Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 67


__ADS_3

Setelah semua pembicaraannya selesai, Hengky langsung pergi dari tempat sepi yang hanya ada dia dan para preman itu. Tak lupa, sebelum pergi dia memberikan uang muka pada preman-preman itu.


"Kerja mudah tapi bayaran banyak," ucap salah satu anggota preman itu.


"Dia bilang perempuan itu bukan perempuan bisa. Siapin aja diri masing-masing," ucap Riska, si preman perempuan yang cantik tapi ganas.


"Anggota, lu ada berapa?" tanya Abeth ~ ketua preman yang salah satu anggotanya adalah Riska.


"Anggota gue terdiri dari lima orang dan semua laki-laki," jelas Erlan ~ ketua preman yang satu lagi.


"Besok kita meeting. Siapin strategi penculikan kita, ingat ajak semua anggota lu biar kita semua bisa bagi tugas," jelas Abeth.


"Oke. Di mana?" sahut Erlan.


"Di sini aja aja lagi. Tempat ini sepi, jarang ada orang yang lewat ke sini," sahut Riska memberi saran.


"Oke. Besok ya sekitar jam sembilan pagi. Gue pergi dulu," ucap Erlan lalu memberi salam soladeritas pada mereka semua dan setelah itu pergi.


Setelah Erlan pergi. Riska dan Abeth menatap foto Mei dengan lekat mencoba mengingat dan mengenali wajah Mei.


"Cantik. Pantas Bang Hengky sampai tergila-gila padanya," ucap Riska.


"Hmm, gadis ini memesona. Gue penasaran sehebat apa dia sehingga kita harus bekerja sama dengan kelompok lain hanya untuk menculik perempuan ini," sahut Abeth.


"Kita lihat besok lusa," ucap Riska dengan senyum misterius.


*******


Di kantor Satya.


Satya dan Helmy baru tiba di kantornya. Dari parkiran mereka sudah dapat melihat kekacauan di area kantornya, terlihat tanaman hias yang berantakan dan sudah tidak pada tempatnya lagi, satpam yang berjaga fi depan kantornya pun terlihat terluka parah mungkin akibat perkelahian yang dia lakukan.


Satya dan Helmy langsung berlari dan melihat kondisi para karyawannya! Helmy membantu satpam itu untuk berpindah ke tempat yang lebih nyaman sdangkan Satya langsung masuk ke dalam kantornya. Dia melihat sekeliling kantornya yang sedikit berantakan tapi tidak ada kerusakan parah di sana, beberapa karyawan hanya menderita ringan sedangkan yang lainnya tidak mengalami luka.


"Siapa yang melakukan ini? Berani sekali mereka mengacak-acak kantorku," ucap Satya.


"Sekelompok orang tiba-tiba menyerang pak satpam. Mereka menanyakan, Anda, Pak," jelas salah satu karyawan pada Satya.

__ADS_1


"Aku menempatkan beberapa bodyguard di sini tapi satu pun mereka tidak ada. Ke mana mereka?" tanya Satya yang sudah dilanda emosi.


"Mereka mengejar gerombolan orang-orang itu karena Bu Widya dibawa oleh mereka," jelas karyawan lain.


"Mama." Satya terkejut karena para penjahat itu membawa mamanya pergi.


"Pak, ayo kita susul mereka!" Helmy langsung berlari ke luar dan langsung menaiki mobilnya.


"Sialan. Awas saja mereka kalau sampai mama kenapa-kenapa, aku tidak akan mengampuni mereka," ucap Satya sembari berlari menyusul Helmy.


Satya geram dengan lawan yang rela melakukan kejahatan demi kehancuran perusahaannya. Meski dirinya belum tahu siapa dan apa motif mereka menculik sang ibu tapi dirinya yakin bahwa lawan bisnisnya yang sudah menggunakan cara kotor untuk menghancurkan dirinya.


"Cepat Hel! Ke mana mereka akan membawa mama saya pergi?" ucap Satya setelah masuk ke dalam mobilnya.


"Siap, Pak. Saya akan mengejar mereka," ucap Helmy sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti arahan GPS yang terpasang di mobil rekannya yang kini sedang mengejar para penjahat itu.


