
"Mana yang gadis itu?" tanya seorang laki-laki bertubuh besar dengan nada tinggi.
"Siapa yang kalian maksud?" Saroh bertanya balik kepada mereka.
"Gadis ini!" Seorang laki-laki itu memperlihatkannya foto Mei yang diberikan oleh Joanna pada mereka.
"Dia pasti anak lu kan."
"Iya, dia anak saya. Ada apa kalian mencari dia sekarang dia tidak ada di rumah, dia sedang bekerja."
"Dimana dia bekerja?"
"Kalian pasti mau menyakiti anakku. Aku tidak akan memberitahu kalian."
Plak!
Salah satu dari dua laki-laki itu menpar Saroh sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Aaah," ringis Saroh.
Mereka lanjut mengacak-acak rumah itu tanpa menghiraukan Saroh yang yang memohon agar mereka tidak mengacak-acak rumahnya.
"Dengar baik-baik. Bilangin sana anak lu itu, agar menjauhi Darren kalau dia masih dekat-dekat dengan Darren kami berdua tidak akan segan-segan untuk melakukan yang lebih dari ini!"
Dua laki-laki itu langsung pergi meninggalkan Saroh di sana.
*******
Di pasar.
"Aye pulang duluan ya, hari ini ada jadwal ngajarin anak-anak baca," ucap Mei pada teman-temannya.
"Ya usah pulang sana lagian pasar udah sepi, udah mau tutup juga kayaknya," ucap Joni.
Mei tersenyum lalu mulai melangkahkan kakinya menuju motornya yang diparkirkan tak jauh dari tempat mereka berada saat itu!
"Mei hati-hati kalau jalan berdua sama Darren," goda Karen.
"Kenapa?"
"Dia sudah lho, biasanya duda suka nakal."
"Haha bisa aja lu, emang Dion gak nakal?"
"Preman, mana ada yang nakal adanya brutal."
"Et dah serem dong."
"Kalian ngomongin apa sih?" ucap Joni.
"Jomblo, gak bakalan ngerti," ucap Mei dan Karen secara bersamaan.
__ADS_1
Mereka berdua saling tatap lalu tertawa renyah.
"Bisa barengan gitu ya," ucap Dion.
"Udah ya teman-teman, aye, pulang dulu. Sampai bertemu lagi besok." Mei langsung pergi meninggalkan pasar itu!
"Karen, kita jalan yuk nanti malam," ucap Dion pada Karen.
"Boleh, tapi sekitar abis isya aja ya soalnya dari abis maghrib gue ada acara keluarga."
"Oke nanti aku jemput kamu jam delapan ya."
"Pacaran terus. Kalian tega ya sama gue, kalian malah mau pacaran dibandingkan dengan jalan bersama gue," ucap Joni.
"Makanya lu cari pacar. Setahu gue tuh si Zubaidah masih jomblo juga, lu deketin aja dia."
"Ya elah masa gue sama karung goni."
*******
Setibanya di rumahnya. Mei begitu terkejut saat melihat isi rumahnya yang seperti pesawat jatuh,, dia pun berjalan cepat untuk mencari Ibunya.
"Nyak! Nyak! Nyak dimana?"
"Mei, lu udah pulang," ucap Saroh yang sedang berada di dapur.
"Astaghfirullah Nyak! Darah, kenapa Nyak berdarah gitu?"
"Siapa yang melukai Nyak? Apa mau mereka?"
"Ada dua laki-laki yang datang ke rumah, tiba-tiba mereka ngamuk-ngamuk di sini dan meminta agar lu menjauhi Darren, mereka juga mengancam Nyak katanya kalau lu gak jauhin Darren, mereka akan melakukan yang lebih dari ini bahkan gak akan segan untuk menyakiti lu," jelas Saroh.
Mei mengeratkan rahangnya hingga terdengar suara gemeltuk giginya yang beradu satu sama lain, bersamaan dengan itu Mei juga mengepalkan tangannya dengan erat.
Amarah yang tinggi kini menyelimuti hati Mei, dirinya tak terima dengan perlakuan mereka pada Ibunya.
"Sialan, siapa mereka? Apa Nyak kenal sama mereka?"
"Tidak, Nyak juga tidak melihat mereka dengan jelas. Tadi Nyak terlalu takut jadinya Nyak gak bisa mengingat mereka."
