
Satya bangkit dari duduknya lalu berjalan ke tepi kolam renang. Dia menatap air kolam renang yang jernih dan terlihat tenang, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dengan posisi membelakangi sang ibu, Satya berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Gimana kondisi perusahaan yang di luar negeri, Ma?" tanya Satya.
Bu Widya tersenyum. Dia tahu putranya pasti akan mengalihkannya pembicaraan mereka. Itu memang sudah kebiasaannya sejak beberapa tahun lalu.
"Gimana dengan calon menantu mama?" bukannya menjawab pertanyaan sang putra, Bu Widya malah bertanya lagi pada Satya.
"Lupakan tentang menantu. Aku sedang bicara tentang perusahaan," ucap Satya yang tak ingin membicarakan soal perempuan.
"Lupakan tentang perusahaan. Mama sedang berbicara soal nasib pecinta kamu," ucap Bu Widya yang tak ingin kalah dari sang anak.
Satya berbalik, ditatapnya wajah sang ibu yang saat itu sedang menatapnya. Dia tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. Dirinya dan sang ibu memang sama-sama keras kepala, sama-sama tak ingin mengalah.
"Kenapa tertawa?" tanya Bu Widya.
"Aku ada perempuan. Dia cantik, dia baik, tapi aku belum mantap dengannya. Aku sedang melakukan pengenalan lebih dalam lagi dengannya," jelas Satya berbohong, padahal dia sedang berusaha mencuri istri orang.
Bu Widya tersenyum gembira kala mendengar pernyataan sang anak. Gitu, dong. Dari tadi kek bilangnya," ucap Bu Widya.
"Dia masih sangat dirahasiakan. Sebenarnya aku gak mau, Mama tahu dulu karena takut putus ditengah jalan. Tapi ya, karena, Mama memaksa, aku terpaksa bilang gini," jelas Satya.
*******
Di kediaman Babeh Rojak.
Niki dan Gilang duduk bersebelahan di kursi yang ada di teras depan rumah itu. Mereka sedang berbicara, membicarakan tentang buku milik Niki yang kemarin dipinjam oleh Gilang. Sementara itu, Bayu berdiri di samping Niki, dia hanya diam sembari terus mendengarkan pembicaraan mereka.
"Eum ... Bay, ngapain berdiri di situ? Duduk di sini kalau mau ikutan ngobrol," ucap Niki yang merasa tidak nyaman dengan Bayu yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
"Nggak, aku di sini saja," sahut Bayu dengan nada bicara n yang datar, wajahnya pun tak mengeluarkan ekspresi apa pun.
__ADS_1
"Tenang aja, Bay. Gak usah disatroni juga gak apa. Aku gak akan mencuri apa pun apa lagi sampai menculik Niki," ucap Gilang.
"Aku gak percaya sama anak laki-laki macam kamu. Kalian ini baru usia enam belas, jadi jangan macam-macam," ucap Bayu.
Niki tersenyum, rupanya Bayu mengkhawatirkan dirinya. Ternyata selama ini sikap Bayu yang bodo amat padanya, ada rasa perduli yang sangat besar yang tidak pernah diperlihatkan padanya.
"Gilang, kalau ada materi pelajaran yang kamu gak ngerti, kamu boleh tanya sama aku. Aku siap untuk menjelaskannya selama aku bisa," ucapan Niki pada Gilang.
"Makasih, ya. Aku senang punya teman seperti kamu," sahut Gilang dengan senyum bahagia.
"Aku juga paham dan menguasai Beber mata pelajaran. Kalau mau boleh bertanya padaku juga," ucap Bayu yang kelasnya satu tingkat lebih tinggi dari Niki.
Saat ini Niki duduk di kelas 10 sedangkan Bayu di kelas 11. Mereka sekolah di satu sekolah yang sama, jadi setiap hari mereka bisa berangkat dan pulang sekolah bareng. Darren memang sengaja mendaftarkan mereka di sekolah yang sama agar saat ada acara di sekolah, Mei tidak repot ke sekolah lainnnya untuk menghadiri acara tersebut.
"Beda kelas kali, Bay," ucap Gilang.
"Tapi kita masih bisa bertemu di luar kelas saat jam istirahat tiba," sahut Bayu.
