
"Dari mana kamu? Keluyuran terus, dari tadi Gaby nanyain kamu terus," ucap Aryanti.
"Sekarang Gaby mana?"
"Udah tidur. Kamu dari mana?"
"Abis ngelamar Mei," ucap Darren sembari berjalan menuju kamarnya.
"E_e_eh mau kemana kamu? Sini dulu! Orang tua lagi ngomong main pergi-pergi aja," ucap Sarah.
"Ada apa lagi? Darren capek Ma, Nek."
"Sini dulu. Tadi kamu habis apa?"
"Melamar Mei," ucap Darren santai.
"Asyik, mana uang buat liburan ke luar negeri!" Isabella menadakan tangannya pada Darren.
"Gak ada, nanti aja."
"Kakak jangan ingkar janji ya, kakak kan udah jatuh cinta sama Mei kalau bohong nanti hubungannya gak awet lho."
"Kalian ada apa?"
__ADS_1
"Kamu kok nyumpahin gak baik, ini aja belum tentu diterima sama Mei."
"Kalian lagi ngebahas apa? Orang tua nanya malah dianggurin."
"Ini Nek, jadi ceritanya aku sama kak Darren itu lagi taruhan. Kak Darren kan benci banget tuh sama Mei, nah aku tantang dia kalau dia sampai jatuh cinta sama Mei berarti kakak harus bayaran aku biaya liburan ke luar negeri dan kalau ternyata kakak gak jatuh cinta, aku yang ngasih kakak uang buat liburan ke luar negeri."
"Tapi kan aku belum kalah Bell, Mei kan belum menerima kakakmu yang gantengnya kayak artis drakor itu."
"Iya ganteng kaya artis Korea kalau lihatnya dari atas Monas atau dari menara Eiffel."
"Kalian ada-ada aja, gimana kalau kamu kalah Bell, emang kamu punya duit?" ucap Aryanti.
"Ada lah uang jajan dari Papa, Mama kan dari kak Darren juga aku dapat jatah tiap bulannya lagian aku yakin aku pasti menang. Lihat aja tuh kakak udah kayak orang gila kalau udah rindu sama preman cantik itu dan lagi perjanjiannya kan kalau kakak jatuh cinta bukan kakak menikah, sekarang kakak udah jatuh cinta berarti aku udah menang dong."
*******
"Mei jadi gimana keputusan lu?" tanya Rojak pada Mei yang masih duduk di kursi ruang tamu rumahnya.
"Kagak tahu Beh, gimana dengan Mario?"
"Ku suka juga sama dia?"
"Nggak, kan Babeh sendiri sama Nyak yang menjodohkan aye sama dia."
__ADS_1
"Iya tapi kalau lu gak mau gak apa-apa. Babeh kagak akan marah ama lu."
"Serius? Kalau Babeh gak akan maksa ngapain Babeh ngejodohin aye sama dia?"
"Biar lu mikir lu tuh udah waktunya kawin karena Babeh sama Nyak lu udah tua, bentar lagi juga dipanggil Tuhan."
"Jangan ngomong gitu Beh, pamali."
"Astaghfirullahalazim. Saking pengennya gue punya mantu dan juga cucu sampai lupa kalau ucapan itu adalah doa."
"Nah kan, gak mau kan cepet mati. Aye juga gak mau jadi anak Yatim Beh. Emang Babeh mau aye kayak anak-anak yang tinggal di kolong jembatan itu?"
"Emang ku ya kalau dibilangin ngeles aja."
"Udah malam pada tidur sana. Mei bukannya lu kudu ke pasar nanti malam, katanya lu ada urusan penting?"
"Eh iya aye lupa. Sebenarnya gak malam juga Nyak, palingan jam tiga dinihari. Dion sama Joni lagi ada urusan penting jadi mereka gak bisa ngurus keamanan saat jam sibuk di pasar."
Setiap hari memang saat mulainya jam sibuk di pasar, dari jam satu dinihari sampai jam lima atau enam pagi Dion dan Joni lah yang bertugas sedangkan Mei dan Karen karena mereka seorang perempuan baru masuk ke pasar setelah azan subuh atau selambat-lambatnya jam tujuh pagi.
Bersambung
__ADS_1