Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 43


__ADS_3

"Selamat malam Om, Tante," ucap Mario yang baru tiba di rumah orang tuanya Mei itu.


"Eh Mario, masuk dah," ucap Rojak yang sedang duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.


Setiap malam Rojak menang suka nongkrong di teras rumahnya untuk menikmati udara sejuk, rumahnya yang sederhana tidak memiliki AC sehingga membuat Rojak lebih suka di luar rumah sebelum dirinya tidur.


"Om, Mei nya ada?"


"Dia lagi keluar. Katanya ada keperluan sebentar."


"Lama gak ya?"


"Sini dulu, duduk di mari." Rojak mengajak Mario duduk bersamanya.


"Nyak buatkan minum dulu deh, mau minum apa?" tanya Saroh pada Mario.


"Apa aja Tante, sebelumnya maaf ya jadi ngerepotin."


"Kagak ape-ape." Saroh langsung masuk ke dalam rumahnya.


**********


"Darren, Nenek mau bicara," ucap Sarah.


"Bicara apa? Masuk Nek."


Sarah melangkahkan kakinya memasuki kamar Darren.


"Besok ulang tahunnya Gaby, Nenek sudah menyiapkan kejutan pesta ulang tahun untuk Gaby."


"Kok Nenek gak bilang dulu ke aku?"


"Ini Nenek bilang ke kamu."


"Iya tapi telat, seharusnya dari kemarin-kemarin dong biar aku bisa, bantuin."


"Udah ada Mama, Papa kamu yang bantuin, Bella juga bantuin kok."


"Di mana acaranya di adakan?"


"Di restoran xxx. Di sana tempatnya luas dan ada halamannya juga."


"Tapi Gaby belum tahu kan kalau acaranya mau diadakan di sana."


"Gak tahu lah, bukan kejutan namanya kalau dia udah tahu duluan."


"Terimakasih, Nenek dan semua orang di sini begitu perduli pada Gaby."


"Semua orang di rumah ini tuh sayang sama kamu dan juga Gaby. Oh ya besok kamu ajak Mei ya untuk menghadiri acara ini."


"Iya pasti lah, Nek tapi sebenarnya aku gak yakin kalau Mei mau ikut soalnya dia lagi gak mau aku ganggu."


"Eh kenapa? Bukannya kalian baru aja resmi pacaran?"


"Iya. Ada orang jahat yang menyerang Ibunya Mei dan meminta Mei untuk menjauhi aku."


"Ada-ada aja. Siapa orang yang sudah melakukan itu?"


"Aku gak tahu Nek, jadinya sekarang Mei gak mau ketemu aku dulu deh."


"Ini gak bisa dibiarkan. Kamu harus cari orang itu."

__ADS_1


"Aku pasti menyelidiki ini Nek, aku akan cari orang yang tepat untuk menangani ini."


"Ya sudah. Kamu coba aja ajak Mei besok ya, syukur-syukur dia mau."


"Iya Nek, Darren akan coba aku yang Mei mau sih karena dia sayang sama anak-anak."


*******


"Assalamu'alaikum!" seru Mei saat tiba di rumahnya.


"Waalaikumsalam," ucap semua yang ada di rumah orang tua Mei.


"Mario, udah lama di sini," ucap Mei pada Mario.


"Lumayan. Dari mana?"


"Ada urusan sedikit, aye gak perlu jelasin kan ya yang pasti aye gak berbuat jahat kok."


"Aku percaya. Gak mungkin lah kamu jahat sama orang."


"Kalian berdua ngobrol dah ya, Babeh mau istirahat di dalam."


"Gabung aja Om sama kita lagian gak ada sesuatu yang rahasia ini yang mau kita bicarakan," ucap Mario pada Rojak.


"Kagak apa-apa lagian Babeh udah lelah ni mau rebahan dulu."


Rojak pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua di teras rumahnya!


"Ada sesuatu yang mau aku tanyakan sama kamu." Mario menatap Mei dengan tatapan ragu.


"Bicara apa? Bicara aja jangan ragu."


Mei menatap balik Mario, tak ada senyuman ataupun ekspresi kemarahan. Mei terlihat biasa saja dan tetap santai.


"Jujur aku suka sama kamu tapi meski kita sudah dijodohkan, aku tidak akan memaksa kamu untuk mau jadi istri aku. Semua tergantung keputusan kamu kalau kamu bahagia aku juga bahagia."


