
"Kenapa pagi-pagi gini kamu udah ada didepan rumah aye?" tanya Mei yang melihat Darren berdiri di samping mobilnya yang terparkir didepan rumahnya.
Mei yang baru mau berangkat ke pasar itu pun memilih menghampiri Darren dan bertanya pada laki-laki itu.
Darren melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh lima menit, dia kembali menatap Mei yang masih menunggu jawabannya darinya.
"Udah setengah enam pagi. Kamu baru mau berangkat ke tempat kerjamu? Siapa yang mengamankan pasar saat dini hari? Yang aku tahu pasar sudah beroperasi dari mulai tengah malam," ucap Darren.
"Aye bertanya kenapa kamu balik nanya."
"Aku mau minta maaf."
"Maaf untuk apa?"
"Soal semalam. Kamu pergi aku yang jemput tapi kamu pulang gak aku antar. Maaf ya."
"Oh, kagak apa-apa, aye baik-baik aja kok. Ya udah ya, aye berangkat kerja dulu udah kesiangan nih."
"Aku antar ya."
"Gak usah, aye gak bisa hidup tanpa ni motor. Soalnya aye kudu wara-wiri ketempat lain juga hari ini."
"Ya udah kalau gak mau. Kamu duluan aja."
Mei naik ke motornya lalu mulai menyalakan mesinnya.
"Aye duluan ya. Assalamu'alaikum."
Mei pun mulai meninggalkan Darren di depan rumahnya!
Darren masih berdiri di tempat semula sambil menatap kepergian Mei.
"Astaga, senyumannya." Darren meletakkan telapak tangannya di dadanya. Jantungnya berdebar kencang saat sedang berada di dekat Mei.
"Jantung, kamu jangan copot ya," ucap Darren didalam hatinya.
"Makin lama makin cantik aja tuh preman pasar."
"Maaf, kamu lagi ngapain di sini? Mei nya udah pergi ke pasar," ucap Saroh yang hendak menyapu halaman rumahnya.
Darren mengalihkan pandangannya pada Saroh lalu tersenyum ramah. Dia segera menghampiri Saroh lalu mencium punggung tangannya.
"Saya tahu Bu, saya udah ketemu sama dia tadi," ucap Darren.
"Oh, ada perlu apa sampai kemari pagi-pagi gini?"
"Saya ingin meminta maaf pada Mei karena semalam saya gak nganterin dia pulang. Saya juga ingin meminta maaf pada Tante dan juga Om karena Mei pulang sendiri."
"Kagak apa-apa, bukannya semalam Mei dipesankan taksi sama kamu? Nyak kagak apa-apa biarpun Mei pulang sendiri yang penting kamu bertanggungjawab untuk memastikan anak Nyak tiba di rumah dengan selamat."
Darren terdiam, dia tak mengerti dengan perkataan Saroh barusan.
"Memesankan taksi?" Darren nampak kebingungan pasalnya dirinya sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk Mei malam tadi.
"Tante, kalau gitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
Setelah mencium punggung tangan Saroh, Darren pun segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya Mei.
*******
Di rumah Darren.
"Pagi-pagi udah kesal gitu, ada apa?" tanya Aryanti.
"Gagal Ma, gagal. Gara-gara wanita gak tahu diri itu, kak Darren gak jadi makan malam bersama dengan Mei." Isabella nampak masih kesal dengan kejadian semalam yang dialaminya.
"Perempuan gak tahu diri yang mana? Siapa yang kamu maksud?" tanya Wiliam.
"Joanna lah, siapa lagi wanita gak tahu diri selain Joanna."
"Joanna," ucap Aryanti dan Sarah secara bersamaan.
"Sekian lama dia gak muncul didepan kita, tiba-tiba dia datang dan ingin kembali pada kakak dan yang bikin aku jengkel kak Darren membiarkan Mei pulang sendiri, dia cuma berdiri dan membiarkan wanita gak tahu diri itu memeluknya."
"Keterlaluan Darren itu. Dia bisa menyinggung perasaan Mei kalau gitu kejadiannya."
"Selamat pagi semuanya," ucap Gaby sembari duduk di kursi makan nya.
Gadis kecil itu sudah selesai dengan urusannya dan kini dia sudah menggunakan seragam sekolah dan akan ikut sarapan bersama dengan keluarga besarnya.
