Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 31


__ADS_3

Di tempat tinggal anak-anak asuhnya Mei.


Siang itu, Darren datang dengan membawa makanan untuk dibagikan pada orang-orang penghuni kolong jembatan itu.


Darren sengaja datang untuk memberi makanan pada anak-anak di sana selain untuk mencuri perhatian Mei dia juga sadar bahwa dirinya harus memperhatikan mereka yang kurang beruntung apalagi dirinya mempunyai anak seusia Amel, dirinya berpikir bagaimana jika dirinya atau anaknya yang berada di posisi mereka.


Karena itulah dirinya ingin mendekati anak-anak itu untuk nantinya dibuatkan tempat tinggal yang layak dan pendidikan yang seharusnya.


"Kakak siapa?" tanya Bayu karena tiba-tiba Darren membawakan makanan untuk mereka dan makanan itu adalah makanan mewah ala restoran.


"Kalian tenang aja saya bukan orang jahat kok," ucap Darren.


"Tapi kakak siapa?"


"Temannya kak Mei."


"Oh, kak Mei nya mana?"


"Mungkin belum ke sini."


"Oh ya udah, Niki kasih mereka makan," ucap Bayu pada Niki.


"Iya, makasih ya kak," ucap Niki pada Darren.


"Sama-sama, kalau gitu kakak permisi dulu ya. Kalian baik-baik ya."


Darren pun segera pergi karena masih harus menjemput Gaby di rumahnya.


Tak lama setelah Darren pergi, Mei datang tapi tak membawa makanan. Rencananya siang ini Mei ingin mengajak mereka makan di luar.


"Eh, kok kalian udah makan? Makanan restoran lagi. Dapat dari mana?" tanya Mei setelah dia masuk ke dalam gubug itu.


"Kakak, untunglah kakak gak bawa makanan untuk kami," ucap Niki.


"Dapat dari mana makanan ini? Jangan bilang kalian mengemis di jalanan."


"Nggak kak, tadi pas aku pulang mulung ada laki-laki yang datang dan memberikan makanan ini semua tetangga juga dikasih kok bukan cuma kita aja," ucap Bayu.


"Laki-laki siapa?"


"Katanya temannya kak Mei."


"Siapa, perasaan teman-teman kakak tadi ada di pasar dah."


"Bukan kak Joni dan kak Dion."


"Lah terus siapa?" Mei nampak kebingungan, seingatnya cuma Dion dan Joni saja yang tahu ke tempat mereka.


"Kak kalau gak salah orang tadi itu orang yang waktu itu pingsan di jalan deh," ucap Amel.


"Yang pingsan di jalan? Yang mana, Kakak gak ingat."


"Itu loh yang waktu aku sedang sakit dan mobilnya kakak pakai buat nganterin aku ke sini."


"Darren," gumam Mei setelah mengingat-ingat kejadian yang diceritakan oleh Amel.


"Kakak ingat kan?"


"Iya sedikit, tapi kok dia tahu kenari ya? Apa sebelumnya dia pernah ke mari?"


"Tempo hari ada yang ngasih kita uang tapi uangnya dititipin sama tetangga. Apa mungkin orang itu orang yang sama?" ucap Niki.


"Hah ada yang ngasih uang kok, kalian gak ada yang ngasih tahu kakak."


"Maaf kak, aku lupa ngasih tahu kakak."


"Ya udah lah gak apa-apa. Gak jadi deh siang ini kita makan di luar."


"Gak apa-apa kak, kan ada waktu lain."

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, kakak langsung pulang deh karena masih ada urusan."


"Hati-hati kak."


**********


Di pasar.


Mario sudah menunggu Mei sejak dari Mei pergi dari pasar itu.


Dengan sabar dia menunggu Mei karena ada yang ingin dibicarakan nya pada Mei.


"Mei tumben gak lama perginya," ucap Joni.


"Iya, anak-anak udah ada yang ngasih makan," sahut Mei.


"Hah, tumben. Siapa?"


"Tahu dah katanya laki-laki dan ngakunya temen gue tapi gue gak tahu teman yang mana."


"Jangan-jangan laki-laki yang dari tadi nungguin lu di mari."


"Ada yang pengen ketemu gue, siapa?"


"Noh orangnya." Joni menunjuk ke, arah Mario yang duduk membelakangi mereka.


"Siapa ya?" Mei berjalan menghampiri laki-laki yang ditunjukkan oleh Joni.


"Permisi, kamu lagi nunggu aye ya," ucap Mei pada laki-laki itu.


