Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 69


__ADS_3

Setelah hampir dua puluh menit terjadi perkelahian di sana, akhirnya para penjahat itu berhasil dikalahkan. Satya langsung berlari menghampiri sang ibu yang saat itu sedang duduk di bahu jalan. Dia tidak terlalu menghiraukan orang-orang di sekelilingnya, dia tahu bahwa ada seorang perempuan yang membantunya tapi dia tidak terlalu ingin tahu dulu karena baginya saat ini adalah keselamatan ibunya yang utama.


"Kamu ...." Helmy menatap Mei dengan tangannya yang menunjuk ke arah preman perempuan itu.


"Semua sudah aman. Ibu itu selamat, aye permisi," ucap Mei pada Helmy.


Mei berjalan ke arah belakang untuk menghampiri Gaby yang sedang bersembunyi di balik pohon besar itu. Helmy segera mengejar Mei, mencoba menahan kepergian Mei.


"Tunggu sebentar!" seru Helmy pada Mei.


Mei menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menjadi menghadap Helmy. Dia menatap Helmy tanpa kata, tangannya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Terima kasih. Kamu sudah membantu kami," ucap Helmy.


"Ya, sama-sama. Aye gak bisa melihat orang kesulitan apa lagi tadi ibu itu sudah merasa sesak di dalam mobil," jelas Mei.


"Kamu terluka. Biar saya obati dulu kebetulan di mobil saya ada kota p3k," jelas Helmy.


"Gak usah. Aye baik-baik aja," ucap Mei.


"Nak, terima kasih sudah menyelamatkan saya," ucap Bu Widya yang ternyata menghampiri Mei dan Helmy di sana.


"Mei. Kamu?" ucap Satya setelah melihat wajah Mei.


"Kamu," ucap Mei.


"Terima kasih sudah menolong mamaku," ucap Satya.


"Iya, sama-sama. Lagian udah kewajiban aye sebagai warga masyarakat yang baik untuk membantu orang yang sedang dalam kesulitan," ucap Mei.


"Kalian sudah saling kenal?" ucap Bu Widya.


"Mei yang menolong aku waktu itu," jelas Satya.

__ADS_1


"Oh, syukurlah. Kamu sudah menyelamatkan kami sebanyak dua kali," ucap Bu Widya.


"Maaf, nih ya. Semua sudah selamat 'kam ya? Aye permisi karena ada yang harus dilakukan," ucap Mei.


"Tapi kamu terluka. Apa gak sebaiknya diobati dulu atau ke rumah sakit," ucap Bu Widya.


"Gak usah, Bu. Aye udah biasa luka gini doang mah," ucap Mei dengan senyum di bibirnya lalu mulai pergi.


Bu Widya dan Satya menatap kepergian Mei sedangkan Helmy membantu rekannya yang terluka dan tak mampu terbangun dari sana. Satya semakin dibuat kagum oleh aksi Mei yang selalu berhasil menyelamatkannya dengan aksinya yang luar biasa.


Di jalanan yang lumayan jauh dari sana tapi mereka masih bisa melihat Mei di dari sana. Mei menghampiri Gaby lalu segera memintanya naik ke motornya.


"Gaby, ayo kita pulang! Kamu gak kenapa-kenapa 'kan, Sayang?" tanya Mei.


"Gak apa-apa, Ma. Aku bangga punya mama jagoan kayak mama," ucap Gaby sembari berjalan lalu menaiki motor itu.


"Siap, ya. Ayo kita pergi sekarang!" Mei mulai melajukan motornya melewati Satya dan orang-orangnya.


"Aye duluan ya, Bu," ucap Mei setelah melewati Bu Widya dan Satya.


"Mama bangga padanya. Saat gadis lain berlomba-lomba untuk tampil cantik dan elegan, dia malah berpenampilan biasa bahkan tak memikirkan keselamatan dirinya demi orang lain," gumam Bu Widya.


"Maisya Melanie, biasa dipanggil Mei. Dia petugas keamanan di salah satu pasar yang ada di daerah xxx. Dia cantik, dia baik, dia luar biasa, dia mempunyai jiwa baja dan berhati malaikat, menurut pengetahuanku, dia merawat beberapa anak jalanan, dia menyekolahkan mereka dan sangat memedulikan mereka," jelas Satya.


"Kamu sudah tahu rumahnya di mana? Mama ingin berterima kasih padanya," ucap Bu Widya.