"Pagi cantik."
Aryanti pun mulai menyiapkan makanan untuk cucunya sarapan.
"Tante Bell, orang semalam itu siapa sih kok dia meluk-meluk Papa? Kan Mama Mei jadi pergi." Semalam karena takut, Gaby tidak sempat menanyakan tentang orang itu, jadi dirinya langsung bertanya saat bertemu dengan Bella di ruang makan.
"Mama Mei? Sejak kapan kamu manggil Mei dengan sebutan Mama?" tanya Aryanti.
"Jadi mereka sudah jadian," ucap Sarah.
"Belum. Seneng banget ngomongin orang," ucap Darren yang baru tiba di rumahnya.
"Dari mana kamu?" tanya Wiliam.
"Dari rumah Mamanya Gaby," sahut Darren sambil terus berjalan menuju meja makan!
"Kamu dari rumah Joanna? Keterlaluan kamu Darren." Aryanti langsung tersulut emosi saat setelah mendengar perkataan Darren itu.
"Kakak! Kakak ngapain sih ke rumah wanita gak tahu diri itu!"
"Kalian kenapa sih marah-marah gak jelas?" Darren duduk di kursi yang berada di samping Gaby.
"Sayang, nanti siang kamu mau ketemu sama Mama gak?" tanya Darren pada Gaby.
"Darren! Nenek gak sudi Gaby mengenal Joanna sebagai Mamanya." Sarah membentak Darren sambil menggebrak meja.
"Kalian ini kenapa sih? Lagian siapa yang ke rumah Joanna dan siapa yang mau ngajak Gaby ketemu sama Joanna?"
"Kakak jangan bohong ya. Kakak masih cinta kan sama wanita itu?"
"Aku lagi ngomongin Mei, dari tadi aku lagi ngomongin Mei bukan Joanna. Kalau kalian memang masih mau Joanna jadi istri aku, ya aku ikut aja."
__ADS_1
"Pa aku mau ketemu sama Mama Mei, aku mau jalan-jalan sama Mama Mei," ucap Gaby.
"Ya udah, sekarang kamu sarapan yang banyak habis itu sekolah yang pintar ya."
"Semalam Joanna menemui kamu, mau apa dia?" tanya Wiliam.
"Bella pasti sudah menjelaskan pada kalian, aku lapar jadi tolong jangan ganggu aku makan," ucap Darren.
"Darren, Papa gak mau Joanna masuk lagi ke kehidupan kita jadi tolong jauhi dia."
Darren tak berucap lagi, dia terus memakan roti isi selai kacang itu.
**********
Di pasar.
"Makin kenari hidup aye makin ribet aja," ucap Mei.
"Kenapa?" tanya Karen yang baru menyeruput kopi miliknya.
"Si duda minta gue jadi emak anaknya."
"Buset tuh duda, sat-set amat kayak dikejar onta."
"Makanya itu, aneh gak sih kenal belum lama tapi udah ngajak nikah."
"Ya lu nya mau atau kagak sama dia?"
Mei tidak menjawab, dia menggigit gorengan yang sedang dipegangnya.
"Gorengannya udah mulai dingin, makan dulu dah, kasian kan kalau gak dimakan." Tak ingin menjawab pertanyaan Karen, Mei sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Bilang aja mau, susah amat," ketua Karen sembari menggapai gorengan dalam piring itu.
"Gimana dengan Mario?" tanya Karen lagi.
"Gimana apanya?"
"Bukannya lu mau dijodohkan sama Mario?"
"Iya, tapi aye kagak mau."
"Kenapa? Mario ganteng, keren dan juga banyak duit."
"Lebih ganteng gue, tapi gue sadar kalau gue gak banyak duit," ucap Dion yang baru selesai berkeliling memastikan keamanan pasar tersebut.
Karen dan Mei menatap ke arah Dion lalu mereka tertawa kecil.
"Kalau itu jelas, pasti gantengan lu lah. Gue kan cinta ama lu," ucap Karen.
"Masih pagi jangan bikin orang kegerahan," ucap Joni.
"Dasar jomblo lu. Makanya cari pacar."
"Gue jomblo tapi gue biasa aja."
__ADS_1
Bersambung