
Di kamar Darren dan Mei.
Dengan penuh kehati-hatian Darren membersihkan luka memar itu dan langsung mengompresnya dengan es batu. Dia begitu khawatir pada Mei padahal istrinya itu hanya menderita luka ringan.
"Udah, ini gak sakit," ucap Mei.
"Kamu gak sakit tapi aku yang meringis melihat kamu begini. Aku gak mau ya kamu berantem hanya karena menolong orang yang tidak dikenal, bisa saja orang yang kamu tolong itu memang penjahat," ucap Darren.
"Aye gak bisa melihat orang ditindas. Bawaannya gimana gitu kalau melihat orang susah," sahut Mei.
"Jadi orang jangan terlalu baik, nanti dimanfaatkan orang lain," ucap Darren sambil terus menempelkan es batu itu di kening Mei.
"Jadi orang jangan terlalu curigaan dan kalau benci jangan keterlaluan nanti bisa jatuh cinta lalu bucin gak ketulungan," timpal Mei.
"Maksud kamu apa?" tanya Darren tak mengerti.
"Gak ingat dulu kamu seberapa bencinya sama aye? Aye harap, sih jangan sampai lupa," ucap Mei.
Darren menurunkan tangannya dan meletakkan alat kompres itu di dalam baskom kecil yang sudah dia siapkan tadi. Dia tersenyum sambil terus menatap wajah sang istri, dia mengulum bibirnya karena merasa malu pada Mei.
"Itu masa lalu. Kenapa kamu harus membicarakan itu?" ucapnya.
"Karena aku ingin mengingatkan kamu bahwa tidak baik berburuk sangat pada orang yang tidak kita kenal," jelas Mei.
"Yang kamu tolong itu laki-laki atau perempuan?" tanya Darren.
"Laki-laki," sahut Mei jujur.
"Masih muda atau udah tua? Kira-kira dia udah menikah belum?"
"Kenapa bertanya seperti itu. Gak berfaedah banget," ketus Mei.
"Aku cemburu. Memang gak boleh."
__ADS_1
"Eh, cemburu juga ada batasnya kali. Kalau semua orang kamu cemburui nanti aye kagak bakal punya teman," ucapan Mei lagi.
"Maaf. Aku terlalu cinta sama kamu," ucap Darren.
"Ih, dasar duda bucin," gumam Mei.
"Udah malam. Makan malam dulu yuk!" ucap Darren sembari beranjak dari duduknya dengan tangannya yang menarik tangan Mei.
Mei hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Darren keluar dari kamarnya. Mereka berjalan menuju ruang makan yang mungkin keluarganya sudah berkumpul di sana.
"Mama, ayo makan. Gaby udah nunggu dari tadi," ucapan Gaby saat melihat Mei dan Darren berjalan ke arah meja makan.
"Iya, Sayang. Maaf membuat kamu menunggu lama tadi mama kamu terluka jadi, Papa harus mengobatinya dulu," jelas Darren pada Gaby.
"Mama terluka kenapa?" tanya Gaby khawatir.
"Mama kamu abis be–"
"Duduklah. Ayo makan sama-sama," ucap Pak Wiliam pada Darren dan Mei.
*******
Di kediaman orang tua Mei.
"Beh, semenjak Mei menikah rumah kita sepi kagak ada dia," ucap Nyak Saroh pada suaminya.
"Gimana lagi, sekarang dia udah bukan milik kita seutuhnya. Sekarang dia udah jadi milik suaminya," jelas babeh Rojak.
"Apa gak sebaiknya kita jemput anak-anak biar tinggal di sini? Sekarang kita udah bangun kamar tuh di belakang. Satu buat Amel dan Niki dan yang satu buat Bayu dan Alif," ucap Nyak Saroh lagi.
Nyak Saroh dan Babeh Rojak memang hanya memiliki satu anak, yaitu Mei. Setelah Mei menikah dan dibawa pergi oleh suaminya, mereka menjadi kesepian. Biasanya rumah mereka selalu ramai oleh teman-teman Mei yang selalu datang berkunjung tapi sekarang mereka sudah tidak pernah datang ke rumah mereka lagi karena memang sudah tidak ada orang yang mereka temui di rumah itu.
