Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 90


__ADS_3

Satu bulan setelah melakukan pencarian terhadap identitas Mei dan semua yang berhubungan dengan Mei. Kini, Satya mulai melancarkan aksinya.


Siang ini, di pasar tradisional itu.


Satya sengaja datang seorang diri, dia bersama Amel dan Alif. Dia tahu bahwa mereka berdua adalah anak asuhnya Mei sejak mereka masih bayi. Dalam pikirnya, jika dirinya menyayangi mereka, dirinya akan lebih mudah untuk mendekati Mei.


"Amel! Alif!" seru Mei saat melihat dua bocah itu berjalan memasuki pasar.


Amel dan Alif menoleh ke arah Mei. Mereka langsung berlarian menghampiri Mei. Dengan selalu mengulas senyum, mereka terus berlari dan langsung berhamburan memeluk Mei setelah tiba di dekat kayaknya.


"Kakak," ucap Amel dan Alif secara bersamaan.


"Kalian ngapain di mari? Setelah pulang sekolah, bukannya pulang. Nyak sama Babeh khawatir nanti," ucap Mei pada mereka.


"Kita mau diajak belanja sama Om ganteng," sahut Amel.


"Om ganteng? Siapa dia? Sejak kapan kalian kenal sama orang itu? Jangan mau diajak pergi oleh sembarangan orang, nanti kalian diculik," ucap Mei sembari terus mengusap kepala Alif.


"aku gak akan menculik mereka. Tenang saja," ucap Satya sembari berjalan menghampiri mereka.


"Alif, Amel, kalian kenal sama orang ini?" tanya Satya.


"Seharusnya aye yang tanya begitu. Kamu kenal di mana dengan mereka," ucap Mei.


Satya tersenyum. Dia melangkah lagi beberapa langkah untuk lebih dekat dengan Mei dan dua anak itu. "Aku kenal mereka saat mereka ketinggalan jemputan sekolah. Aku yang mengantar mereka pulang ke rumah. Kamu?"


"Mereka emang adik-adik aye dari dulu," jelas Mei.


"Om ganteng, ini kakak kami yang sering kami ceritakan. Cantik 'kan," ucap Alif.

__ADS_1


Satya kembali tersenyum. Dia menatap Mei dengan tatapan penuh arti. Dia memang sudah tahu pada Mei karena tujuannya mendekati dua bocah itu adalah Mei.


"Memang apa yang kalian ceritakan pada Om ini?" tanya Mei.


"Banyak. Salah satunya tentang kamu yang suka ngomel saat salah satu dari mereka ada yang telat makan dan kalau mereka sakit," jelas Satya.


Mei tertawa. "Dasar ya mereka. Kamu gak usah terlalu percaya dengan mereka, mereka masih anak kecil," ucapnya.


"Ya udah, anak-anak ayo kita belanja!" ajak Satya pada dua anak kecil itu.


"Eh, tunggu! Kalian mau belanja apa?" tanya Mei.


"Apa aja. Hari ini aku ulang tahun, aku ingin membagi kebahagiaanku dengan mereka," ucap Satya yang memang hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Oh. Selamat ya, semoga sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan yang maha kuasa dan satu lagi, semoga sukses selalu," ucap Mei dengan senyuman di bibirnya.


"Semoga kamu menjadi milikku," ucap Satya dalam hatinya.


"Sekalian aye keliling. Aye temani kamu, biar gak nyasar. Gak pernah ke pasar 'kan sebelumnya?" tanya Mei.


Satya tersenyum. Dia mengangguk pelan mengiyakan perkataan Mei. Sebelumnya, memang dia tidak pernah menginjakkan kakinya di pasar atau tempat perbelanjaan semacamnya selain Mall. Laki-laki itu terus tersenyum bahagia, dalam pikirnya, dia bisa dengan mudah mendekati Mei dengan cara yang sekarang sedang dia jalan ini.


*******


Di Kantor Darren.