*******
Keluarga itu baru selesai membuat mue brownies coklat seperti yang disukainya oleh Darren. Gaby dan Darren sedang menunggu kue itu dihidangkan oleh Mei, mereka duduk dengan tenang di kursi makan dengan tangan yang sudah memegangi sendok masing-masing. Mei menatap mereka sekilas, terapi tangannya tak berhenti bergerak. Dia terus menuangkan brownies itu ke piring.
Setelah selesai, Mei segera meletakkan kue itu di hadapan Darren dan Gaby. Ada rasa ragu dalam hatinya, ragu kalo kuenya akan terasa seperti yang sudah mereka bayangkan. Ini kali pertamanya Mei membuat kue dan dia pun merasa tidak percaya diri dengan kue hasil buatannya itu.
"Enak gak, ya?" tanya Mei.
"Dicoba aja belum. Udah bertanya aja," ucap Darren.
"Aku coba ya, Ma," ucap Gaby sembari menyendok ujung kue itu. Dia melahapnya dan langsung mengunyah kue itu.
Mei menatap Gaby dengan mata yang tak berkedip sekali pun. Dia penasaran apakah anaknya itu menyukai kuenya atau tidak.
__ADS_1
"Biasa aja, Ma. Lagian kalau pun kuenya gak enak, gak masalah juga. Ini bukan perlombaan," ucap Darren.
"Mama penasaran, Pa," ucap Mei.
"Enak. Kuenya enak," ucap Gaby sambil menyendok kue itu untuk yang kedua kalinya.
"Masa?" Darren langsung menyendok kue itu dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Em, iya. Ini enak," ucap Darren sembari mengunyah kue itu.
"Serius?" Mei penasaran, akhirnya dia mencicipi kue itu dan seketika dirinya ingin memuntahkan lagi kue yang saat ini sedang dalam mulutnya.
"Em, kok rasanya aneh gini ya?" ucap Mei setelah minum.
Gaby dan Darren tertawa kecil melihat Mei yang tak suka dengan kue buatannya sendiri, sedang Darren dan Gaby masih memakan kue itu meski rasanya sedikit aneh. Bukannya mereka suka dengan kue itu, tapi mereka menghargai kerja keras Mei saat membuat kue itu.
"Jangan dimakan. Orang gak enak juga," ucap Mei sembari menarik brownies itu.
Darren dan Gaby masih setia menyendok kue itu hingga kue itu sudah diambil oleh sang pembuatannya, mereka masih berusaha mendapatkan kue itu. "Apaan, Sih kamu. Orang kita lagi makan kuenya," ucap Darren.
"Iya. Mama kenapa jadi kejam gini?" sambung Gaby.
"Ini gak enak," ucap Mei.
"Tapi aku suka. Ini enak, Ma cuma kayaknya kurang gula deh. Ini gak manis," ucap Gaby.
"Iya, emang gak dikasih gula. Tuh gulanya masih utuh," ucap Darren sembari menunjuk ke arah gula yang masih utuh yang terletak di meja dekat kompor.
Mei mengikuti arah telunjuk sang suami. Dia tersenyum tipis setelah melihat gulanya masih utuh. "Astaghfirullah, maaf ya brownies. Pantas rasanya gak enak, ternyata gulanya masih utuh. Aye lupa nambahin gula pada adonannya," ucap Mei.
Darren dan Gaby kembali tertawa. Termasuk perempuan di depan mereka itu begitu unik sampai meminta maaf pada kue buatannya. Keluarga kecil itu memang selalu dekat, kehidupan mereka jauh dari kata pertengkaran apa lagi dengan perpisahan.
__ADS_1
Darren yang selalu mengertikan dan selalu menjaga perasaan Mei, membuat hubungan pernikahan mereka tidak pernah ada kata cek-cok. Begitu pun dengan Mei yang tak pernah mempermasalahkan handuk basah yang terletak di sembarangan tempat, bahkan baju kotor milik Darren yang berserakan di mana-mana, membuat hubungan keduanya selalu harmonis. Kehadiran Gaby yang selalu membuat mereka bahagia pun semakin membuat kehidupan di rumah mereka penuh warna.
Bersambung