Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 60


__ADS_3

Sore hari sekitar pukul 16:00 waktu setempat, Mei baru pulang ke rumah mertuanya. Dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah mewah itu lalu segera turun dari mobil. Dia langsung berjalan memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Dihampirinya ibu mertuanya yang sedang duduk sambil menonton televisi.


"Assalamualaikum. Ma, maaf ya aku pulangnya kesorean," ucap Mei sembari mencium punggung tangan sang ibu mertua.


"Tidak apa-apa, Mei. Bagaimana kabar orang tuaku dan anak-anak?" tanya Bu Aryanti.


"Alhamdulillah, mereka semua dalam keadaan baik-baik saja," sahut Mei.


"Kapan kalian akan pindah ke rumah baru yang sudah dibelikan oleh Aryanti?" tanya Bu Sarah pada Mei.


"Pengennya secepatnya, Nek tapi Mei gimana Darren saja maunya gimana," sahut Mei.


"Kasihan anak-anak asuh kamu itu kelamaan tinggal di tempat tinggal yang kurang layak," ucap Bu Sarah.


"Nenek benar," ucap Bu Aryanti.


"Assalamualaikum!" seru Darren dan Pak Wiliam secara bersamaan. Dua laki-laki itu baru pulang dari kantor setelah seharian bekerja sedangkan Bella ada urusan sebentar di luar.


"Waalaikumsalam," ucap semua yang ada di sana.


Pak Wiliam dan Darren pun langsung menghampiri mereka yang sedang berbincang-bincang. Darren langsung mencium kening Mei tanpa rasa malu terhadap keluarganya dan Mei langsung mencium punggung tangan suaminya.


"Kamu pasti capek. Sini aye bawain tasnya," ucap Mei sembari mengambil alih tas kerja milik Darren.


"Ya. Aku memang capek." Darren langsung memangku tubuh Mei dan membawanya ke kamar.


"Aaaa. Astaghfirullah, kebiasaan banget," ucap Mei yang terkejut.


Darren hanya tersenyum dengan mata yang terus fokus pada jalannya. Dia terus berjalan menuju kamarnya.


Pak Wiliam, Bu Aryanti dan Bu Sarah pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Darren yang seperti anak ABG saja. Mereka tak habis pikir dengan Darren yang sudah cukup usia tapi melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh pengantin muda pada umumnya.


Darren memang sudah cukup berumur. Usianya kini sudah tiga puluh delapan tahun tapi dia masih bersikap seperti masih berusia dua puluh lima tahu.


"Anak itu, sudah punya Gabby masih saja begitu kelakuannya," ucap Pak Wiliam.


"Bukannya kayak kamu ya? Dulu juga waktu Darren sudah berusia delapan tahun kelakuan kamu masih begitu," ucap Bu Sarah yang masih mengingat masa-masa mudanya Pak Wiliam dan Bu Aryanti.


Bu Aryanti hanya tersenyum malu pada ibu mertuanya itu. Dulu memang suaminya selalu memperlakukannya istimewa sama seperti yang Darren lakukan pada Mei sekarang.


Di kamar Darren dan Mei.

__ADS_1


Darren menindih tubuh Mei lalu menyingkirkan anak rambut yang berantakan di wajah istrinya itu. Dia menatap wajah preman pasar itu dengan tatapan dalam, dia begitu kagum dengan kecantikannya dan perilaku baiknya pada semua orang.


"Kamu sudah menemui orang tuamu?" tanya Darren sembari membelai pipi mulus Mei.


"Sudah. Mereka menanyakan, kamu," jelas Mei.


"Kamu gak sabaran banget pengen ketemu mereka padahal besok hari libur. Aku bisa pergi bersamamu ke sana," ucap Darren.


"Bisa turun gak, sih dari atas tubuh aye. Lama-lama kamu berat," ucap Mei sembari mendorong dada Darren.


Darren tersenyum lalu berguling hingga kini Mei yang ada di atas tubuhnya. "Berantem sama preman aja gak kalah giliran ditindih suami bilangnya berat," ucap Darren.


"Eh, aku baru ngeh. Ini luka memar," ucap Darren sembari memerhatikan kening Mei.


"Tadi aye berantem sama preman," ucap Mei jujur.


"Apa! Kenapa?" tanya Darren terkejut.


"Ada orang dikeroyok tiga preman ya, aye nolongin dia lah," ucap Mei.


