Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 93


__ADS_3

Sementara Darren dan keluarga sedang berbahagia, lain halnya dengan Satya yang merasa patah hati karena harus berpisah dengan Mei padahal dirinya belum puas mengobrol dengannya. Meski begitu, kebersamaannya dengan Mei beberapa jam lalu berhasil mengobati rasa rindunya pada Mei dan dirinya semakin semangat memperjuangkan cintanya terhadap perempuan yang sudah dimiliki oleh orang lain.


Siang ini di sebuah kafe. Satya baru tiba di salah satu kafe yang terdapat tidak jauh dari kantornya. Dirinya ingin bersantai sebentar sebelum kembali ke kantor untuk melakukan pekerjaannya lagi. Dia berjalan memasuki kafe itu, tak sengaja dia melihat seorang perempuan yang sedang menatap sebuah foto. Dalam foto itu ada dirinya yang sedang dipeluk oleh Darren, dalam foto itu, mereka terlihat begitu mesra seperti orang yang memiliki hubungan percintaan.


Satya tak ingin ikut campur urusan orang lain. Dia melanjutkan langkahnya lalu duduk di kursi yang terdapat di belakang perempuan itu. Dia langsung memesan kopi lalu duduk santai sembari memainkannya ponselnya.


Hampir setengah jam, dirinya di sana. Akhirnya dia merasa bosan dan memilih pergi, Helmy pasti sudah menunggunya di kantor. Dia pun beranjak dari duduknya dan keluar dari kafe itu.


"Aaah! Sial! Kurang ajar kamu Mei!"


Saat hendak masuk ke dalam mobilnya. Langkahnya terhenti kala mendengar suara teriakan seorang wanita dan menyebutkan nama Mei dalam kata-katanya. Satya kembali menutup pintu mobilnya lalu berjalan menghampiri seorang wanita yang sedang berjalan tanpa arah.


Joanna. Ya, Joanna lah perempuan yang dilihat oleh Satya. Perempuan itu sudah seperti orang stress saja, memang. Berteriak di depan umum bahkan dirinya tak perduli dengan orang-orang yang menatapnya setelah dirinya berteriak tadi.


"Permisi!" seru Satya sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Joanna.


"Siapa kamu? Kalau kamu hanya ingin mengejek saya, lebih baik kamu pergi!" titah Joanna sambil terus berjalan.


"Saya mendengar mendengar kamu mengumpat dengan menyebutkan nama Mei di dalamnya. Apa yang kamu maksud itu Maisya Melanie? Istri dari seorang pengusaha sukses bernama Darren Imanuel," ucap Satya yang berhasil membuat Joanna menghentikan langkahnya.


Joanna berdiri di tempat semula, dia menatap laki-laki di depannya dengan tatapan aneh. "Siapa kamu? Kamu mengenal mereka?" tanya Joanna.


"Tadi di dalam kafe, saya melihat kamu menatap sebuah foto yang di dalamnya ada kamu sedang dipeluk oleh Pak Darren. Apa kamu selingkuhannya Pak Darren?" tanya Satya to the poin.


"Jangan sembarangan kamu ya kalau bicara." Joanna menatap Satya dengan tatapan tajam. Dia tak terim dirinya dituduh seperti itu oleh orang yang sama sekali tidak dia kenal.


"Sorry, bukan maksud aku untuk menyinggung perasaan kamu, tapi kalau itu benar. Kita bisa bekerjasama untuk memisahkan mereka. Saya ingin Mei menjadi milik saya," jelas Satya.


"Kamu serius?" Joanna menatap mata Satya lagi.


Sebuah senyuman terukir di bibir Satya. Laki-laki tampan itu mengangguk mengiyakan pertanyaan perempuan yang dia sendiri tidak tahu namanya siapa. Joanna mengulas senyum di bibirnya lalu menggerakkan tangannya mengajak Satya berjabat tangan sebagai tanda dirinya setuju dengan tawaran Satya untuk bekerjasama.


"Nama saya Joanna," ucap Joanna saat Satya sudah menjabat tangannya.

__ADS_1


"Saya Satya," sahut Satya.


"Bisa bicara sebentar? Agar kita lebih kenal dan saya juga tahu apa yang kamu inginkan dari mereka," ucap Satya.


Joanna mengangguk, lalu duduk di sebuah kursi yang ada di tempat itu. "Saya ini mantan istrinya Darren. Sebenarnya saya hanya ingin anak saya dan ingin keluarga itu hancur," jelas Joanna.


