Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 6


__ADS_3

Di sebuah kolong jembatan yang ada di Ibu kota.


Mei berjalan melewati beberapa gubuk yang berdiri di sana!


"Kak Mei!" seru seseorang pada Mei.


"Eh kamu, dari mana kamu?" tanya Mei pada anak laki-laki itu.


"Aku dari warung, habis membeli obat panas untuk Amel," sahut Bayu~anak jalanan yang kini menjadi adik asuhnya Mei.


"Amel sakit? Kenapa gak ada yang ngasih tahu kakak?"


"Panasnya juga baru barusan kak, kan tadi siang kakak tahu sendiri Amel baik-baik aja."


"Ya udah ayo cepat kita samperin dia!"


Dengan langkah cepat, Mei berjalan menuju gubuk tempat adik-adik asuhnya tinggal.


"Amel! Amel kamu kenapa bisa kayak gini?" tanya Mei setelah tiba di gubuk reot itu.


Mei merangkul tubuh mungil Amel dan membawanya ke pelukannya.


"Dingin kak," lirih Amel.


Saat itu tubuh Amel sangat panas dan juga menggigil. Entah kenapa tubuh mungil gadis berusia enam tahun itu tiba-tiba panas padahal sebelumnya dia baik-baik saja."


"Ya udah kita ke Dokter aja yuk!" ucap Mei sembari mengangkat tubuh Amel dan membawanya keluar dari tempat itu.


"Bayu, kamu jaga Alif ya dan kamu Niki ayo temani kakak ke klinik terdekat aja."


Alif adalah anak laki-laki berusia delapan tahun yang juga menjadi adik asuh Mei sejak beberapa bulan terakhir.


"Baik kak, aku ikut kak Mei," ucap Niki sembari beranjak dari duduknya.


Gadis berusia lima belas tahun itu segera mengiyakan perkataan Mei yang memintanya untuk ikut bersama Mei ke klinik atau puskesmas terdekat.


"Ayo cepat!"


Bayu dan Alif hanya diam sembari menatap Mei dan Niki.


"Semoga Amel baik-baik aja ya kak," ucap Alif pada Bayu.


"Iya, kita doakan saja yang terbaik untuk Amel ya. Ayo kita istirahat, ini sudah malam." Bayu mengajak Alif tidur karena memang hari sudah mulai malam.


*******


Di salah satu Clube malam dengan diiringi musik dugem yang terdengar sangat keras, Darren meneguk minuman beralkohol dalam jumlah banyak hingga sekarang dirinya tengah berada dibawah pengaruh minuman beralkohol itu.


Dengan berjalan sempoyongan, Darren melangkah keluar dari Clube malam itu.

__ADS_1


"Joanna, Joanna kamu ada di sini? Pasti kamu nyariin aku kan ke sini?" ucap Darren saat melihatmu seorang gadis yang lewat di depannya.


"Apaan sih, gak jelas," ucap gadis itu sambil menatap Darren sinis.


Gadis itu terus berjalan karena takut Darren berbuat nekad padanya karena saat itu Darren sedang mabuk berat.


"Joanna! Joanna!" teriak Darren sembari menatap gadis itu.


"Joanna kenapa kamu pergi bersama laki-laki lain? Aku begitu mencintai dirimu sampai aku memberikan kebebasan padamu, kamu mau melakukan apapun dan pergi kemana pun selalu aku izinkan tapi inikah balasan yang harus aku terima?" Dalam keadaan mabuk, Darren terus berbicara sendiri, dia tak perduli dengan orang yang memandangnya dengan tatapan aneh.


Selama pernikahannya dengan Joanna, Darren menang membebaskan istrinya untuk melakukan apa yang dia ingin, cinta yang sangat besar pada Joanna membuat Darren tak berani melarang sang istri melakukan kemauannya. Hingga akhirnya, Darren dan keluarganya tahu bahwa Joanna telah memiliki laki-laki lain selain Darren.


Hal itu membuat Darren sangat tersakiti, cinta yang tulus yang dia berikan pada Joanna ternyata tidak berarti apa-apa. Setelah melahirkan Gaby, Joanna memilih pergi dan meminta bercerai dari Darren hanya karena ingin hidup bebas bersama laki-laki pilihannya.


