
Setelah memastikan semua aman. Mei kembali ke tempat tongkrongannya dan teman-temannya. Tanpa rasa curiga sedikit pun, dia terus melangkah hingga akhirnya tiba di tempat semula.
"Gimana? Aman?" tanya Dion.
"Aman. Aye pergi dulu deh ya, aye mau ketemu sama Amel dan Alif," ucap Mei pada teman-temannya.
"Bukannya mereka masih di sekolah-sekolah, jam segini?" tanya Karen.
"Udah pulang. Udah jam berapa nih," sahut Mei sembari melihat jam di tangannya.
"Ya udah. Bilangin sama Nyak kalau mau nganterin makanan ke mereka telpon gue aja," ucap Joni.
"Kagak perlu, Jon. Hari ini, pan ada aye," ucap Mei.
"Ya udah, pergi lu sana! Hati-hati di jalan," ucap Dion.
Mei tersenyum lalu langsung pergi meninggalkan teman-temannya. Dia langsung menaiki mobilnya dan mulai melaju.
Hengky muncul dari tempat persembunyiannya setelah mobil yang dikemudikan oleh Mei menjauh dan benar-benar tidak akan kembali lagi. "Siapa suami Mei? Pantas saja Mei jatuh cinta sama dia ternyata dia mampu membelikan Mei mobil semewah itu," batin Hengky.
Tanpa menunggu lebih lama lagi. Dia segera masuk ke dalam mobilnya lalu segera membuntuti mobil yang dikemudikan oleh Mei. Dia begitu penasaran pada sosok laki-laki yang kini menjadi suami Mei.
Selama perjalanan, pandangan Hengky terus tertuju pada mobil yang dikemudikan oleh Mei. Dirinya tidak ingin kehilangan jejak perempuan yang dicintainya.
"Dengan cara apa pun aku harus mendapatkan Mei. Sekali pun aku harus melakukan kejahatan," batin Hengky.
********
Di kantor polisi.
Joanna sedang bertemu dengan kuasa hukumnya yang akan berjuang keras demi mengeluarkannya dari penjara. Joanna yang tak terima dirinya dipenjarakan oleh Darren, berendam akan membalas dendam saat dirinya dapat terbebas dari sana. Meski sudah masuk penjara tapi sedikit pun dirinya tak merasa jera dan mengubah dirinya menjadi lebih baik lagi.
Joanna yang awalnya mencintai Darren dan berniat ingin hidup bersamanya lagi kini, rasa cinta itu sudah hilang dan berganti dengan kebencian. Kebencian yang membuatnya ingin menghancurkan mantan suami dan juga keluarganya. Cinta yang dimilikinya sudah hilang bersamaan dengan Darren yang mengantarkannya ke kantor polisi sampai dirinya mendekam dalam penjara hingga hari ini.
__ADS_1
"Bagaimana pun caranya. Saya harus keluar dari sini," ucapan Joanna.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk, Anda. Jangan khawatir, sebentar lagi saya akan mengeluarkan, Anda dari penjara ini," sahut pengacara itu.
Joanna tersenyum tipis. Dia menaruh harapan besar pada pengacaranya itu atas kasus yang kini sedang dihadapinya. Darren adalah salah satu orang yang terkenal dengan kejayaannya, tidak mudah menyelesaikan urusan dengannya karena dirinya punya banyak uang untuk membayar orang dan lagi dia selalu berada dalam jalan yang benar yang membuat saingannya sulit untuk mengalahkan laki-laki itu.
*******
Di kolong jembatan.
Mei sedang bersama dengan Alif dan Amel sedangkan Niki dan Bayu belum pulang sekolah. Siang ini Mei hendak mengajak mereka makan bersama di rumah orang tuanya. Sudah lama mereka tidak makan bersama hingga Mei rindu akan kebersamaan dengan mereka.
"Anak-anak, gimana kabar kalian?" tanya Mei.
"Amel baik, Kak," sahut Amel.
"Alif juga," tambah Alif.
"Gimana sekolah nya?" tanya Mei.
Ya, mereka pernah satu TK tapi karena Gaby sudah waktunya masuk SD, akhirnya mereka terpisah karena sekolah mereka yang berbeda. Saat ini Gaby sudah kelas satu SD sedangkan Alif dan Amel masih duduk di bangku TK. Usia mereka memang berbeda satu tahun dan Gaby yang paling tua diantara mereka.
