
Setelah lama melakukan perjalanan pulang, akhirnya Mei dan Darren tiba di rumah orang tua Mei. Mereka segera turun dari mobilnya setelah Darren menghentikan mobilnya di halaman rumah itu.
Darren langsung memangku Mei karena tahu istrinya itu sedang memiliki luka di telapak kakinya. Dia membawa istrinya itu memasuki area rumah dengan perasaan bahagia. Sementara itu, di depan pintu sudah ada keluarganya yang menyambut kedatangan mereka dengan penuh kegembiraan. Senyum bahagia terlihat dengan jelas di wajah mereka semua.
"Alhamdulillah, anak Babeh pulang juga," ucap Babeh Rojak sembari mengarahkan tangannya pada Mei dan Darren.
Nyak Saroh menangis sembari berusaha meraih Mei yang masih dalam pangkuan Darren. Dia tak sabar ingin segera memeluk anaknya itu. Setelah Mei turun dari pangkuan sang suami, dia langsung dipeluk dan dicium oleh Nyak Saroh dan Babeh Rojak, sementara itu, Bu Aryanti, Bu Sarah dan yang lainnya menunggu giliran untuk mengungkapkan rasa bahagianya atas kepulangan Mei.
Mereka menangis haru menyaksikan keluarga Mei yang sedang menangis bahagia, mereka bersyukur karena Mei dapat kembali pada mereka dengan selamat meski menderita luka di beberapa bagian tubuhnya. Setelah kedua orang tuanya selesai menumpahkan kerinduannya, kini Mei langsung memeluk erat Gaby. Betapa dia merindukan gadis kecil itu.
"Kamu Baik-baik, saja hmm?" tanya Mei sembari memeluk Gaby dan sesekali dia mencium pucuk kepala gadis itu.
"Seharusnya aku yang tanya. Mama baik-baik saja 'kan. Aku khawatir sama Mama, kami semua di sini khawatir sama Mama," ucapan Gaby sambil terus memeluk Mei.
"Mama gak apa-apa, Sayang. Selama ada doa dari kamu dan dari kalian semua, Mama akan baik-baik saja meskipun berada jauh dari kalian," ucap Mei.
Setelah puas memeluk sang ibu. Gaby segera melepaskannya dan langsung memeluk sang ayah yang sedari tadi hanya berdiri menatap mereka. Bu Aryanti, Bu Sarah dan Bella memeluk Mei secara bersama-sama. Berapa mereka bersyukur karena Mei selamat dan bisa pulang ke rumah dan berkumpul lagi bersama mereka.
"Alhamdulillah, ya, Sayang. Kamu bisa kembali, mama khawatir sama kamu," ucap Bu Aryanti lalu mencium kepala Mei.
"Maafkan aye karena sudah membuat, Mama dan semuanya khawatir," ucap Mei pada Bu Aryanti dan keluarganya.
"Kalian pastikan capek. Ayo masuk dan beristirahatlah!" Nyak Saroh meminta agar Mei dan Darren masuk ke rumah karena tahu, mereka pasti kelelahan.
Keluarga besar itu langsung masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu sedangkan Darren langsung membawa Mei masuk ke dalam kamar agar Mei langsung beristirahat. Dia ingin, agar istrinya itu menyenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum diserang oleh pertanyaan-pertanyaan yang sudah menumpuk di kepalanya.
__ADS_1
Di dalam kamar Mei.
"Istirahat dulu. Jangan membantah, kali ini aku tidak akan menuruti permintaanmu," ucap Darren sembari mengarahkan Mei untuk rebahan di tempat tidurnya.
"Iya. Bisa temani, aye? Aye kangen sekali sama kamu, Mas," ucap Mei yang kini sudah duduk di tepi ranjang.
"Tentu saja. Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau ngambil minum buat kamu," ucap Darren lalu segera keluar dari kamar itu.
"Terima kasih," ucap Mei dengan senyuman manis di bibirnya.
"Kerjaannya berterima kasih terus. Sekali, cium aku kenapa?" ucap Darren.
"Aye gak nafsu. Aye masih takut," ucap Mei.
Darren tersenyum lalu segera membuka pintu kamar itu dan pergi dari sana. Setelah dua hari menghilang, ternyata tidak ada yang berubah dari Mei. Darren bahagia karena istrinya masih Mei yang dulu, Mei yang ceria dan suka bercanda.
