
Darren menatap Mei dengan tatapan tajam. Dia kesal karena Mei tidak menjawab pertanyaannya. "Malah ketawa. Awas ya kalau macam-macam, kamu mau aku gila," ucap Darren.
"Nggak-nggak. Jangan, dong, Sayang. Kalau kamu gila nanti gak ada yang cemburuan lagi," ucap Mei sembari meletakkan tangannya di bahu Darren lalu menyadari kepalanya di sana.
"Dia yang waktu itu aye tolongin. Dia juga yang waktu itu ibunya, aye tolong pas mau diculik orang," jelas Mei.
"Tolong, Sayang. Jangan bukan diri kamu untuk orang lain, kamu itu istimewa, bukan tidak mungkin laki-laki itu ingin mendekati kamu dan ingin merebut kamu dari aku," ucap Darren dengan rasa ketakutan yang besar.
Mei mengangkat kepalanya lalu menatap Darren. Sebuah senyuman terukir di bibirnya. "Kalau aye bisa membuang masa lalu demi kamu, aye juga tidak akan membiarkan orang lain masuk ke dalam sini. Sudah ada nama kamu di sini dan aye harap hanya ada kamu saja di sini sampai nanti, sampai aye mengembuskan napas terakhir," ucap Mei sembari meletakkan telapak tangannya di dadanya.
"Kita makan yuk! Di restoran Mario," ucap Darren yang baru ingat ternyata tujuannya ke sana untuk menjemput Mei.
"Tapi, anak-anak?" Mei menatap Darren.
"Ajak, dong. Masa ditinggal," sahut Darren.
"Ya udah, ayo!" Mei beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pergi. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan pasar itu, tak lupa sebelum pergi mereka berpamitan pada Karen, Dion dan Joni.
Tiga teman Mei itu menatap mobil Darren, sebuah senyuman terus membingkai di wajah mereka kala melihat Mei bahagia. Karen menatap wajah Dion yang berdiri di sampingnya, dengan tatapan dalam.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Dion yang sadar dirinya diperhatikan oleh sang kekasih.
"Pengen," ucap Karen.
"Pengen apa?" tanya Dion sembari membalas tatapan Karen.
"Pengen dikawinin," sahutnya.
"Kawin atau nikah? Kalau kawin tanpa nikah dulu, ayo!" ucap Dion.
"Dasar, kampret. Keuntungan lu, itu mah," celetuk Joni sedangkan Karen hanya mengerucutkan bibirnya.
"Apaan, sih lu. Ikut-ikutan aja," ucap Dion.
"Jon, lu mau gak nikahin gue?" tanya Karen, bercanda.
"O, ya siap banget. Yok, gue nikahin lu besok," ucap Joni.
"Eh! Eh! Enak saja kalian. Aku yang macari masa Joni yang nikahin," ucap Dion dengan nada kesal.
__ADS_1
Karen dan Joni menatap Dion secara bersamaan. Mereka tertawa melihat wajah Dion yang sedang kesal. "Canda kali," ucap mereka bersamaan.
*******
Di restoran Mario.
"Hei," ucap Mario saat Bella tiba di restorannya.
Bella tersenyum ke arah Mario. Dia terus melangkah menghampiri sang kekasih yang sedang berdiri di depan pintu masuk ke dalam restorannya.
"Kakak?" tanya Mario.
"Mungkin mereka masih di jalan," sahut Bella.
"Kita pacaran dulu. Kalau ada kakak kamu, aku gak bebas," ucap Mario sembari meraih tangan Bella lalu menariknya membawanya duduk di salah satu meja yang kosong.
Bella ikut saja ke mana Mario membawanya. Dia duduk di kursi itu, kursi yang posisinya berhadapan dengan Mario.
"Memang kalau gak ada kakakku. Kamu mau ngapain?" tanya Bella setelah mereka duduk.
"Ngapain, kek. Membelai pipi kamu atau bisa jadi, aku ingin mencium kamu," sahut Mario.
"Kenapa enggak. Setelah halal, aku akan lebih berani lagi," sahut Mario dengan tatapan aneh sedangkan Bella hanya diam. Dia tidak menjawab lagi perkataan kekasihnya itu.