"Sebelumnya aye minta maaf karena sejujurnya aye tidak cinta sama kamu. Itu artinya bukan aye gak suka ya karena suka sama cinta itu beda rasanya. Kamu tahu kan cinta gak bisa dipaksakan?"


Mario tersenyum tipis meski dihatinya ada kekecewaan karena cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Ya tidak apa, aku tidak bisa memaksakan cintamu. Darren laki-laki yang beruntung yang dapat memiliki kamu."


"Maaf ya, aye harap kamu dapat menerima keputusan aye ini. Kita masih bisa berteman kan seperti orang tua kita yang berteman baik sampai tua."


"Tentu saja. Jangan lupa undang aku ke acara pernikahan kamu ya."


"Belum ke arah pernikahan kok."


**********


"Ada apa malam-malam gini ngajak kita ketemuan?" tanya seorang laki-laki pada Joanna.


"Besok malam akan ada acara pesta ulang tahun Gaby di salah satu restoran mewah di sekitar sini dan pastinya Mei akan datang ke acara itu karena dia adalah calon Ibu sambungnya Gaby jadi kalian stay di restoran itu dan kalau ada kesempatan kalian langsung kasih dia peringatan."


"Pekerjaan gampang itu. Di restoran yang mana?"


"Restoran xxx. Ingat, acaranya malam hari mulai sekitar pukul sembilan belas. Sebelum pukul sembilan belas kalian harus sudah siap di sana. Saya tidak mau ketinggalan kesempatan emas ini."


"Siap, asal bayarannya lancar pekerjaan kami pun lancar."


"Bagus, saya tunggu besok. Ini uang muka nya." Joanna memberikan amplop berisi uang pada mereka berdua.

__ADS_1


"Oke, terimakasih. Kalau gitu kita pergi duluan." Dua laki-laki itu pun langsung pergi meninggalkan Joanna di tempat itu.


"Rencana gue kali ini pasti berhasil. Cewek itu pasti ketakutan dan akan meminta putus dari Darren," ucap Joanna di dalam hatinya.


Entah dari mana, Joanna tahu mereka akan menggelar pesta di restoran tersebut, mengingat keluarga Darren menyiapkan itu semua secara sembunyi-sembunyi.


**********


Keesokan harinya.


Darren datang ke pasar tempat biasa Mei bekerja.


"Mei, aku mau bicara," ucapnya sambil menggenggam pergelangan tangan Mei.


"Masih pagi ni, jangan pacaran dulu," ujar Karen.


"Bicara apa?"


"Tentang Gaby."


"Alasan aja, dasar duda bisa aja nyari alasan buat berlama-lama sama Mei," ucap Joni.


"Duda lebih berpengalaman makanya dia berhasil mendapatkan cintanya Mei," ucap Dion.


"Kalian apa sih, propokator aja," ucap Darren.


"Kenapa calon anakku aye?"


"Nanti malam kami sekeluarga mengadakan acara pesta ulang tahun Gaby di restoran xxx. Tapi Gaby gak tahu karena semua itu sengaja disiapkan sebagai kejutan untuknya dan didalam kejutan itu Gaby pasti lebih bahagia kalau ada kamu. Kamu mau gak hadir di acara itu?"


"Kalau untuk Gaby, aye siap tapi kalau cuma untuk ngeladenin kebucinan kamu, aye ogah."


"Ini murni demi Gaby, serius deh."


"Ya udah aye mau."


Darren tersenyum bahagia lalu tanpa sengaja dirinya mencium punggung tangan Mei.


"Darren jangan, belum sah tahu." Mei menarik tangannya yang sudah dicium oleh Darren itu.


"Maaf, lupa." Darren nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Oh ya kalian semua juga hadir ya," ucap Darren pada teman-temannya Mei.


"Anak-anak juga ajak ya Mei, orang tua kamu juga biar seru."


"Serius anak-anak boleh ikut?"


"Ya serius lah, kapan sih aku bercanda sama kamu."


"Terimakasih ya, kamu memang tahu banget cara bikin aye bahagia."


"Sebagai calon suami yang baik, sedikit demi sedikit aku harus tahu dan mengerikan apa yang membuat kamu bahagia."


Mei tersenyum lebar lalu memeluk Darren dengan erat!


"Ehhm-ehem!" Joni berdeham kencang. "Ada jomblo nih," ucapnya.


Dion dan Karen hanya tertawa mendengar perkataan Joni sedangkan Mei dan Darren masih asyik berpelukan sembari tersenyum bahagia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2