
Di tengah kota. Darren melakukan mobilnya memasuki perumahan elit yang mayoritas penghuninya dari kalangan atas. Mei yang tak ingin banyak bicara, hanya diam meski sebenarnya dirinya bingung mengapa Darren membawanya ke tempat itu.
Setelah tiba di depan sebuah rumah mewah berlantai dua. Darren menghentikan mobilnya di depan rumah itu. Dia mengajak Mei turun dan langsung memasuki rumah mewah itu.
"Rumah siapa, nih?" tanya Mei.
"Ini rumah kita. Kamu lihat-lihat dulu saja, kalau kamu cocok kita pindah ke sini kalau tidak terpaksa cari rumah lain," sahut Darren sembari membuka kunci pintu rumah itu.
"Rumahnya gede banget," ucap Mei sembari mengedarkan pantangannya ke ruangan utama rumah itu.
"Sengaja mama sama papa membeli rumah ini karena mereka tahu kita akan tinggal bersama anakku dan juga anak-anak asuh kamu," jelas Darren.
"Terima kasih ya. Kamu dan keluargamu sudah sangat perhatian sama anak-anak itu," ucap Mei sembari melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar yang ada di lantai utama.
"Kamu pilih aja mau menempati kamar yang mana biar nanti anak-anak tinggal di kamar lain yang tidak kamu pilih," ucap Darren lagi.
"Rumahnya mewah banget. Pasti harganya mahal," ucap Mei.
"Semahal apapun selama ada uang untuk membayarnya tidak akan terasa mahal," jelas Darren.
"Orang kaya mah bebas ya. Mau apa aja tinggal beli."
"Memangnya kamu mau apa hmm?" Tiba-tiba Darren memeluk Mei dari belakang. Dia menanamkan dagunya di pundak Mei.
"Gak ada. Aye udah cukup sempurna bisa sama kamu," jawab Mei sembari meletakkan tangannya di atas tangan Darren yang sedang melingkar di perutnya.
"Kalau ada apa-apa bilang sama aku. Mau beli apa-apa tinggal beli, kartu ATM yang aku berikan sama kamu ada isinya bukan cuma pajangan aja," jelas Darren lagi.
"Nggak, My Husband. Aye tidak kekurangan sesuatu apa pun dan tidak menginginkan apa pun saat ini. Aye bahagia bersama kamu," ucap Mei.
"Jadi, kamu cocok ya sama rumah ini?"
"Iya. Aye suka, gimana gak suka orang rumahnya mewah gini."
********
Di pasar.
Anak buahnya Satya memarkirkan mobilnya di parkiran depan dan setelah itu mereka langsung memasuki pasar itu untuk segera mencari Mei. Mereka berjalan menyebar memasuki pasar sambil memerhatikan orang-orang yang ada di sana berharap mereka menemukan Mei di dalam pasar itu.
"Mencurigakan banget. Cepat laporan ke Bang Joni atau Bang Dion!" titah salah satu pedagang pada rekannya. Mereka merasa curiga pada bodyguard Satya yang gelagatnya tak biasa seperti sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
"Udah saya chat via whatsapp," sahut pedagang itu dengan suara pelan.
Di lokasi lain.
Dion segera memeriksa ponselnya yang mendapat notifikasi pesan. Dia melihat nama seorang pedagang yang mengiriminya pesan, dia pun langsung membaca pesan tersebut.
"Ada orang mencurigakan, bertubuh besar dan berpakaian serba hitam," ucap Dion membaca pesan itu.
"Siapa yang laporan?" tanya Joni sembari beranjak dari duduknya. Karen pun langsung bangkit dan bersiap untuk mencari orang yang dimaksud oleh si pengirim pesan.
"Bang Agay," sahut Dion.
Tak lama Karen dan Joni pun mendapatkan pesan, mereka pun langsung membaca pesan dari para pedagang di pasar itu. Ternyata mereka semua mendapat laporan yang sama seperti yang didapatkan oleh Dion.
"Kenapa mereka kompakan bener kirim laporan? Dahlah karena Mei gak ada, terpaksa kita kerja bertiga. Menyebar ya!" titah Dion.
"Gue ke belakang, lu tengah dan kamu Sayang, ke depan ya," sambung Dion pada Joni dan Karena.
"Lagi situasi bahaya nih. Jangan sayang-sayangan mulu," ucap Joni sembari bergegas memasuki pasar itu.
