Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 32


__ADS_3

"Udah selesai makan kan, kalian pada pulang dah soalnya aye mau kerja dulu," ucap Mei pada dua laki-laki yang bersamanya itu.


"Aku mau nemenin kamu kerja Mei," ucap Darren.


"Hei anak kamu mau ditaruh di mana kalau kamu nemenin Mei kerja?" ucap Mario.


"Suruh sopir jemput lah, susah banget."


"Emang kamu gak mau kerja atau mungkin kamu ini pengangguran yang kerjanya ngabisin duit orang tua doang?"


"Sembarangan kamu. Gini-gini aku ini CEO di perusahaan Papaku."


"CEO kok modelnya kayak begini, gak pantes banget."


"Sembarangan kalau ngomong ni kita gak pernah kenal nih, kamu mau ngajak aku berantem?"


"Oke, ayo kita buktikan siapa yang kuat diantara kita."


Mario dan Darren pun memasang kuda-kuda untuk bertahan dari serangan satu sama lain.


"Ribut lagi. Kalian tuh kayak anjing dan kucing deh, udah ah aye capek sama kalian berdua. Aye pergi duluan ya."


"Mama Mei!" seru Gaby.


"Iya, Gaby."


Mei menghentikan langkahnya lalu menatap Gaby.


"Mama hati-hati ya kerjanya."


"Oke sayang." Mei tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Mei, nanti malam kita dinner ya," ucap Mario.


"Sama aku aja Mei dinner nya," ucap Darren.


"Ogah, aye mau nyari pacar jadi aye gak mau jalan sama kalian berdua."


"Mei! Mei!"


*******


Di rumah Darren.


"Selamat siang Mama, Nek," ucap Joanna yang sengaja datang ke rumah itu untuk mendapatkan perhatian dari keluarga yang pernah disakiti nya itu.


"Joanna," ucap Aryanti.


"Mama!" Joanna berlutut di kaki Aryanti dengan air mata yang bercucuran.


Raut wajah penuh penyesalan terlihat dengan jelas di wajah wanita yang dulu pernah meninggalkan Darren demi untuk hidup bersama laki-laki yang baru dicintainya itu.


"Mau apa kamu ke sini Joanna?" Sarah bertanya dengan nada dingin dan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Nenek aku datang untuk meminta maaf, aku mohon maafkan aku."

__ADS_1


"Untuk apa meminta maaf? Setelah enam tahun kamu baru sadar kamu bersalah atau kamu sudah mulai bosan pada laki-laki yang kamu bangga-banggakan itu?" ucap Aryanti.


"Mama maafkan aku. Setelah lama tidak bertemu dengan anakku, aku begitu merindukan dia Ma, tolong izinkan aku bertemu dengan dia."


"Tidak ada tempat lagi untuk kamu di keluarga kami. Pergi dari rumah kami dan jangan pernah kembali," ucap Sarah.


"Tolong Nek, aku sangat merindukan anakku dengan Darren."


"Tidak bisa sampai kapanpun kami tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk menemui Gaby."


*******


Di rumah orang tuanya Mei.


"Mau kemana lagi Bang?" Saroh yang sedang sibuk mencuci piring itu bertanya pada Rojak karena penasaran suaminya itu akan pergi kemana lagi.


"Gue mau narik angkot lagi lah, emang lu pikir gue mau kemana?" ucap Rojak.


"Pan ini udah jam berapa masa mau narik angkot lagi."


"Baru jam berapa? Masih ada waktu buat nyari rezeki."


"Bang biarin anak-anak yang narik angkot lagian nanti mereka juga setor kan."


"Lah iya tapi gue kudu bekerja keras buat menutupi kebutuhan kita dan juga anak-anak asuhnya Mei."


"Ya udah deh, Abang hati-hati aja di jalan ya. Kalau tujuannya buat yang baik aye setuju aja."


"Iya, gue pasti hati-hati."