Di penjara.
Setelah melakukan berbagai usaha. Hari ini, Joanna bebas dari penjara. Dia bisa menghirup udara segar di tengah luasnya alam dunia, dia tersenyum pada tiga pengacara yang sudah membantunya untuk keluar dari sana.
Akhirnya hari ini dia dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari. Namun, bukannya bertaubat setelah mendapat hukuman itu, Joanna malah semakin berambisi untuk menghancurkan hidup Darren dan Mei yang sudah menjebloskan dirinya ke penjara itu. Joanna tak terima jika dirinya dihukum sedangkan mantan suaminya berbahagia dan malah melangsungkan pernikahannya dengan kekasih barunya yaitu Mei.
"Selamat, atas kebebasannya, Mbak Joanna," ucap salah satu pengacaranya.
"Terima kasih, Pak. Selamat juga atas keberhasilan kalian dalam menangani kasus saya," ucap Joanna pada mereka.
__ADS_1
"Terima kasih. Mari, Mbak! Kita langsung pulang saja," ucap pengacara yang satunya.
Mereka sudah menyiapkan mobil untuk membawa Joanna pulang ke rumahnya, sedangkan mereka langsung mengurus pekerjaan masing-masing. Joanna tersenyum ke arah tiga pengacara itu lalu dia, segera pergi dengan menggunakan mobil yang sudah disiapkan oleh pengacaranya. Di dalam mobil itu, Joanna terus terdiam sambil menikmati indahnya alam terbuka yang lama tidak pernah dia nikmati itu.
Selama perjalanan menuju rumahnya, perempuan itu terus memikirkan cara bagaimana menghancurkan kenyataanya Darren. Cinta yang dimilikinya untuk Jo, kini berubah menjadi dendam karena kini Darren sudah bersama perempuan lain. Dirinya tidak rela jika Darren bahagia dengan orang lain dan bukan dengan dirinya.
"Awas saja, kamu Darren. Kalau aku tidak dapat memiliki kamu, maka tidak ada siapa pun yang boleh memiliki kamu," batin Joanna.
"Kita sudah memiliki satu anak, tapi aku tidak keberatan jika aku harus mengancam keselamatanmu. Gaby akan menjadi milikku setelah kehidupan kamu hancur," batin Joanna.
Ya. Meski dirinya pernah meninggalkan Darren dan Gaby, tapi dirinya masih mempunyai rasa sayang pada putri yang dilahirkannya itu. Dirinya pernah melakukan kesalahan fatal hingga sekarang dirinya tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bersama dengan Darren, tapi untuk Gaby, dirinya akan berusaha untuk mendapatkan kasih sayang Gaby meski apa pun caranya. Dia tahu bahwa Gaby tidak mengenalnya dan tidak mengetahui bahwa dirinya adalah ibu kandung Gaby, tapi perlahan dirinya akan membuktikan bahwa Gaby memanglah anaknya yang sudah dia lahirkan.
*******
Di pasar.
"Ini, Mbak, tasnya!" Joni memberikan tas itu pada perempuan pemilik tas itu.
Setelah berusaha mengejar si penjambret, akhirnya mereka berhasil mengamankan maling itu. Joni langsung mengembalikan tas itu pada pemiliknya sedangkan Dion menyerahkan perampok itu pada pihak berwajib. Di tempat lain yang masih area pasar itu, Karen baru membaca chat dari Niki yang mengabarkan bahwa Mei sudah tiba di rumahnya. Dia tersenyum dan langsung mencarinya Joni untuk memberitahukan kabar gembira itu.
"Jon! Cem-ceman, Lu udah tiba, tuh di rumahnya," ucap Karen.
Joni mengalihkan pandangannya ke arah Karen. Dia langsung tersenyum bahagia. "Gila, Lu. Cem-ceman gue dulu, sekarang dia udah jadi bini orang," ucap Joni.
"Bang, terima kasih ya," ucap perempuan itu pada Joni.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Sekarang udah aman, aye patroli dulu ya. Siapa tahu ada maling yang tersisa," ucap Joni pada perempuan itu yang hanya dibalas senyuman oleh perempuan itu.
Bersambung