
"Aye rasa sepanjang perjalanan ini tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang mungkin akan mencelakai Ibu dan Bapak," ucap Mei.
Sejak awal berjalan sampai setengah perjalanan, Mei memang selalu bersiaga, dia terus memeriksa kanan dan kiri tak lupa dia juga memeriksa dibelakangnya.
"Memang kamu pikir orang jahat akan menampakkan dirinya begitu saja? Sebelum bertindak mereka pasti mengendap-endap dulu agar tidak ketahuan," ucap Darren.
Mei melirik laki-laki yang duduk di sampingnya itu lalu memanyunkan bibirnya ke arah Darren.
"Aye sedang bertugas jadi kamu gak usah ngajak berantem."
"Kamu yang sopan ya bicara sama aku, aku ini kan majikanmu."
"Sejak kapan aye kerja sama Anda? Seingat aye, aye sedang tidak bekerja pada siapa pun."
"Sekarang kamu sedang mengkawal Mamaku kan? Itu berarti aku juga harus kamu lindungi."
"Maaf, di sini aye tidak dibayar dan tidak meminta pekerjaan jadi Anda tidak punya hak atas diri aye."
"Kalian itu ya kalau bertemu berantem terus. Yang satu bicaranya sombong yang satu bicaranya ketus. Kalian itu lama-lama jadi cocok tahu gak," ucap Aryanti.
"Maaf ya Bu, bukannya aye kagak menghargai Ibu dan Bapak tapi aye gak minat jadi menantu di keluarga kalian."
"Lagian siapa yang mau jadi suami kamu? Cewek kayak kamu, mana ada yang mau."
"Darren, jangan bicara seperti itu kalau nanti kamu beneran jatuh cinta sama Mei gimana?" ucap Wiliam.
"Betul ucapan Papa."
"Gak mungkin, Joanna lebih segalanya dari gadis preman ini." Tanpa disadari, Darren menyebutkan nama Joanna didepan kedua orang tuanya.
Darren lupa jika Aryanti dan Wiliam sudah sangat membenci mantan istrinya itu.
"Joanna! Joanna, dan Joanna. Pantas kamu tidak pernah menyukai wanita lain ternyata setiap wanita kamu bandingkan dengan Joanna." Aryanti merasa kesal pada Darren yang membawa-bawa Joanna dalam kebahagiannya malam itu.
"Joanna ... wanita bertubuh tinggi berkulit putih, rambutnya bergelombang dan berwarna pirang, matanya coklat dan memiliki bibir sedikit tebal yang berwarna merah jambu. Sungguh wanita yang sempurna, kecantikannya sangat luar biasa ditambah dengan hidung mancung menambah kesempurnaan pada seorang wanita."
"Dari mana kamu tahu? Itu persis seperti Joanna?" tanya Aryanti.
"Aye pernah ketemu dengan wanita itu. Di sebuah Taman, dia duduk bersama seorang gadis kecil yang kira-kira usianya lima sampai enam tahun. Gadis kecil itu terus menangis meminta pulang tapi wanita yang mengaku sebagai Mama dari gadis itu malah membentak gadis kecil itu hingga gadis itu ketakutan."
"Kamu menuduh Joanna yang menculik Gaby? Gak mungkin Joanna ingin menculik Gaby, Gaby itu anaknya," ucap Darren.
"Aye tidak bilang kalau wanita itu yang menculik Gaby. Aye hanya mengatakan apa yang terjadi di taman itu."
__ADS_1
"Mau apa Joanna membawa pergi Gaby. Setelah lama dia tidak bertemu dan tidak pernah menghiraukan keberadaan Gaby, kenapa sekarang dia datang lagi?"
"Bu, mungkin dia rindu sama anaknya, mungkin saja dia merasakan malu karena itulah dia tidak pernah datang menemui Gaby," ucap Mei.
"Kalau memang seperti itu kenapa baru sekarang dia datang dan diam-diam menemui Gaby?"
"Kita sudah sampai di tempat tujuan," ucap Mei sembari memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus mobil.
