
Di rumah Aryanti.
Wiliam dan Aryanti susah bersiap-siap untuk pergi sedangkan Darren masih duduk santai sembari mengelus kepala Gaby yang ingin bermanja dengannya.
"Sayang kamu kok tumben manja gini, ada apa hmm?" tanya Darren.
"Pa, teman-teman aku setiap hari diantar sekolah oleh Mamanya, kenapa Papa tidak memberiku Mama? Kapan Papa bikin Mama untuk aku?"
Ada rasa tak tega mendengar penurunan sang putri tapi Darren juga sedikit menahan tawanya saat mendengar perkataan terakhir Gaby.
Bagaimana bisa dirinya membuatkan Mama untuk Gaby.
"Sayang, nanti juga kalau udah waktunya kamu pasti punya Mama kok."
"Kapan? Aku iri sama teman-temanku."
"Sayang, bobo sama oma yuk. Papa mau cari Mama dulu semoga aja nanti Papa cepat nemuin Mama buat kamu," ucap Sarah sembari melambaikan tangannya pada Gaby.
"Aku ikut Papa aja."
"Sayang, kalau kamu ikut gimana Papa nyari Mama nya, nanti kalau dia lari Papa gak bisa ngejar karena ada kamu yang gak mungkin Papa tinggalin," ucap Darren.
"Kasian Gaby. Dia sangat merindukan bahkan membutuhkan kasih sayang seorang ibu," ucap Aryanti.
"Joanna memang keterlaluan. Tega sekali dia membiarkan cucu kita tersiksa seperti itu," ucap Wiliam.
Aryanti dan Wiliam merasa tidak tega dengan Gaby yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya disayangi oleh ibu kandungnya.
*******
"Maaf nih ya bukannya aye kagak mau berlama-lama nemenin kamu tapi aye kudu pergi," ucap Mei pada Mario.
"Mau kemana? Ini udah malam."
"Aye mau menghadiri acara pesta pernikahan teman. Sekali lagi maaf ya."
Mei bangkit dari duduknya lalu segera masuk ke dalam rumahnya sementara Mario masih asyik duduk di teras rumah itu.
Setibanya di dalam kamarnya, Mei segera mengganti pakaiannya lalu memoles wajahnya dengan make_up agar dirinya terlihat seperti wanita pada umumnya.
Setelah beberapa saat, Mei kembali keluar dengan menyampir tas kecil yang berwarna senada dengan gaunnya.
"Nyak, Babeh, aye pergi dulu ya. Aye pinjam motor ya," ucap Mei.
"Mau kemana?" tanya Romli.
"Om eh Ncang, aye mau pergi sebentar mau menghadiri pesta pernikahan temen. Gak enak kalau gak datang."
Terpaksa Mei berbohong karena tak ingin membuat keluarganya Romli berpikir buruk tentangnya.
"Kalau gitu sama Mario aja perginya."
__ADS_1
"Maaf Ncing, bukannya aye kagak mau tapi aye mau pergi bareng temen."
"Mei, apa lu gak bisa batalin aja rencana lu untuk pergi? Kasian Mario udah jauh-jauh datang kemari lu nya malah pergi," ucap Rojak.
"Gak bisa kah Beh, nanti yang ada aye gak ada yang nemenin lagi gara-gara gak datang ke acara itu lagian kapan-kapan bisa ketemu lagi sama Mario."
"Ya udah pergi dah lu sana, jangan lupa pulangnya jangan terlalu malam," ucap Saroh.
"Iya Nyak paling jam dua belas malam," ucap Mei dengan tawa kecil.
Mei pun langsung pergi meninggalkan orang tuanya dan orang tua Mario di ruangan itu!
"Mei tunggu," ucap Mario saat Mei hendak menaiki motornya.
"Iya, ada apa? Ada yang bisa aye bantu?"
"Sebentar lagi aku mau pulang dan mungkin kita tidak akan bertemu lagi karena pastinya kamu pulang malam. Boleh aku minta nomor telepon mu?"
Mei tak langsung menjawab, dia terdiam sembari menatap Mario.
"Kalau kamu gak mau ngasih juga gak apa-apa, aku cuma ingin mengenal kamu lebih dari ini. Itu saja gak ada maksud lain," sambung Mario.
