
Satu minggu setelah Mei pulang ke rumahnya. Kini dia mulai menjalani hidup normal lagi dengan beberapa ancaman dari Joanna. Pasalnya sekarang, mantan istri suaminya itu sudah bebas dari penjara dan sudah mulai berkeliaran di alam bebas. Perempuan seperti Joanna akan melakukan apa pun demi mengejar semua keinginannya, cepat atau lambat dia pasti datang untuk memisahkan Mei dengan Darren.
Pagi ini di kediaman Darren, tepatnya di rumah baru milik Darren yang dibelikan Bu Aryanti untuk dirinya dan Mei dan juga anak-anak asuhnya Mei tentunya. Keluarga kecil itu sedang sarapan bersama, Mei duduk bersebelahan dengan Darren sedangkan Gaby di sebrang mereka.
"Hari ini, kamu jadi ke pasar?" tanya Darren pada Mei.
"Iya. Boleh ya," ucap Mei.
"Tapi jangan hilang lagi ya. Aku bisa mati kalau kamu hilang sampai dua kali," ucap Darren sambil mengunyah makanannya.
"Iya, My Husband. Aye gak akan hilang lagi, waktu itu aye ketangkep karena ada seseorang yang tergeletak di jalan. Aye pikir dia korban tabrak lari tahunya dia orang jahat," jelas Mei.
"Lain kali jangan berhenti apa lagi sampai turun dari motor atau mobilmu kalau keadaanya sepi. Sekarang orang-orang pada gila, pada melakukan berbagai cara demi mendapatkan uang," jelas Jo.
"Iya, My Husband. Lain kali aye lebih hati-hati lagi," ucap Mei.
"Jemputan aku udah tiba, tuh," ucap Gaby yang baru selesai sarapan.
Setiap hari memang selalu ada fasilitas sekolah yang mengantar jemput Gaby, jadi Darren maupun Mei tidak perlu repot untuk mengantar dan me jemput Gaby karena sekolah sudah memfasilitasi tranformasi muridnya yang berada jauh dari sekolah. Gaby di jemput oleh mobil khusus yang hanya ditumpangi oleh dirinya sendiri dan dibayar dengan harga mahal oleh Darren. Bukan tanpa alasan Darren melakukan semua itu. Alasannya adalah keselamatan dan kenyamanan sang anak saat dalam perjalanan ke sekolah maupun saat pulang dari sekolah.
"Ya udah, sekolah sana! Belajar yang rajin ya, biar jadi anak pintar," ucap Darren pada Gaby.
"Siap, Pa." Gaby beranjak dari duduknya lalu mencium punggung tangan sang ayah dan ibu secara bergantian.
Setelah itu, Gaby mulai meninggalkan rumahnya dengan langkah cepat karena tak ingin membuat sopirnya menunggu lama. Kini tinggal Darren dan Mei di ruangan itu, setelah selesai sarapan, mereka tak langsung pergi dari sana karena Darren mengajak Mei berbicara.
"Polisi belum menemukan penculik itu. Aku penasaran apa motifnya menculik kamu," ucap Darren.
__ADS_1
"Namanya Hengky. Dia mantan pacar aye dan dia menculik aye karena dia tidak terima aye sudah menikah. Sebenarnya bukan mantan karena tidak pernah ada kata putus dalam hubungan kami," jelas Mei.
"Apa! Pacar kamu. Berarti saat kamu menikah denganku, kamu punya pacar?" Darren terkejut saat mendengar pengakuan Mei.
Mei menunduk. Sebenarnya dirinya tak ingin mengatakan ini semua tapi dirinya takut akan ada masalah dikemudian hari, jika dirinya tidak jujur pada Darren. "Dulu ... dia pergi tanpa pamit. Lima tahun, aye menunggu dia dan selama lima tahun pula dia tidak ada kabar berita. Aye pikir dia sudah melupakan aye makanya aye membuka hati buat kamu, tapi setelah kita menikah. Dia datang dengan membawa kesuksesan, dia berniat untuk melamar aye tapi aye sudah terlanjur menikah," jelas Mei.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Darren dengan tatapan yang tak pernah berkedip satu kali pun.
"Tidak. Cinta itu hilang seiring berjalannya waktu. Aye tidak mungkin mengharapkan orang yang sudah tidak mengharapkan aye lagi," jawab Mei.