"Besok gue jemput mereka dah. Lagipula kita bangun kamar, emang buat mereka, biar mereka bisa tinggal sama kita. Sekarang Mei pasti sibuk ngurus suami dan anaknya kalau bukan kita yang ngurus anak-anak kesayangan Mei itu, siapa lagi?" ucap Babeh Rojak.
__ADS_1
"Abang emang paling ngerti kemauan aye. Makasih ye, Bang," ucap Nyak Saroh sumringah.
"Gue emang selalu ngerti apa yang lu mau, lu nya aja baru nyadar," ucap Babeh Rojak.
*******
Di kediaman Hengky.
Pemuda itu masih terjaga meski malam sudah mulai larut. Dia terus saja memikirkan Mei yang kini sudah dimiliki orang lain, sedari dulu dirinya hanya mencintai Mei tapi setelah dirinya kembali ternyata Mei sudah dimiliki oleh laki-laki lain yang ternyata lebih kaya darinya.
"Kenapa Mei? Kenapa begitu tipis kesetiaan kamu untukku? Aku sudah berjuang untuk kita tapi kamu malah menikah dengan laki-laki itu. Apa karena dia orang kaya? Sehingga kamu melupakan janji kita untuk hidup bersama sampai maut yang memisahkan," gumam Hengky sembari menatap foto Mei yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi.
Dia terus menatap foto Mei sambil terus mengusapnya dengan ibu jarinya. Entah mengapa dirinya ingin sekali memiliki Mei meski tahu bahwa sekarang gadis yang dicintainya itu sudah menikah dan pastinya sudah bahagia dengan keluarganya.
"Aku akan melakukan cara apa pun untuk mendapatkan kamu lagi, Mei. Meski kamu sangat tangguh tapi aku akan tetap berusaha, kamu hanya boleh menjadi milikku," batin Hengky sembari mengepalkan tangannya.
********
Di rumah sakit.
Satya masih terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan penjagaan ketat di depan ruangan rapatnya. Dia mendapatkan luka serius akibat penyerangan yang dia alami tadi siang yang mengharuskan dirinya dirawat di rumah sakit itu. Malam ini dia tidak bisa tidur, baru pertama kali dia melihat dan menemukan gadis seperti yang dia impikan. Gadis tangguh yang tidak manja dan tidak bergantung pada orang lain untuk keselamatan dirinya, gadis yang malah bisa menyelamatkan orang lain dari kesusahan.
"Aah, aku tidak bisa istirahat dengan tenang. Gadis itu selalu menggangguku," batin Satya yang selalu melihat wajah Mei di mana-mana.
"Apa aku jatuh cinta padanya? Tapi siapa dia, di mana aku bisa menemukan dia lagi?" tanya Satya pada dirinya sendiri.
Maisya Melanie ... gadis cantik yang selalu berpakaian tomboi itu memang selalu berhasil memikat para laki-laki. Dia banyak disukai orang tapi sayangnya dia tidak mudah didapatkan hingga orang tuanya pun kewalahan menolak pemuda yang ingin memperistri Mei. Mei memang cantik. Kulitnya putih, wajahnya berbentuk oval, hidungnya mancung dan memiliki bola mata berwarna biru cerah meski tanpa make_up, Mei masih terlihat cantik ditambah lagi dengan kemampuan bela dirinya semakin menambah daya tarik para laki-laki untuk mendapatkan cintanya.
Malam semakin larut tapi Satya belum tertidur sedikit pun, bayangan wajah Mei selalu datang saat dirinya menutup mata dan wajahnya pun selalu melintas di pikiran Satya saat pemuda berusia dua puluh lima tahun itu membuka matanya. Rasa ingin memiliki semakin menggebu didalam hatinya, apa lagi selama ini Satya tidak pernah mendapatkan penolakan dari siapa pun. Apa pun yang dia inginkan harus terkabulkan dan pasti akan terkabulkan, dengan uang yang dia miliki, semua orang tidak pernah menolaknya dan membantah keinginannya.
Bersambung
__ADS_1