Helmy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dirinya tidak sampai telat untuk menolong bos besarnya. Selama ini memang selalu saja ada yang mengusik kehidupan mereka, karena itulah Satya membayar banyak bodynya untuk melindungi diri dan juga mamanya dari serangan orang-orang tak dikenal itu. Helmy adalah bodyguard kepercayaannya yang selalu menemani Satya ke mana pun dia pergi.


*******


Di pasar.


"Mama!" seru Gaby sembari berlari menghampiri Mei.


Mei langsung menatap ke arah suara dan dia langsung tersenyum lebar saat melihat Gaby yang sedang berlari ke arahnya. Mei segera beranjak dan berjalan menghampiri Gaby.


"Anak, Mama udah pulang sekolah?" ucap Mei setelah Gaby memeluknya.


"Udah, Ma. Tadi aku dijemput Aunty," ucap Gaby.


"Hai, Mei. Apa kabar?" tanya Mario.


"Aye bae. Makin lengket aja tuh, kapan mau dihalalin?" ucap Mei dengan tawa kecil.


"Kamu, langsung menuju sana aja. Kita masih butuh pendekatan," ucap Mario.


"Jangan bilang, kamu mengulur waktu karena kamu belum move on dari kak Mei," ucap Bella.

__ADS_1


"Kamu, kok bicaranya gitu?" tanya Mei.


"Aku tahu kalian berdua pernah terlibat perjodohan dan Mario juga sempat suka dan cinta sama, kakak," jelas Bella.


"Sok tahu. Itu cerita lama, lama banget," ucap Mei.


"Eh, dari mana dia, tahu tentang masa lalu Mei dan Mario?" gumam Karen.


"Mana gue tahu, dahlah pusing gue tiap hari mikirin tentang Mei yang bejibun penggemarnya," ketus Joni.


"Itu sudah berlalu. Sekarang cuma ada kamu di hati aku," jelas Mario.


"Tapi di handphone kamu masih ada foto kak Mei," ucap Bella, cemberut.


"Sudah aku hapus," ucap Mario dengan santai.


"Lagian kamu ngapain nyimpen foto aye? Beneran gak bisa move on?" tanya Mei.


"Kalau aku belum move on, gak mungkin aku masih mau bertemu dengan kamu. Aku hanya menyimpan foto untuk kenang-kenangan saja tapi eh pacarku yang ini rupanya cemburuan," jelas Mario.


"Persis sama abangnya, cemburuan sampai gue dekat-dekat dengan Mei saja, dia cemburu," ucap Joni yang main ikut saja dalam pembicaraan mereka.


Mei nyengir mendengar perkataan Joni yang seratus persen benar. Dia menatap Gaby lalu menyuruh anak itu duduk bersama Karen dan Dion.


"Udah ah, lagian itu masa lalu. Mario dan aye sudah tidak ada apa-apa lagi, sekarang hanya ada calon adik ipar dan calon kakak ipar. Baik-baik ya hubungan kalian, cepat nikah biar orang tua tenang," ucap Mei sembari mengelus lengan Bella.


"Aku hanya bercanda, Kak. Lagipula aku tahu kalau, kakak sayangnya cuma sama kak Darren," ucap Bella sembari tersenyum ke arah Mei.


"Pada mau kopi, gak? Kita lagi ngopi noh, ada gorengan juga," ucap Mei.


"Gorengan? Aku gak suka kopi dan gorengan. Aku takut gendut," ucap Bella.


"Aku pasti tetap mencintai kamu meski kamu sudah tidak langsing lagi," ucap Mario dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Emmm, ini lagi. Gombalnya gak kalah dari bang duda," ucap Karen.


Mei, Bella dan Mario menatap ke arah Karen lalu tertawa. Teman-temannya Mei memang selalu berbicara jujur dan sering menggunakan nada ketus tapi sebenarnya mereka baik karena sampai detik ini, mereka hafal betul dengan kebiasaan Darren dan orang-orang yang dekat dengan Mei yang lainnya termasuk Mario yang pernah sering datang ke pasar itu tetapi itu dulu, sekarang setelah Mei memutuskan memilih Darren, Mario sudah tidak pernah lagi ke sana dan baru hari ini dia datang lagi itu pun bersama Bella.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2