*******
"Assalamu'alaikum, Nyak, Beh." Joni datang ke rumah Mei untuk menemui Mei di sana.
"Waalaikumsalam," ucap Saroh dan semua orang yang ada di teras rumah itu.
"Jon, tumben lu datang kemari?" tanya Rojak.
"Aye mau ketemu sama Mei. Mei nya ada Beh?"
"Gak ada, dia lagi ada acara."
"Kamu siapa?" tanya Mario penasaran.
Melihat penampilan Joni membuat Mario bertanya-tanya, siapa laki-laki yang ingin menemui Mei itu.
"Iya Jon, ini keluarga calon suaminya Mei," sahut Saroh.
"Calon suami?" Joni nampak terkejut dengan pernyataan Rojak barusan.
"Iya, kenali nama saya Mario," ucap Mario sembari mengulurkan tangannya tak lupa senyum ramah terus membingkai di wajahnya.
"Saya Joni, temannya Mei. Kalau gitu saya permisi dulu deh, takut mengganggu."
*******
Di pesta pernikahan itu.
Aryanti dan Wiliam menemui beberapa rekan bisnisnya dan terlihat berbincang hangat.
Mei hanya berdiri di tempat yang lumayan jauh dari mereka Mei tak ingin terlalu dengan Aryanti karena takut membuat mereka malu.
Di sudut ruangan, Darren sedang mengobrol dengan beberapa orang yang dia kenal sambil sesekali melihat Mei yang terlihat cantik meski wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi apa pun.
Beberapa laki-laki di sana menatap Mei dengan tatapan aneh hingga membuat Mei merasa risih.
__ADS_1
"Gini nih, makanya aye gak mau dandanan begini. Mengundang masalah aja," ucap Mei didalam hatinya.
Mei mencoba tak menghiraukan mereka tapi rupanya mereka terus saja menatapnya bahkan ada yang berani mencolek tangannya.
"Jangan kurang ajar pada saya," ucap Mei sembari menepis tangan laki-laki itu.
Tak ingin membuat keributan, Mei pun berjalan ke tempat lain untuk menjauhi mereka.
"Gadis cantik sendirian aja, mau aku temani? Kebetulan aku datang sendiri," ucap seorang laki-laki sembari mensejajarkan langkahnya dengan Mei.
Darren yang melihat itu pun merasa sedikit terganggu tapi karena dirinya sedang berbicara dengan rekan bisnisnya, dia membiarkan laki-laki itu menggoda Mei.
Merasa tidak nyaman berada di dalam gedung, Mei memilih keluar dari gedung itu dan duduk di bangku yang tersedia di taman yang sudah dihias itu.
"Ternyata gak cuma berandalan aja yang punya sifat menyebalkan. Orang kaya dan berpendidikan pun bisa memiliki sifat buruk itu," gumam Mei.
"Hai cantik. Dicari di dalam gak ada tahunnya di sini."
Mei menoleh ke sampingnya dan langsung nampak dua orang yang sedang berdiri di sana.
"Ngapain kalian mencari saya?"
"Boleh kenalan?"
"Cantik, kamu jangan jual mahal gitu. Kamu punya banyak uang, berapa pun yang kamu minta akan kami berikan asalkan kamu dapat memuaskan kami."
"Hei jangan ganggu dia!" seru Darren yang datang tiba-tiba.
"Kenapa? Kamu mau ikutan juga?"
"Dia pacar saya. Jika kalian mau kalian boleh cari wanita lain saja."
"Kami maunya dia." Laki-laki itu menunjuk dada Mei yang memang terlihat sangat menonjol.
Mendengar perkataan laki-laki itu, Mei mulai marah. Ingin rasanya dirinya mematahkan jari laki-laki itu karena sudah berani menunjuk barang berharga miliknya.
"Jangan ladeni mereka, ayo kita pergi!"
Takut membuat keributan di acara istimewa orang lain, Darren segera menarik tangan Mei dan membawanya masuk ke dalam gedung itu lagi!
Bersambung
__ADS_1