Darren tak hentinya melihat jam di tangannya. Dia tak sabar ingin segera tiba saat waktunya makan siang, dirinya berencana untuk mengajak Mei dan Gaby makan siang bersama di restoran milik Mario. Bella sudah menelpon Mario dan memintanya menyiapkan meja khusus untuk mereka, mengingat restoran milik Mario tidak pernah sepi pengunjung jadi, mereka harus memesan meja terlebih dahulu sebelum pergi ke sana.


"Mei lagi apa? Dia aman gak ya? Apa aku harus menyewa bodyguard untuk menjaga dia? Menurut teman-temannya, bukan hanya satu atau dua laki-laki yang menyukai Mei bisa saja diantara mereka ada yang seperti Hengky. Aku gak mau Mei dalam bahaya," ucap Darren dalam hatinya.

__ADS_1


Setelah kejadian Mei diculik oleh Hengky yang ternyata motifnya adalah cinta, Darren menjadi takut, takut akan ada orang lain lagi yang nekat seperti Hengky. Dirinya menjadi tidak tenang saat Mei sedang berada di luar rumah sekali pun di Pasar. Keberadaan teman-teman Mei yang juga memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni tak membuat Darren merasa tenang saat Mei tidak ada di sampingnya. Mei adalah wanita istimewa baginya, bukan tidak mungkin, Mei juga istimewa bagi mereka yang tidak beruntung mendapatkan cinta Mei.


*******


Di tempat lain.


Joanna sedang berada di sekolah Gaby. Dia sengaja datang untuk menemui gadis kecil itu. Dia akan memulai rencananya dengan memperalat Gaby untuk menghancurkan hubungan Darren dan Mei.


Dari luar gerbang sekolah Gaby. Joanna melihat ke dalam area sekolah itu, dalam hatinya, dia bertanya Gaby masih sekolah di sana atau tidak, dan gadis kecil itu masuk sekolah atau tidak hari ini. Dia menatap jam di tangannya baru pukul 10:30. Sedangkan Gaby biasa pulang pukul 11:30. Dirinya masih harus menunggu satu jam lebih sampai Gaby keluar dari sekolahnya.


"Pak, Gaby masuk gak ya hari ini?" tanya Joanna pada seorang satpam yang berjaga di depan gerbang sekolah.


"Gaby ya? Saya tidak memerhatikan nya, tapi biasanya dia anak yang rajin, dia pasti masuk selagi tidak sakit," sahut Satpam itu.


Joanna mengangguk pelan. Dia hanya tersenyum dan langsung pergi tanpa berkata sesuatu apa pun lagi pada satpam itu. Joanna menghampiri mobilnya yang terparkir di tepi jalan lalu dia masuk ke dalam mobilnya dan menunggu Gaby di sana.


"Dasar, satpam gak guna. Harusnya dia tahu anak itu ada atau tidak di sekolah ini," ucap Joanna dengan kesal. Dia menutup pintu mobilnya dan menyandarkan punggungnya di kursi mobilnya tak lupa dia terus melihat ke dalam area sekolah untuk memastikan dirinya tak ketinggalan menemui Gaby.


*******


Di restoran Mario.


"Mi, Mi!" seru Mario pada seorang karyawannya.


"Iya, Pak. Ada apa?" sahut pelayan restoran itu.


"Meja yang di ujung sana jangan ada yang menempatkan ya. Sudah ada yang booking, soalnya," jelas Mario sembari menunjuk ke arah sebuah meja yang terdapat di sudut ruangan yang posisinya bersebelahan dengan taman yang ada di samping restoran itu.


"Siap, Pak." Pelayan itu langsung mengambil sebuah tanda dan meletakkannya di atas meja itu untuk memberitahu pelanggan lain bahwa meja itu sudah ada yang memesan.

__ADS_1


Setelah memberitahu karyawannya, Mario langsung masuk lagi ke dalam ruangannya. Ruangan khusus untuk dirinya saat sedang berada di restoran itu.


Bersambung


__ADS_2