Sementara itu, Karen hanya tersenyum dan langsung bergegas pergi ke arah depan pasar, sesuai perintah kekasihnya itu. Saat Mei tidak ada di tempat, Dion lah yang menjadi pemimpin mereka.
Sebelum tiba di area depan pasar. Karena melihat dua orang bertubuh besar dan kekar dengan pakaian serba hitam. Dia pun memerhatikan mereka karena dari penampilan mereka persis seperti yang dilaporkan para pedagang.
Setelah satu jam mengawasi mereka, tiga petugas keamanan itu tidak melihat mereka berbuat kejahatan. Dion, Karen dan Joni pun tidak menegur mereka karena mungkin mereka sedang mencari barang yang ingin dibeli dan bukannya penjahat seperti yang para pedagang tuduhkan.
Beberapa bodyguard Satya itu, kini berada di belakang pasar. Mereka berkumpul di sana setelah mengelilingi pasar itu.
"Gimana? Ketemu gak?" tanya salah satu bodyguard itu.
"Gak ada."
"Gak ketemu."
"Sudah keliling beberapa kali tapi tidak menemukannya," ucap bodyguard yang sudah berusaha mencari Mei tapi tidak ketemu.
"Mereka mencari apa atau siapa?" batin ibu pemilik warkop tempat Mei dan teman-temannya nongkrong.
"Lagian bos ada-ada aja. Baru ketemu sekali itu pun tidak ngobrol masa langsung terobsesi seperti ini," ucap salah satu bodyguard itu.
"Kita dibayar untuk ini. Gak usah ngeluh dan gak usah banyak ingin tahu urusan bos," ucap bodyguard yang lain.
__ADS_1
"Mereka sedang mencari seseorang tapi siapa?" batin ibu itu lagi.
"Bu! Kopi delapan ya," ucap salah satu bodyguard itu sembari duduk di kursi yang ada di dekat mereka.
Ibu itu terperanjat mendengar suara keras dari laki-laki bertubuh besar itu. "I_iya. Kopi apa? Hitam atau kopi susu?" tanya ibu itu.
"Kopi hitam tiga dan yang lima kopi susu," sahutnya.
Mereka yang kelelahan akhirnya istirahat sebentar di warung kopi itu. Mereka tak juga mendapat hasil dari usaha mereka dalam mencari Mei.
"Bu! Anak-anak pada di mana?" tanya Babeh Rojak pada ibu pemilik warung kopi itu.
"Eh, Babeh Rojak. Mereka lagi keliling," sahut ibu itu.
Babeh Rojak sengaja datang ke pasar untuk menemui Dion, Karen dan Joni karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Setelah mengantar anak-anak dan makan siang di rumah, Babeh Rojak langsung pergi ke pasar itu.
"Babeh Rojak? Yang punya kawasan sini," batin salah satu bodyguard yang tadi bertanya tentang Mei di jalan.
Dia menoleh menatap Babeh Rojak yang dandanannya memakai pakaian khas Betawi lengkap dengan golok panjangnya. Dia tersenyum pada Babeh Rojak, dari penampilannya dia sudah tahu bahwa Babeh Rojak itu adalah orang asli sana.
"Ngopi, Pak," ucap bodyguard itu pada Babeh Rojak.
"Iya, makasi," sahut Babeh Rojak dengan ramah.
"Tuh mereka, Beh," ucap ibu pemilik warkop itu sembari menunjuk ke arah tiga petugas keamanan di sana.
"Beh. Tumben ke mari?" tanya Dion sembari mencium punggung tangan Babeh Rojak dengan disusul oleh Karena dan Joni yang juga mencium punggung tangan Babeh Rojak.
"Lu semua abis keliling ya? Gimana nih pasar, aman?" tanya Babeh Rojak.
"Aman, Beh. Biarpun kagak ada Mei tapi aman, kok," ucap Joni.
"Katanya mulai besok anak gue udah mulai kerja lagi di mari."
"Tahu, Beh. Tadi pan tuh anak dari sini," ucap Karen.
"Jadi tadi si Mei dari sini? Tuh anak kenapa kagak bilang mau ke mari," ucap Babeh Rojak.
"Jadi besok Mei datang," batin bodyguard Satya.
Setelah mendapatkan informasi tentang Mei yang akan datang besok. Mereka langsung membayar kopinya lalu langsung pergi meninggalkan pasar itu dan berniat kembali lagi besok untuk mencari informasi lebih lanjut. Saat ini Satya masih di rumah sakit, karena itulah dia belum bisa mencari tahu sendiri tentang Mei.
__ADS_1
Bersambung.