"Boleh, kenapa tidak cuma kalau kamu mau mengenal aye lebih dari ini lebih baik jangan karena takutnya nanti kamu kaget, kamu syok dan nanti malah gak mau kenal aye lagi."
"Kamu bicara apa Mei, tolong simpan nomor telpon kamu di ponsel aku ya."
Mario memberikan ponselnya pada Mei.
"Aku save dengan nama Mei ya, di sini," ucap Mei sembari fokus pada ponsel itu.
"Terserah kamu aja."
"Ini!" Mei mengembalikan ponsel itu pada Mario.
"Aye pergi ya. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Mario menatap kepergian Mei dengan tangan masih menggenggam ponselnya.
*******
"Jam berapa nih, bodyguard Mama belum tiba juga?" ucap Darren sembari memakai jam tangannya.
"Iya nih, Mei kok belum datang juga." Aryanti mulai khawatir Mei tidak akan datang padahal dirinya sangat berharap Mei bisa datang dan melindunginya lagi.
"Mungkin dia ada acara penting bersama keluarganya. Kita berangkat sekarang aja," ucap Wiliam.
"Sebentar lagi Pa, lagian belum jam delapan malam."
Setelah memakai jam tangannya, Darren meraih gelas minumnya yang terletak di atas meja di sampingnya, tenggorokannya terasa kering dan dirinya akan membasahinya dengan air mineral itu.
"Assalamu'alaikum. Maaf aye telat, udah pada nunggu ya," ucap Mei yang baru tiba di rumah Aryanti dan keluarga.
__ADS_1
Semua orang menatap ke arah suara dan mereka semua terkejut sekaligus terpukau melihat penampilan Mei yang jauh berbeda dari biasanya.
Gaun berwarna merah maroon dan sandal hak tinggi berwarna hitam membuat penampilan Mei terlihat cantik. Rambutnya yang dibiarkan terurai semakin menambah kecantikan si preman pasar itu.
"Ini Maisya Melanie kan?" ucap Aryanti sembari meneliti tubuh Mei dari atas sampai bawah.
"Iya Bu, siapa lagi. Ini aye," ucap Mei.
Darren menatap Mei dengan tatapan aneh dan matanya pun tidak berkedip sekali pun, tangannya yang hendak meletakkan gelas di tempat semula mendadak berhenti karena perhatiannya teralih pada sosok Mei yang begitu cantik.
"Preman pasar itu cantik juga," ucap Darren didalam hatinya.
"Aku bilang juga apa. Jangan lupa siapkan uang untuk aku berlibur ke luar negeri," bisik Isabella di telinga Darren.
Melihat tatapan Darren yang begitu misterius, Bella sudah menyimpulkan bahwa kakaknya itu suka pada Mei tak bisa dipungkiri dirinya juga sangat mengagumi kecantikan Mei yang baru diketahuinya.
Perkataan Bella membuat Darren tersadar dari pandangannya terhadap Mei, dia mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat dan menyangkal perkataan adiknya itu.
"Apaan sih, biasa aja kali," ucap Darren.
Bella tersenyum lalu segera masuk ke dalam kamarnya karena merasa sudah tak memiliki kepentingan lagi.
"Kalau gitu kita berangkat sekarang," ucap Wiliam.
Mereka pun langsung keluar dari rumah mewah itu.
"Siapa yang mau nyetir?" tanya Aryanti.
"Aye aja Bu," ucap Mei.
"Kamu bisa nyetir?" tanya Mario.
"Bisa Pak, aye pernah jadi sopir angkot.".
" Darren aja yang bawa mobil," ucap Aryanti.
"Gak apa-apa, aye aja Bu."
Wiliam dan Aryanti segera masuk ke bangku belakang sedangkan Mei duduk di depan, di bangku kemudi.
"Darren, kamu di depan sama Mei masa mau di sini," ucap Aryanti.
"Iya Ma, aku tahu."
Darren langsung masuk ke kursi depan dimana ada Mei di sampingnya!
Mei pun langsung mengemudikan mobilnya setelah memastikan semua orang sudah duduk di tempat masing-masing.
Sesekali Darren menatap Mei yang fokus berkendara, tanpa dirinya sadari, di belakangnya ada orang tuanya yang memperhatikan dirinya.
Bersambung
__ADS_1