
Darren mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang!
Setelah berjalan beberapa menit dan sudah memasuki jalan raya, Darren menaikkan kecepatan laju motornya sehingga membuat Mei yang dibonceng nya terkejut.
Untuk menjaga dirinya agar tak terjatuh, refleks Mei memeluk Darren dengan erat.
"Gila kamu. Sengaja ya mau bikin aye jatuh," ujar Mei sambil terus memeluk Darren.
"Nggak lah, masa aku mau mencelakai calon istri aku."
"Turunin kecepatannya gak! Aye takut jatuh."
"Gak bakal jatuh sayang, kamu kan megangin aku."
"Dasar duda nyebelin. Bisa-bisanya curi kesempatan."
"Hei preman cantik. Kita kan mau nikah, latihan meluk dulu lah."
"Dasar duda mesum. Awas nanti beneran aye jewer nih kupingnya."
"Jangan dong sayang nanti aku cacat gimana?"
"Bodoamat. Tinggal nyari laki yang masih bujang."
Ciiit!
Suara ban motor yang ngerem mendadak.
Tiba-tiba Darren mengerem motornya setelah mendengar perkataan Mei barusan.
Plak!
Mei memukul punggung Darren dengan sedikit keras.
"Kamu apa-apaan sih, kalau ngerem pelan-pelan dong."
"Aduh! Belum nikah udah KDRT kamu Mei. Sakit tahu."
"Makanya kalau ngerem sedikit-sedikit, aku juga sakit."
"Apanya yang sakit? Perasaan gak ada yang kebentur."
"Gak kebentur pala lu, dada gue sakit bambang," ucap Mei didalam hatinya.
Sengaja Mei berucap didalam hatinya karena tak ingin membuat Darren memikirkan yang tidak-tidak saat tahu bagian mana yang sakit.
"Malah diam, apanya yang sakit?"
"Gak ada." Mei turun dari motornya! "Udah aye aja yang bawa motornya," sambung Mei.
"Kamu gak akan dendam kan?"
"Kagak, cepat turun! Lagian gimana cara dendamnya yang ada kamu yang untung."
Darren nyengir kuda lalu segera turun dari motornya!
"Ya udah kalau mau kamu begitu. Aku ikut aja apa kata my Princess."
Mei segera menaiki motornya lalu mulai melaju setelah Darren duduk di belakangnya!
Perlahan tapi pastikan, sedikit demi sedikit Darren mulai berani memeluk Mei, dia melingkarkan tangannya di perut Mei dan menyandarkan kepalanya di pundak Mei.
"Apaan sih, jangan gitu dong." Mei menggeliat agar Darren merubah posisinya.
__ADS_1
Tapi bukannya melepaskan pelukannya dari Mei, Darren malah semakin mengeratkan tangannya di perut Mei.
"Astaga, nyesel aye pacaran sama duda. Ternyata mereka lebih agresif daripada bujang," batin Mei.
Mei menghentikan motornya karena memang sudah sampai didekat pasar tempat biasa Mei bekerja.
"Kita putus aja yuk," ucap Mei setelah turun dari motornya.
"Jangan dong, baru juga jadian masa udah putus."
"Aye mau kerja, sekarang kamu pulang sana." Mei langsung meninggalkan Darren di tepi jalan sedangkan dia pergi dengan membawa motornya.
Darren hanya bisa terdiam dengan posisi berdiri sambil menatap kepergian Mei.
"Beda, kamu memang beda dari yang lain. Aku gak akan melepaskan kamu sebelum ajal yang memisahkan kita." Sebuah senyuman terukir di bibir Darren dan setelah beberapa lama dirinya langsung berjalan mengikuti Mei dari kejauhan.
*******
"Nih fotonya dan dibelakangnya ada alamat cewek itu!" Joanna memberikan foto Mei pada dua orang laki-laki yang sedang bersamanya.
"Buat dia gak berani lagi untuk mendekati Darren. Kalau kalian berhasil, lima juta akan jadi milik kalian," sambung Joanna.
Dua laki-laki itu melihat foto itu lalu tertawa meremehkan orang yang mereka lihat dalam foto tersebut.
"Kamu tenang saja. Cewek ini gak bakal berani mendekati pacar kamu lagi," ucap salah satu dari laki-laki itu.
"Bagus kalau gitu. Lakukan pekerjaan kalian dengan baik, ini uang mukanya!" Joanna memberikan lembaran uang kertas berwarna merah dan biru pada mereka.
"Setelah kalian berhasil, aku akan kirim sisanya."
"Oke. Hari ini juga kami akan bekerja."