"Nanti kalian masuk SD di tempat kak Gaby sekolah. Jangan sedih, ayo kita pergi!" ajak Mei.
Di tempat yang lumayan jauh dari tempat itu.
Hengky melihat dan terus memerhatikan mereka. Dia tidak tahu pada dua anak yang sedang mengobrol dengan Mei dan sialnya dirinya juga tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena tempatnya yang terlalu jauh.
"Siapa mereka? Kenapa mereka terlihat begitu akrab dengan Mei, apa mungkin mereka anak-anaknya Mei? Gak mungkin. Gak mungkin mereka tinggal di sana kalau memang mereka anaknya Mei," batin Hengky.
Seharian ini, Hengky meluangkan waktunya untuk mencari tahu orang-orang terdekat Mei agar dirinya lebih mudah mendapatkan perempuan itu. Mendengar berita Mei yang sudah menikah, sungguh membuatnya terluka dan tak bisa menerima kenyataan itu. Dirinya akan terus berusaha untuk mendapatkan Mei kembali ke dalam istana cintanya dan mengisi ruangan yang memang diperuntukkan hanya untuk Mei.
"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Alif pada Mei.
__ADS_1
"Kita mau makan di rumah Nyak dan Babeh," jelas Mei.
"Beneran? Padahal baru kemarin kita makan di rumah Nyak sama Babeh," ucap Amel.
"Ya beneran lah, masa kakak bohong. Ayo kita pergi sekarang!" Mei mulai beranjak dari sana dan berjalan menuju jalan raya tempat dirinya memarkirkan mobilnya.
"Mobil siapa ini, Kak? Bagus banget," tanya Amel.
"Ini mobil punya neneknya Gaby. Kakak cuma minjam sebentar," sahut Mei.
"Mereka baik ya, Kak mau meminjamkan mobil mewah gini sama kakak," ucap Alif.
"Kalau kita baik, kita akan dikelilingi oleh orang baik. Makanya sebisa mungkin kita berbuat baik pada orang lain meski orang itu mungkin pernah menyakitkan kita," jelas Mei.
"Tapi aku suka gak mau nolongin orang yang pernah berbuat jahat padaku," ucap Alif.
"Jangan gitu, Sayang. Dendam tidak akan membuat waktu yang sudah dilewati kembali lagi, kalau kamu dendam selamanya masalah itu tidak akan pernah kelar," jelas Mei lagi.
"Wah, Kak kursinya empuk ya, beda jauh sama angkot punya babeh mah," ucap Amel sembari menekan-nekan kursi mobil yang didudukinya.
"Jelas, dong harganya aja berpuluh-puluh kali lipat bedanya," sahut Mei lalu memulai perjalanannya.
Mei mengemudi penuh dengan kehati-hatian. Dia memang tidak pernah ngebut di jalanan terkecuali ada sesuatu yang mengharuskannya memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Selama perjalanan menuju rumah orang tua Mei. Alif dan Amel sangat bahagia, mereka berdua bernyanyi dengan riang gembira.
Sementara itu. Mei hanya tersenyum bahagia melihat keceriaan di wajah dua bocah yang tidak tahu siapa dan di mana orang tuanya. Saat ini yang ada dalam pikiran Mei hanyalah bagaimana cara dia membahagiakan mereka dan memberikan mereka pendidikan yang layak agar mereka tidak merasa kekurangan kasih sayang darinya.
Tak sampai sepuluh menit, akhirnya mereka tiba di depan rumah orang tuanya Mei. Mereka semua langsung turun dari mobil setelah Mei menghentikan mobilnya di di halaman depan rumah itu. Mereka mulai memasuki rumah itu dan langsung menuju meja makan karena kedua orang tuanya Mei sudah menunggu untuk makan siang bersama.
Di sebrang jalan depan rumah orang tua Mei. Hengky menatap rumah itu depan tatapan misterius. "Harusnya hari ini aku ikut makan siang bersama keluarga kamu, Mei," batin Hengky.
Untuk beberapa saat Hengky asyik menatap rumah itu. Dia pernah satu kali datang ke rumah itu tetapi tidak sampai bertemu dengan orang tua Mei karena kebetulan saat itu keluarga Mei sedang tidak ada di rumah.
Bersambung
__ADS_1