"Tidak. Dia terlalu sulit untuk didekati. Dia tidak seperti gadis pada umumnya," ucap Satya.


"Kamu memang selalu telat dalam urusan perempuan. Kapan mama, mau punya menantu kalau kamu selalu bersikap tidak peduli dengan perempuan," ucap Bu Widya.


Satya memang tipe laki-laki yang tidak terlalu memuja wanita. Dia tidak pernah bersikeras mencari cinta bahkan banyak gadis yang mendekatinya tapi tidak dia respon, baru kali ini dia menyukai seorang gadis yaitu Mei. Baru kali ini dia mempunyai rasa ingin memiliki yang begitu besar terhadap Mei.


*******

__ADS_1


Mei dan Gaby baru tiba di rumahnya. Mei menghentikan motornya dan membiarkan Gaby turun setelah itu baru dia memarkirkan motornya di garasinya. Gaby langsung masuk ke dalam rumah, dia mencium punggung tangan Bu Aryanti dan Bu Sarah secara bergantian lalu setelah itu langsung pergi ke dapur.


"Gaby! Mau ngapain ke dapur, Nak?" tanya Bu Aryanti yang merasa heran karena Gaby langsung ke dapur dan bukannya ke kamarnya.


Tak lama gadis kecil itu tiba dengan membawa saputangan bersih dan baskom kecil yang berisi air. Gaby meletakkannya di atas meja lalu menunggu Mei datang ke sana. Tak lama Mei muncul dari ruangan utama, dia berjalan menghampiri ibu mertuanya itu lalu langsung mencium punggung tangannya.


Gaby bangkit dari duduknya lalu meraih tangan Mei. "Mama, sini. Duduk di sini," ucap Gaby sembari mematahkan Mei agar duduk di kursi itu.


Mei nurut saja pada Gaby. Tanpa penolakan, dia duduk di kursi itu. Bu Aryanti dan Bu Sarah terkejut saat menyadari bahwa Mei menderita luka di bagian sudut bibirnya dan di beberapa anggota tubuhnya yang lain.


"Astaghfirullah, Mei. Kamu kenapa?" tanya Bu Sarah.


"Ya Allah, Mei. Apa yang terjadi sampai kamu seperti ini? Darren bisa kelimpungan melihat kamu penuh luka begini," ucap Bu Aryanti.


"Mama abis menyelamatkan orang yang hampir saja diculik oleh orang-orang jahat," jelas Gaby.


"Mama, hebat makanya sekarang, Gaby mau mengobati luka mama," ucap Gaby lagi.


"Tadi di jalan, gak sengaja liat orang berkelahi. Awalnya aye mau putar balik tapi ada seorang ibu yang disekap di dalam mobil dan ibu itu terlihat sudah sesak di dalam mobil itu, ya udah kejadiannya terjadi begitu saja. Aye menolong ibu itu dan akhirnya aye ikut dalam perkelahian itu tapi aye gak apa-apa, kok," jelas Mei.


"Mama, sakit gak? Gaby lap luka yang berdarah ini juga ya," ucap Gaby sembari terus mengusap luka Mei dengan saputangan basah itu.


"Sebenarnya Mama, bisa sendiri," ucap Mei sembari meraih tangan kecil Gaby.


"Gak apa-apa, Ma. Gaby ingin mengurus Mama," ucap Gaby lagi.


"Aduh, Mei lukanya dalam tuh. Kita ke rumah sakit aja yuk! Mama ngeri melihatnya," ucap Bu Aryanti sembari menatap luka berdarah yang terdapat di lengan Mei.


Tadi memang Mei, terkena pukulan balok kayu yang ternyata ada pakunya dan akhirnya Mei mendapat luka yang lumayan dalam. Namun Mei tidak menganggap luka itu serius baginya hanya luka kecil saja, setelah dibersihkan dengan alkohol dan diteteskan obat luka pasti sembuh. Pikirnya.


"Gak perlu, Ma. Ini cuma luka kecil aja, lukanya juga gak dalam-dalam banget, ini cuma merobek kulit luarnya saja," jelas Mei. Luka itu memang tidak terlalu dalam karena paku yang menonjol pada balok kayu itu juga hanya sedikit. Namun karena Bu Aryanti tidak pernah terluka dan mungkin khawatir pada Mei, jadinya dia menjadi sedikit berlebihan.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2