya Bu, ya udah ya Bu kalau gitu saya permisi. Saya udah tahu tempat tinggal mereka nanti saya ke sini lagi kalau ada waktu. Saya titip ini ya buat mereka." Darren memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah pada ibu itu.


"Oh iya Mas, terimakasih ya."


*******


"Gaby, kamu dari mana?" tanya Isabella.


"Abis ketemu sama Mama aku dong," sahut Gaby dengan gembira.


"Mama? Papa kamu mana?"


"Tadi aku dijemput Pak Kardi karena Papa ada urusan katanya."


"Oh, masuk yuk."


Isabella pun menggandeng Gaby dan membawanya masuk ke dalam rumahnya!

__ADS_1


"Oh ya sayang, Mama kamu seperti apa?" tanya Isabella penasaran.


Selama ini Darren tidak pernah mengajak Gaby bertemu dengan Joanna karena memang Darren tidak mengetahui wanita itu berada di mana.


Saat mendengar penuturan Gaby barusan, Bella merasa penasaran, mungkinkah Darren sudah mengetahui tempat tinggal Joanna?


"Cantik, rambutnya panjang, kulitnya putih. Pokoknya cantik deh."


"Siapa namanya?"


"Mama Mei, iya namanya Mei."


Bella menghentikan langkahnya lalu berlutut dihadapan Gaby!


"Mei yang pernah ke sini itu? Mei yang baik itu?"


"Iya, Mei siapa lagi, emang ada berapa Mei yang kita kenal?"


Bella tersenyum sumringah lalu kembali mengajak Gaby berjalan menuju ruang keluarga.


"Jadi deh liburan ke luar negeri dengan menggunakan uang kak Darren. Yes! Yes! Yes!" ucap Bella didalam hatinya.


*******


"Preman pasar itu keterlaluan, masa seharian ini dia membuat aku kagum berat sama dia. Senyuman nya manis banget lagi pas dia senyum pada tuh anak-anak."


Darren menggerutu sendiri saat sedang menyetir mobilnya.


"Astaga sepertinya racun preman pasar itu sudah menyebar dalam otak aku sehingga aku gak bisa lupa sama senyumannya, sama ocehannya, sama gayanya berbicara oh astaga apa yang harus aku lakukan? Mungkinkah dia calon Mama Gaby yang sesungguhnya?"


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2