Satya masih terdiam. Dia mencoba mencerna perkataan Joanna barusan. Sedetik kemudian Joanna berucap lagi.


"Saya baru keluar dari penjara dan Darren lah yang memasukkan saya ke sana. Saya ingin balas dendam, saya tidak mau mereka bahagia," lanjut Joanna.


"Kamu tidak ingin bersama lagi dengan Darren? Apa kamu sudah tidak mencintainya lagi?" tanya Satya.


"Dia sudah tidak mungkin mau lagi dengan saya."


"Oke. Apa pun tujuannya kamu kita tetap bekerja sama. Aturannya, kamu tidak boleh membuat Mei terluka fisiknya karena saya mencintainya," jelas Satya.


"Oke. Sekarang rencana apa yang akan kita lakukan untuk awal kerja sama kita?" tanya Joanna.


********


Mei baru saja tiba di sana untuk mengantarkan Alif dan Amel setelah diajaknya makan siang di sebuah restoran. Amel dan Alif sedang asyik membuka belanjaan mereka sedangkan Mei, kini berada di teras rumahnya.


"Kenapa, Lu yang nganterin mereka pulang?" tanya Nyak Saroh.


"Iya, Nyak. Emang siapa yang mau nganterin mereka pulang?" Mei bertanya balik.


"Tadi pagi, 'kan si Satya yang minta izin buat ngajak mereka pergi. Lah kenapa sekarang, lu yang nganterin mereka pulang?"


"Nyak udah kenal sama Satya?" Mei menatap sang ibu tak percaya.


"Kalau gak ada yang minta izin buat ngajak mereka pergi. Kagak mungkin udah siang mereka gak pulang terus Nyak cuma diam dan gak mencari mereka," jelas Nyak Saroh.


Mei nyengir. Memang benar yang dikatakan oleh sang ibu, tidak mungkin tidak ada yang mencari mereka saat dia anak itu pulang terlambat. "Kok, mereka bisa kenal sama Satya. Ceritanya bagaimana?" tanya Mei.

__ADS_1


"Sekitar sebulan lalu. Sebulan lebih deh, tuh anak-anak ketinggalan mobil jemputannya kebetulan Babeh juga gak jemput, tiba-tiba mereka pulang diantar Satya itu," jelas Nyak Saroh.


"Berarti tuh, anak gak bohong," ucap Mei bergumam.


"Ape? Lu bilang ape, Mei? Nyak kagak dengar," ucap Nyak Saroh sembari mendekatkan taringnya pada Mei.


"Kagak apa, Nyak. Dahlah, aye pamit dulu, aye kudu kerja lagi," ucap Mei sembari beranjak dari tempat duduknya. Dia langsung mencium punggung tangan Nyak Saroh lalu mulai pergi.


*******


Di kantor Darren.


"Kak!" ucap Bella dengan suara sedikit tinggi.


"Hmm. Pelan-pelan aja kali. Jangan kayak orang ngajak ribut gitu bicaranya," ucap Darren yang terus fokus pada laptopnya.


"Menurut kakak, Mario gimana?" tanyanya yang tak ingin bicara di rumah karena ada orang tua mereka di sana.


"Gimana, apanya?" Darren malah bertanya balik.


"Maksudnya dia baik gak, menurut kakak. Aku cinta sama dia dan tadi dia bilang mau melamar aku," jelas Bella yang saat ini sudah duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Darren.


"Kamu yang merupakan jalani hubungan sama dia, pastinya kamu lebih tahu bagaimana dia. Kalau menurut kakak, dia itu baik karena gak mungkin orang tuanya Mei memilih dia untuk menjadi jadi suami Mei," jelas Darren.


"Kok gitu? Maksudnya gimana?" Bella menatap Darren penuh tanya.


"Dulu mereka pernah dijodohkan, tapi gak jadi nikah karena Mei lebih memilih kakak," jelas Darren.


"Berarti, boleh ya? Kalau boleh, bulan depan Mario mau datang bersama orang tuanya."


"Datang saja. Bicara dengan papa, mama."


Bella memang sangat dekat dengan Darren. Apa pun yang ada dalam pikirannya, dia pasti bicara terlebih dahulu dengan Darren. Sebelum melibatkan orang tuanya, dia pasti bicara pada Darren terlebih dahulu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2