Darren pun akhirnya menceraikan Joanna dan sejak saat itulah, Darren menutup hatinya untuk setiap wanita yang ingin masuk ke dalam kehidupannya, alasannya karena dirinya takut kejadian yang menimpanya terulang lagi dan sebenarnya dirinya juga masih mencintaimu Joanna.


*******


"Gimana Dok, keadaan adik saya?" tanya Mei.


"Dia cuma demam biasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Dokter itu pada Mei.


"Alhamdulillah, terimakasih kalau gitu gitu Dok."


"Sama-sama, ini saya sudah menyiapkan obat untuk Amel jangan lupa diminum secara teratur ya."


"Baik Dok, terimakasih ya. Permisi Dok."


"Yah Mel kayaknya kita udah kemalaman, gak ada angkot lewat nih," ucap Mei setelah menunggu angkutan umum beberapa menit di pinggir jalan.


"Gimana dong kak? Aku jalan kaki aja deh, kita jalan ke depan sana siapa tahu ada orang yang lewat yang mau menolong kita."


Amel yang sedang dalam pangkuan Mei pun merasa tidak enak hati jika harus membiarkan Mei terus memangku nya.


"Lu tuh lagi sakit, gak apa-apa biar kakak gendong aja."


"Tapi kakak capek nanti."


"Gak apa-apa." Mei terus berjalan menuju arah jalan pulang!


Sebenarnya bisa saja mereka memesan taksi online hanya saja Mei tidak punya cukup uang untuk membayar ongkos taksi yang harganya sangat jauh berbeda dari angkutan umum.


"Eh Mel kenapa tuh orang tergeletak di jalan?" ucap Mei saat melihat ada seseorang yang tergeletak di samping sebuah mobil.


Mei pun menurunkan Amel lalu berjalan menghampiri orang itu!


"Kak jangan. Jangan-jangan dia orang jahat," ucap Amel mengingatkan.


"Kagak, semoga aja dia orang bae-bae."

__ADS_1


Amel tak berucap lagi, dia hanya diam dan berdiri mematung dengan tatapan yang terus tertuju pada Mei.


Setelah tiba di dekat orang itu, Mei berjongkok dan berusaha membangunkan laki-laki itu.


"Mas! Mas bangun Mas," ucap Mei sembari menepuk-nepuk punggung laki-laki itu.


Tak ada respon, Mei pun membalikkan tubuh laki-laki yang tergeletak dengan posisi tengkurap itu.


"Buset, laki-laki ini," ucap Mei terkejut.


"Etdah, kenapa ni orang pingsan di sini?"


Mei berusaha membangunkan Darren dari pingsannya dengan mengguncang-guncangkan kepala Darren.


"Mas bangun! Mas! Woy!"


"Kenapa kak?" tanya Amel.


"Gak tahu, pingsan kayaknya."


"Terus gimana dong?"


"Udah kita tinggalin aja."


"Eh tapi kalau ditinggalkan, kita butuh tumpangan ya," sambung Mei.


Mei yang sudah melangkah hendak meninggalkan Darren akhirnya dia kembali lagi karena dirinya butuh kendaraan untuk ditumpanginya.


"Kayaknya ini mobil milik orang ini deh. Mel cepat masuk kita pulang pakaian mobil ini aja."


"Terus orangnya gimana?"


"Ya kita bawa lah, masa mobilnya kita pakai orangnya kita tinggal."


Mei pun mulai memasukkan Darren ke dalam mobil itu!


"Aduh, berat banget ini orang," gumam Mei sembari menyeret tubuh Darren ke bangku belakang!


Setelah itu, Mei pun langsung melakukan mobil itu menuju tempat tinggal Amel!


"Kak, orang itu kenapa?" tanya Amel. Dilihatnya laki-laki yang terbaring di bangku belakang mobil yang dia tumpangi lalu kembali menatap jalan yang sedang dilalui mereka.


"Gak tahu," sahut Mei singkat sembari terus fokus menyetir.


Sebenarnya Mei tahu kenapa Darren pingsan tapi tidak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya pada Amel yang belum tahu apa-apa.


Amel yang suka ingin mengetahui apa yang dia belum ketahui, akan bertanya padanya tentang apa yang terjadi karena itulah, Mei memilih pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Darren.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2