"Udah-udah, kita cari tahu mereka nanti aja sekarang aye obati dulu luka nya ya Nyak."
Mei meraih saputangan yang dipegang oleh Saroh lalu mulai membersihkan darah itu untuk selanjutnya dia akan mengobati luka berdarah dan juga luka lebam yang terdapat di wajah Saroh.
"Entah apa yang mereka lakukan sama Nyak sampai Nyak seperti ini. Awas aja kalau sampai mereka ketemu, wajah mereka akan lebih parah dari wajah Nyak aye sekarang. Aye gak terima orang tua aye diginiin cuma karena ada masalah cinta dengan aye," ucap Mei didalam hatinya.
"Udah selesai, Nyak istirahat aja biar aye yang beresin ni rumah."
"Nyak kagak apa-apa Mei, Nyak bisa kok beresin sendiri lagian sekarang kan jadwalnya lu ngajar di kolong jembatan."
"Nyak, aye gak bisa ninggalin Nyak dalam keadaan seperti ini. Biarin ngajarnya di undur ke besok atau nanti setelah maghrib."
__ADS_1
"Mei kasian nanti mereka nungguin lu."
"Kagak ape-ape Nyak, mereka pasti ngerti kalau Mei telat sepuluh menit itu artinya Mei gak akan datang. Udah Nyak masuk kamar biar aye yang ngerjain semua ini."
**********
"Gadis ini tidak ada di rumahnya tapi kami sudah melakukan pekerjaan kami lewat Ibunya. Ini foto keadaan rumahnya setelah kami melakukan tugas kami," ucap laki-laki itu sembari memperlihatkan sebuah foto dalam ponselnya pada Joanna.
"Bagus, tapi aku ingin kalian kerjain langsung gadis ini, bukan ibunya."
"Tenang aja, kalau kita ketemu sama dia kita pasti akan melakukan pekerjaan kami yang belum selesai ini."
"Oke, aku tunggu konfirmasi selanjutnya."
**********
Sembari menyapu rumahnya, Mei terus menerus memikirkan siapa orang yang sudah menyakiti Ibunya dan memintanya untuk menjauhi Darren.
Setelah Mei tiba di teras rumah dia melihat CCTV milik tetangganya yang mengarah ke jalanan didepan rumahnya dia pun langsung terpikir untuk melihat rekaman CCTV-nya untuk melihat orang yang sudah berbuat jahat pada ibunya.
"Pasti kelakuan jahat mereka terekam CCTV, aye kudu ke rumah Bu Ayu untuk melihat rekaman tadi siang," gumam Mei.
Mei pun menaruh sapu yang dia pegang di pojokan rumahnya lalu bergegas menghampiri rumah tetangganya!
"Assalamu'alaikum! Assalamu'alaikum Bu Ayu!" seru Mei sembari mengetuk pintu rumah tetangganya itu.
"Waalaikumsalam, Mei ada apa? Ayo masuk," ucap Bu Ayu dengan ramah.
Mereka memang selalu menjalin hubungan baik dan tak pernah bermasalah dengan tetangga lainnya.
"Terimakasih Bu." Mei melangkah memasuki rumah mewah milik sang tetangga.
"Duduk Mei, mau Ibu buatkan minum?"
"Gak usah Bu, aye kemari mau numpang lihat video rekaman CCTV yang didepan boleh gak ya Bu?"
"Oh boleh, memangnya ada apa Mei?"
"Tadi ada yang ngacak-ngacak rumah sampai melukai Nyak, aye pengen tahu orangnya biar bisa aye laporin ke polisi."
"Astaghfirullah, kok Ibu gak dengar ada keributan. Kalau gitu ayo kita kecurangan CCTV!"
Tak perlu waktu lama, hanya butuh waktu beberapa detik akhirnya mereka tiba di ruangan CCTV tersebut.
Bu Ayu langsung memutar video rekaman di waktu yang Mei minta.
"Sekitar pukul tiga belas sampai lima belas siang Bu," ucap Mei.
"Iya, sebentar ya."
Mei dan Bu Ayu terus memperhatikan rekaman itu dengan seksama mereka penasaran dengan wajah orang yang tega melukai Saroh.
__ADS_1
Bersambung