"Kamu tuh jangan berantem. Jangan ikut campur urusan orang lain jadinya gini 'kan," ucap Darren.


Darren mengusap kening Mei dengan lembut lalu segera beranjak dari tempat tidurnya. Dia sejalan ke luar kamarnya untuk mengambil sesuatu.


"Mau ngambil es batu. Luka kamu harus dikompres biar cepat sembuh," jawab Darren sambil terus berjalan.


"Aye kagak ape-ape. Tenang aja," ucap Mei sembari duduk.


"Diam. Nurut aja apa kata suami." Darren menutup pintu kamarnya dan membiarkan Mei sendirian di sana.


*******


Di salah satu rumah sakit besar di kota tersebut.


"Kalian cari gadis itu sampai dapat. Cari tahu siapa dia dan di mana dia tinggal!" titah Satya yang masih terbaring di rumah sakit.


"Untuk apa, Pak? Anda bilang bukan dia orang yang melukai, Anda tapi kenapa sebegitu pentingnya dia?" tanya seorang laki-laki bertubuh kekar itu.


"Saya menginginkannya. Saya harus mendapatkan gadis itu, namanya Maisya Melanie. Yang aku dengar dari ucapannya, daerah sana adalah daerah kekuasaannya. Itu artinya dia mempunyai kekuasaan," jelas Satya pada bodyguardnya.


"Apa dia anak orang kaya? Tapi dari penampilannya seperti preman."

__ADS_1


"Cari tahu semua tentang dia," ucap Satya lagi.


"Baik, Pak. Kami akan mencari tahu tentang gadis itu secepatnya."


Satya yang baru mengalami di tolong oleh Mei dan baru pertama bertemu dengan Mei, langsung tertarik dan memiliki rasa ingin memilikinya. Dia tidak tahu siapa Mei apa latar belakang gadis itu tapi keinginannya untuk memiliki Mei begitu kuat. Dia terkagum-kagum pada sosok Mei yang cantik tapi juga tangguh, baru pertama bertemu saja dirinya sudah langsung jatuh cinta pada Mei.


"Pak, tim kita sedang mencari tahu orang-orang yang menyerang Anda. Mereka sudah melapor bahwa ada kemungkinan pihak lawan bisnis kita yang melakukan ini pada Anda," ucap salah satu bodyguard pada Satya.


"Hmm. Cari tahu terus agar kita bisa membalas dendam!" titah Satya lagi.


"Siap, Pak."


********


Di pasar.


"Udah sore. Kalian gak mau pada pulang?" tanya Karen pada Joni dan Dion.


"Lo pulang duluan aja. Kita masih harus memastikan ni pasar bersih dari semua sampah," sahut Dion.


"Gini nih kalau punya pacar gak peka. Ini malam minggu woy, lo gak mau ngajak gue malam mingguan?" tanya Karen.


"Et dah, lu berdua. Pacaran tapi gak ada romantis-romantisnya sama sekali," celetuk Joni.


"Pacaran romantis-romantisan, udah kagak zaman. Sejarah zamannya pacarannya bagh-bugh," ucap Dion.


"Bagh-bugh ... emang kita ngapain sampai gitu? Kayak orang berantem aja," ucap Karen menanggapi perkataan Dion.


Dion tertawa kecil sembari menatap Karen. Dari sorot matanya terlihat seakan dia mengisyaratkan sesuatu tetap tidak dapat dimengerti oleh Karen.


"Pulang, lu berdua! Cemburu gue ngeliatnya," ucap Jono. "Gini nih biasanya Mei yang mengerjakan tugas ini sekarang dia udah nikah jadi kita yang harus menggantikannya," sambung Joni lagi.


"Nanti setelah gue nikah sama Karen, lo kerja sendirian," ucap Dion lagi pada Joni.


"Yah! Jangan, dong. Masa lu berdua tega sama gue," ucap Joni.


"Udah-udah, mending kita pulang. Ni pasar udah bersih dan udah aman udah mau maghrib juga nih," ucap Karen.


Mereka bertiga pun langsung pulang dari tempat kerjanya itu. Setelah satu minggu Mei menikah, selama satu minggu pula mereka menjaga keamanan pasar itu tanpa Mei, mereka merasakan kehilangan tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena ini semua sudah takdir yang seharusnya mereka jalani. Dengan atau tanpa Mei, mereka harus tetap bertanggungjawab atas pekerjaannya.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2