*******


"Kagak apa-apa," sahutnya singkat.


"Kagak apa-apa tapi kelihatannya kayak orang lagi bete."


"Yang abis makan sama dua cowok sekaligus, pulang-pulang bete gitu," ledek Karen.


"Diam lu ah. Aye bingung sama tuh laki-laki dua."


"Bingung kenapa?"


"Ya mereka terus berdebat seolah memperebutkan aye padahal satupun dari mereka berdua belum ada tuh yang nyatain cinta."


"Cie yang diperebutkan oleh dua laki-laki tampan. Kamu pilih mana, duda atau perjaka?"


"Kamu nanya? Bertanya-tanya," ucap Joni.


"Kayak lagu dangdut, cuma di lagu itu pilihannya perawan sama janda bukan duda sama perjaka," ucap Mei.


"Orang lagi ngebahas lu, lu malah ngebahas tentang dangdut. Ah gimana sih lu ah."


"Oh gitu ya, maaf abisnya perkataan kamu jadi ngingetin aye sama lagu dangdut yang itu."


"Et dah apa selain jadi preman pasar lu juga mau jadi penyanyi dangdut?" ucap Joni.

__ADS_1


"Jadi penyanyi dangdut boleh juga tapi takutnya pas penonton lagi nontonin aye tiba-tiba mereka lari karena suara aye ini menghancurkan bumi."


*******


Di rumah Mario.


"Kayaknya saingan aku berat, tuh laki-laki udah punya anak yang bisa dijadikan umpan buat ketemu Mei sedangkan aku, alasan apa yang bisa membuat Mei mau ketemu sama aku setiap harinya," ucap Mario.


Mario melempar ponselnya ke sembarangan tempat lalu setelah itu dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Kayaknya aku harus cepat-cepat nembak si Mei biar gak keduluan sama si duda itu."


"Itu anak bukannya bantuin Papanya ngurus usaha malah enak-enakkan rebahan di kamar," gumam Warmi yang melihat anak satu-satunya sedang santai rebahan di atas tempat tidurnya yang empuk itu.


Warmi pun berjalan memasuki kamar Mario yang pintunya terbuka setengahnya itu.


"Astaga ini anak lelaki, bukannya kerja malah asyik rebahan," ucapnya saat sudah berada di dalam kamar Mario.


"Ma, tadi aku udah kerja dan sekarang aku mau istirahat sebentar saja."


"Kenapa, kamu sakit? Gak biasa-biasa kamu kayak gini."


"Nggak Ma, aku cuma butuh istirahat aja, sebentar."


"Kalau merasa tidak enak badan periksa ke dokter, jangan nunggu sampai parah sakitnya."


"Nggak Ma, percaya deh."


*******


Di kantor Darren.


Darren duduk di kursi kebesarannya dengan posisi punggung sampai kepala menyandar pada sandaran kursinya, matanya tertutup dan dia membayangkan sesuatu bersama Mei.


Dalam khayalan nya, Darren sedang melakukan resepsi pernikahan dengan Mei. Mereka berdua bersanding di atas pelaminan dengan perasaan bahagia yang tak terkira, setelah seharian melakukan resepsi pernikahan malamnya mereka pun hendak melakukan malam pertama.


Darren tersenyum, dan ....


"Darren! Darren!" seru seseorang sambil menggoyahkan tubuh Darren.


Seketika khayalan Darren buyar, dia pun membuka matanya dan langsung nampak sosok Joanna.


"Joanna, kamu ngapain di sini?" tanya Darren.


"Dari tadi aku telponin kamu tapi gak dijawab juga. Aku mau melanjutkan pembicaraan kita yang belum selesai."


"Pembicaraan yang mana?"


"Tentang aku yang ingin kita balik lagi seperti dulu."


"Joanna, aku lagi sibuk lebih baik kamu pergi saja dari sini."


"Tapi Darren."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2