"Sebentar lagi aku akan membawa orang tuaku untuk menemui orang tuamu. Kita bicarakan tentang pernikahan kita," ucap Mario lagi.
Seketika Bella tersenyum lebar. Dia bahagia mendengar perkataan Mario barusan. Memang kata-kata itulah yang sedang ditunggunya, meski hubungan mereka belum sampai satu tahun, akan tetapi mereka sudah sama-sama serius untuk melanjutkan hubungan mereka kejenjang pernikahan. Mereka sudah sama-sama dewasa dan sudah siap untuk membina rumah tangga.
"Aku tunggu ya. Jangan bohong, nanti aku bisa kabur mencari suami yang lain," ucap Bella.
"Jangan. Aku hanya ingin aku sendiri saja yang boleh memiliki kamu," ucap Mario sembari menggenggam tangan Bella.
"Ehem! Eheum! Mesra ya," ucap Darren yang ternyata sudah tiba di restoran itu.
Mei tersenyum melihat Mario dan Bella. Mereka terlihat begitu mesra saat ini, membuat dirinya ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Bella.
Mario segera melepaskan genggaman tangannya dari Bella. Dia tersenyum ke arah Darren dan Mei. "Kenapa gak datang setengah jam lagi aja," ucapnya pada sang calon kakak ipar.
"Biar bisa pegang-pegangan, biar bisa mesra-mesraan," ucap Darren.
__ADS_1
"Haha! Ada yang iri kayaknya," ucap Mei.
"Awas ya kalau macam-macam," ucap Darren.
"Nggak. Serius deh," ucap Mario.
"Saya pernah muda ya. Saya juga pernah ngalamin pacaran," ucap Darren lagi.
"Tapi dia gak nakal karena pacarnya kuat. Kalau berani cium, bibirnya bisa jontor," ucap Bella dengan tawa kecil.
"Aku juga bisa patah tulang kalau berani menyentuh kamu. Mei pasti membanting tubuhku berkali-kali," sambung Mario.
"Udah! Udah. Ayo makan, di mana kita duduk?" ucap Mei.
"Di sana!" Mario menunjuk ke arah meja kosong yang memang dia siapkan untuk mereka.
"Anak-anak, ayo ke sana!" ajak Bella pada Gaby, Alif dan Amel.
Tiga anak itu langsung berjalan mengikuti langkah Bella. Dengan disusul oleh Darren di belakangnya, sedangkan Mei dan Mario berjalan paling belakang.
"Udah serius aja, nih hubungan kalian," ucap Mei pada Mario.
"Gak bisa dapetin kamu, Bella juga boleh. Dia baik dan cantik, tentunya," ucap Mario pada Mei.
"Cantik itu relatif, tapi yang baik seperti Bella, jarang dimiliki oleh perempuan lain. Mana ada anak orang kaya yang mau berbaur dengan anak-anak jalanan bahkan dia tidak segan untuk makan bersama mereka di tempat kumuh dan kotor," ucap Mei.
"Hmm, dia gadis yang baik." Mario yang pernah mencintai Mei itu, kini sudah benar-benar melupakan cintanya pada Mei dan menggantinya dengan Bella. Mereka berjalan santai hingga akhirnya tiba di dekat Darren dan anak-anak.
"Jangan terlalu dekat. Saya cemburu," ucap Darren dengan nada ketus.
Bella yang sudah duduk di kursi, menatap Darren lalu tertawa kecil. "Kalau mau cemburu, lihat-lihat orang, dong. Masa sama Mario aja cemburu, calon adik ipar, tuh," ucap Bella.
"Jangankan ama Mario, ama Dion dan Joni aja, dia cemburu," jelas Mei.
"Zaman sekarang jangankan selingkuh dengan calon ipar, selingkuh dengan calon mertua aja ada," ucap Darren.
"Huh! Kebanyakan baca novel Mama Reni kamu, mah," celetuk Mei.
Darren menatap sang istri. Dia heran kenapa istrinya itu bawa-bawa novel segala padahal dirinya tidak pernah membaca novel dan setahunya Mei juga tidak suka membaca novel online maupun yang buku cetak.
__ADS_1
Bersambung