"Mei, kalian pernah berpacaran. Setidaknya ada sedikit saja rasa yang berlalu itu muncul lagi dalam diri kamu. Kalau polisi menangkapnya, aku tidak akan mengampuninya," ucap Darren sembari mengepalkan tangannya.
"Maafkan, aye karena tidak bisa menjaga diri. Demi Allah, aye hanya mencintai kamu saja," ucap Mei.
"Jangan minta maaf. Ini terjadi bukan kesalahan kamu," ucap Darren sembari mengangkat wajah Mei agar menatapnya.
"Apa dia melakukan sesuatu padamu?" tanya Darren.
"Katakan, Maisya Melanie."
"Maafkan aye," ucap Mei.
"Dia mandiri kamu." Darren mencengkeram erat lengan Mei.
"Tidak! Dia tidak sampai melakukan itu." Mei membantah tuduhan Darren.
"Dia memang menyentuhnya dan menyentuh beberapa bagian. Maaf ...." Mei menundukkan kembali kepalanya.
__ADS_1
"Waktu itu aye tidak bisa melawan. Dia memborgol tangan aye dan mengikat kaki aye dengan rantai. Dengan bantuan dua asisten rumah tangganya akhirnya aye bisa kabur dan ditemukan oleh Mbak Risya," jelas Mei lagi.
Darren langsung memeluk Mei. Mendengar cerita sang istri membuatnya menyimpan dendam pada laki-laki bernama Hengky itu. Dirinya berjanji, jika polisi menangkapnya nanti, dirinya tidak akan membiarkan Hengky bebas dengan mudah.
"Jangan menangis. Aku akan tetap mencintai kamu meski apa pun yang terjadi," ucap Darren sembari memeluk Mei.
*******
Di pasar.
Orang suruhan Satya sudah stay di sana. Sampai hari ini, mereka belum mendapatkan informasi tentang Mei tinggal di mana. Mereka baru mendapatkan informasi dari beberapa pedagang pasar itu yang mengatakan bahwa Mei sudah menikah. Tak ada satu pun yang mengetahui Mei tinggal di mana.
Helmy sudah memerintahkan mereka untuk menghentikan penyelidikan karena sudah jelas Mei sudah menikah dan tak pantas untuk diperjuangkan, tapi Satya tetap kukuh dengan pendiriannya. Dia akan berusaha menggaet hati perempuan yang sudah dimiliki oleh orang lain itu.
Di jalan raya di depan pasar itu.
Satya duduk di dalam mobilnya sembari memerhatikan pintu masuk ke dalam pasar itu. Dia ingin memastikan bahwa anak buahnya memang mengerjakan perintahnya dengan baik.
"Pak. Yang, Anda lakukan ini salah. Mei sudah menikah, mungkin laki-laki itu memang suaminya," ucap Helmy mengingatkan bosnya yang sudah mulai salah jalan.
"Terus mau kamu apa? Saya bunuh suaminya agar saya dapat memiliki Mei?" tanya Satya.
"Pak, tidak seperti ini. Di luar sana masih banyak perempuan yang lebih baik dari Mei," ucap Helmy lagi. Bukan Helmy ingin mengatur kehidupan bosnya. Dia hanya tidak ingin bosnya terkena masalah besar mengingat susmi Mei juga bukanlah orang sembarangan.
"Saya ingin Mei. Kamu tenang saja, saya tidak akan melakukan kekerasan pada siapa pun."
"Astaga, Pak. Anda mau menjadi perebut istri orang? Selama ini yang saya dengar hanyalah perebut suami orang dan itu perempuan, bukan laki-laki. Jatuh, dong harga diri seorang Satya Widyasmoro yang tidak bisa mendapatkan perempuan single malah mengejar istri orang," ucap Helmy yang sudah kesal dengan tingkah bosnya yang mulai gak masuk akal.
__ADS_1
Selain kepala bodyguard Satya, Helmy juga adalah orang terdekat Satya yang selalu tahu dengan semua masalah Satya. Bisa dibilang, Helmy ini adalah bodyguard, sahabat dan juga asisten pribadi, karena dia tidak hanya mendengarkan dan mematuhi perintis Satya, dia juga bisa, memerintah dan menyuarakan isi hatinya pada sang bos.
Bersambung