Mario membalikkan badannya menjadi menghadap pada orang yang bertanya padanya.


"Mei, iya aku nunggu kamu dari tadi," ucap Mario setelah melihat Mei di sana.


"Mario, kamu ngapain ke sini?"


"Nggak boleh. Mei mau jalan sama aku," ucap Darren yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan mereka.


"Mama!" seru Gaby sambil berlari menghampiri Mei.


"Gaby, kamu di sini juga?".


"Aku kangen sama Mama.".


"Mama? Mei setahu aku kamu masih gadis kan."


"Iya, kenapa?"


"Anak ini?" Mario menatap Gaby dengan tatapan tak percaya.


Setahunya Mei masih gadis tapi kenapa aga anak kecil yang memanggilnya Mama.


"Oh, ini Gaby. Itu bapaknya."


"Bukan anak kamu?"


"Sebentar lagi jadi anaknya karena aku akan segera menikahi Mei."


Mario menatap Darren dengan tatapan tajam.


"Maaf ya Mario, gak gitu kok. Sebenarnya aye gak punya hubungan apa-apa sama dia."


"Mei kalaupun kamu punya hubungan dekat dengan dia, aku gak masalah. Selama kamu bahagia, aku ikut bahagia."


"Kamu siapa sih, jangan sok perhatian gitu sama Mei."


"Bukan urusan kamu."


"Jelas urusan aku karena sebentar lagi Mei akan jadi istri aku."

__ADS_1


"Duh kalian kenapa jadi ribut. Gak jelas juga apa yang diributin," ucap Mei.


"Mama kita makan bareng yuk."


"Gaby sayang, Mama lagi kerja kalau Gaby mau makan nya di sini aja jangan ditempat yang jauh dari sini. Di sebrang pasar ini ada restoran, gimana kalau makan nya di sana aja?"


"Oke deh, yang penting makan bareng sama Mama."


"Aku ikut," ucap Mario.


"Hei-hei kamu siapa? Kamu bukan bagian dari keluarga jadi kamu gak boleh ikut," ucap Darren.


"Kamu ngapain kukuh banget. Mei kan belum sah jadi istri jadi masih bebas siapa aja yang ngedeketin dia lagian asal kamu tahu aja ya, orang tuanya Mei mau menjodohkan Mei sama aku."


"Aku gak perduli, yang pasti Mei milik aku cuma milik aku."


"Kalian kenapa sih ribut mulu. Kalian berdua bukan siapa-siapa aku, titik. Jangan ada yang protes kalau gak kalian berdua pergi dari sini."


Mario dan Darren yang terus berdebat itupun langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya.


"Jadi gak makan nya?" tanya Mei.


"Ya jadi lah," ucap Darren.


"Ya udah ayo kita pergi sekarang."


Mereka pun berjalan meninggalkan pasar itu dan menghentikan perdebatan mereka.


"Ren, aye pergi dulu ya. Sebentar kok," ucap Mei pada Karen.


"Iya, jangan lupa bahagia ya."


"Iya, tiap hari aye bahagia kok."


*******


"Tumben jam segini udah pulang Bang," ucap Saroh pada Rojak.


Rojak turun dari mobilnya lalu berjalan menghampiri Saroh yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya!


"Gue pengen pulang aja, emang gak boleh?"


"Ya boleh dong. Masuk dulu dah Bang, aye udah masak tuh, Abang udah makan siang belum?"


"Belum. Tunggu apa lagi, ayo kita makan." Rojak menggandeng Saroh dan mereka pun berjalan berdampingan!


*******


"Kamu tuh ganggu momen aja," ucap Darren pada Mario.


"Ganggu apanya, justru kamu yang ganggu aku sama Mei."


"Eh yang ngajak Mei makan bersama kan aku, bukan kamu."


"Tapi yang duluan menemui Mei itu aku bukan kamu."


"Gaby sayang, kita makan nya pindah tempat yuk, di sini berisik dari tadi ada orang berantem terus," ucap Mei pada Gaby.


"Iya Ma, kita pindah aja yuk!"


Gaby dan Mei pun pindah ke meja lain dan membiarkan Darren dan Mario terus berdebat.


"Mei kok kamu pergi sih, ini namanya bukan makan bareng," protes Darren.


"Iya Mei. Balik lagi sini," ucap Mario.


"Siapa suruh berantem terus, udah kalian makan berdua aja biar akur. Aku sama Gaby makan di sini saja," ucap Mei sementara Gaby hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyuman manis di bibirnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2