"Aku tunggu kabar dari kalian ya."
*******
"Kak Darren kemana?" tanya Bella.
"Gak tahu, tadi sebelum subuh dia udah pergi."
"Kemana ya?"
"Gak tahu Bella, lagian kamu mau apa? Biarkan kakakmu melakukan apa yang ingin dia lakukan. Selama itu tidak merugikan dirinya dan orang lain apa salahnya," ucap Sarah.
"Aku tahu Nek tapi sekarang udah tanggal berapa, aku belum dikasih uang jajan."
"Kamu kayak gak persen dikasih uang jajan aja sama Papa sama Mama," ucap Wiliam.
"Dari Papa Mama beda lah sama dari kakak."
**********
"Cinta, aku tunggu di sini ya, setelah kamu selesai kita sarapan bersama," ucap Darren pada Mei.
"Hah cinta? Udah jadian, kapan?" ucap Karen.
"Kamu ngapain ke sini? Pulang sana."
"Aku mau nemenin pacar aku kerja."
"Idih, ditanya kok gak ada yang jawab. Berasa kayak angin lalu gue, gak dianggap."
"Iya, kita udah jadian semalam," ucap Mei dan Darren bersamaan dengan mata yang menatap Karen.
__ADS_1
"Kompak bener, jadi serius kalian udah jadian?"
"Udah tapi teman kamu ini sangat jual mahal masa meluk doang aku sampai digeplak tadi."
Karen tertawa kecil ambil menatap Darren si duda anak satu itu.
"Untuk cuma digeplak kalau digantung mati lu."
"Mei maaf saya baru ada uang untuk bayar keamanan, ini untuk satu minggu ya," ucap seorang pedagang di pasar itu.
"Pak, kalau gak ada mah kayak apa-apa, bayar yang kemaren aja dulu dua hari sama hari ini satu jadi tiga hari aja."
"Gak apa-apa, mumpung lagi rame."
"Ya udah aye terima ya Pak, terimakasih." Mei meraih uang itu dari tangan Bapak itu.
Orang itu pun langsung pergi meninggalkan Mei di sana.
"Untuk satu minggu? Emang sehari mereka harus bayar berapa, kok untuk satu minggu uangnya cuma segitu?" tanya Darren penasaran.
Melihat uang yang hanya beberapa lembar itu membuat Darren terheran-heran. Kenapa bayarannya sangat sedikit.
"Sehari dua ribu. Kamu mau jualan juga pasar ini?"
"Ya nggak, aku heran aja dia bayar segitu untuk satu minggu. Sedikit banget menurut aku."
"Udah pulang sana! Apa keluarga kamu gak nyariin?"
"Nggak lah, aku kan udah izin sama mereka."
"Jangan pacaran mulu, tuh Bang Reza nyariin kamu," ucap Dion.
"Bang Reza, siapa Bang Reza?" tanya Darren.
"Pacar pertamanya Mei, lu jangan girang dulu diterima sama dia asal lu tahu aja lu dijadikan yang kedua setelah Bang Reza," ucap Joni.
"Serius Mei? Memang Bang Reza itu kurang apa kok kamu nyari selingkuhan?" ucap Darren.
Bukannya marah atau cemburu, Darren malah menjadikan itu sebagai candaan. Darren tahu bahwa Joni tidak serius dalam ucapannya dan juga dirinya tahu kalau Mei tidak akan mungkin melakukan itu.
"Bang Reza kurang apa ya? Sebenarnya gak kurang apa-apa cuma aye nya aja yang mau punya dua pacar sekaligus."
"Satu aja gak bakal habis. Kenapa harus dua?"
"Udah pulang sana. Aye mau kerja oh ya kamu juga harus kerja, aye gak mau ya dikasih mahar sedikit."
"Tenang aja cintaku. Kalau gitu aku pulang dulu tapi nanti siang kita ketemuan ya."
"Gak bisa, aye ada urusan."
"Kamu jangan beli makanan untuk anak-anak ya, biar aku yang beli."
"Serius lah dan kalau ada waktu kita cari rumah yang layak untuk dihuni."
"Rumah buat apa?"
"Buat kita dan anak-anak kita."
"Terserah kamu. Aye mau nemuin Bang Reza dulu." Mei langsung pergi meninggalkan Darren di sana!
"Teman kalian itu emang hebat, dia bisa membuat aku lupa segalanya," ucap Darren sembari menatap punggung Mei.
"Awas aja kalau lu menyakiti dia." Joni mengancam Darren karena tak ingin orang yang dicintainya kecewa dalam cinta.
__ADS_1
Bersambung