
Di luar kafe itu, Joanna menunggu Darren dan Mei.
"Pokoknya gue harus tahu dimana cewek itu tinggal, gak ada yang boleh memiliki Darren selain gue," ucap Joanna didalam hatinya.
Joanna terus diam didalam mobilnya sambil melihat kearah pintu keluar masuk kafe itu.
"Lama banget sih mereka, sebenarnya apa saja yang mereka lakukan didalam sana?" Joanna mulai kesal karena Darren dan Mei tidak kunjung keluar dari kafe itu.
Di dalam kafe.
"Jadi sampai kapan aku harus menunggu kamu sampai kamu siap menikah?" tanya Darren.
"Ya aye gak tahu lah. Aye kan belum mikirin lebih lanjut lagi," sahut Mei.
"Jangan lama-lama ya, udah gak tahan nih."
"Gak tahan apanya."
"Gak tahan pengen nikahin kamu lah, apa lagi?"
Mei menatap Darren dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Ngapain menatap aku seperti itu?"
"Aye pengen lihat wajah duda nyebelin itu," ucap Mei dengan santainya.
"Duda nyebelin, kapan aku bikin kamu kesel?"
"Gak ngerasa dia. Tiap hari juga kamu bikin aye kesel."
"Tapi kamu suka kan?" goda Darren.
"Sedikit."
"Nanti juga bertambah seiring berjalannya cinta kita."
"Ish lebay."
"Boleh aku cium kamu."
"Hah." Mei menatap Darren dengan tatapan matanya yang terbuka lebar.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Cium apa? Kalau mau cium sandal aye boleh-boleh aja."
"Masa orang ganteng gini nyium sandal, ya apa kek, misalnya pipi kamu."
"Enak aja. Mau aye bogem!"
Darren tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Kamu ternyata masih galak meski aku sudah jadi pacar kamu."
__ADS_1
"Pulang yuk, udah malam nih."
Darren melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua puluh dua lewat dua puluh lima menit.
"Gak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ya udah yuk kita pulang nanti aku diomelin orang tua kamu lagi gara-gara ngantar kamu pulang kemalaman."
"Nah itu tahu, jangan sampai kita putus besok pagi."
Darren bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Mei.
Mei meraih tangan Darren lalu beranjak dari duduknya!
Mereka berjalan berdampingan keluar dari cafe itu.
"Gue harus ikuti mereka, pokoknya cewek itu gak boleh sampai menikah sama Darren," gumam Joanna saat melihat Darren dan Mei.
Joanna pun langsung mengikuti kemana arah mobil Darren pergi!
*******
Di kamar Mario.
"Astaga, kenapa aku jadi kepikiran terus? Mei jadian gak ya sama duda itu? Kalau iya berarti aku harus siap melupakan Mei. Hah semoga aja tidak." Mario merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut!
Mario tidak bisa tidur karena terus memikirkan Mei, awalnya dia memang bersikap biasa saja seolah jodoh ataupun gak jodoh tidak ada masalah baginya namun sekarang saat dirinya benar-benar jatuh cinta pada Mei, dirinya mulai gusar dan susah tidur karena teringat Mei yang ternyata dikejar cinta oleh seorang laki-laki yang berstatus duda anak satu.
"Siap gak siap harus siap. Mario, perempuan bukan cuma Mei jadi sekarang kamu harus tidur."
Mario pun menutup matanya dan mulai berpindah ke alam mimpi.
"Oh jadi di sini rumah gadis itu," gumam Joanna setelah mobil Darren berhenti di depan rumah Mei.
Dari jarak yang lumayan jauh, Joanna terus memperhatikan mereka untuk memastikan bahwa Mei memang tinggal di sana.
Setelah Mei masuk dan Darren pun sudah siap untuk pulang, Joanna langsung pergi sebelum Darren mengetahui bahwa dirinya mengikutinya mereka.
*******
Pagi hari sekitar pukul setengah lima pagi.
"Mei bangun udah azan subuh," ucap Saroh sembari mengutuk pintu kamar Mei.
"Iya Nyak, aye udah bangun," sahut Mei dari dalam kamarnya.
"Udah bangun diem-diem aja lu didalam sarang. Cepat bangun bukannya lu mau ke pasar?"
"Iya-iya Nyak, sabar napa sih." Mei membuka pintu kamarnya dan berdiri di depan sang Ibu.
"Astaga, lu masih pakai baju ginian."
Melihat Mei yang masih menggunakan dress yang dikenakannya saat pergi bersama Darren, membuat Saroh bertanya-tanya. Biasanya putri satu-satunya itu tidak pernah betah berlama-lama memakai pakaian seperti itu.
"Iya Nyak, semalam aye ngantuk banget jadi aye langsung tidur. Lupa gak ganti baju dulu."
__ADS_1
"Ya udah, mandi terus sholat sana kalau bisa lu pakai baju gitu lagi aja ke pasarnya biar keliatan perempuannya gitu."
"Yang ada bukan ngamanin pasar Nyak kalau aye pakai baju ginian, nanti yang ada malah bikin heboh satu pasar ntu."
"Ya udah cepat mandi." Saroh meninggalkanmu Mei di sana karena dirinya harus lanjut memasak untuk mereka sarapan.
Setelah setengah jam akhirnya Mei selesai dengan semua urusan pribadinya, kini dia siap untuk pergi ke pasar dan mulai bekerja di hari itu.
"Pagi pacarku."
Saat Mei membuka pintu rumahnya, Darren sudah ada didepan pintu dan hendak mengetuk pintu, namun niatnya diurungkan karena Mei membuka pintu sebelum dirinya mengetuk pintu itu.
"Astaghfirullah, kamu ngapain di mari?"
"Udah dandanan preman gini masih aja ingat sama Allah."
"Kamu pikir aye gak ingat sama Allah kalau udah berpakaian kayak gini? Eh jawab dulu ngapain kamu di sini?"
"Aku kangen sama kamu."
"Sekarang baru jam lima pagi, pulau sana, aye mau kerja."
"Aku tahu. Dari jam empat aku udah jalan ke sini. Ayo aku antar kamu ke pasar."
"Et dah jam empat, kayak gak ada waktu lain aja."
"Aku gak tahan pengen ketemu kamu lagi. Aku kangen sama kamu."
"Ish bulshit aja."
"Nggak, aku serius."
"Udah dah, aye mau kerja. Aye bawa motor aja karena nanti aye kudu nganterin makanan ke tempat anak-anak aye."
"Kalau gitu kita naik motor aja, biar mobil aku tinggalin di sini."
"Terserah kamu dah, ayo cepat nanti aye kesiangan." Mei naik ke motornya dan mulai menyalakan mesinnya tak lupa dia memakai helmnya demi menjaga keselamatan dirinya.
"Aku dibonceng nih," ucap Darren.
"Iya lah, emang kamu bisa bawa motor?"
"Bisa dong. Mobil aja bisa masa motor enggak."
"Ya udah pakai tuh helmnya dan kamu yang bawa motornya." Mei kembali turun dari motornya dan membiarkan Darren yang mengemudikan kendaraan roda dua itu.
"Ayo naik, jangan lupa pegangan ya soalnya aku mau ngebut."
"Jangan cari kesempatan dalam kesempatan kamu."
"Kalau kesempatannya ada kenapa gak digunain."
"Iih kamu ya, awas aja nanti aku jewer kupingnya."
__ADS_1
Bersambung