Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 42


__ADS_3

"Kenapa, pulang-pulang muka kaku gitu, kayak kanebo kering aja," ucap Bella.


"Gak ada apa-apa, kepo aja," sahut Darren.


"Gak kepo cuma penasaran aja."


"Sama, Bella."


"Oh gitu, aku kira beda. Oh ya mana uang yang kakak janjikan."


Darren menatap Bella lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya!


"Nih, transfer berapapun yang kamu mau tapi ingat secukupnya aja. Cukup buat kamu liburan di luar negeri aja jangan cukup buat seumur hidup kamu."


Bella tersenyum lalu segera meraih ponsel itu dari tangan Darren.


"Iya, aku tahu kok lagian aku gak mau numpang sama kakak seumur hidup aku."


"Nanti kalau udah selesai kamu anterin ponsel kakak ke kamar ya. Kakak capek mau istirahat dulu."


"Oke."


Darren segera meninggalkan Bella di sana.


"Seneng banget kayaknya anak Mama, ada apa?" tanya Aryanti pada Bella.


"Aku dapat uang buat liburan akhir tahun. Kakak ngasih aku uang buat liburan ke luar negeri."


"Jadi kakak kamu udah mengaku kalah?"


"Kakak emang udah kalah sejak lama Ma, dari awal dia melihatmu Mei aja udah ketahuan dia pasti suka sama Mei."


"Kok kamu tahu?"


"Ya tahu lah, Bella tahu karena kak Darren pasti menunjukkan sesuatu yang berbeda saat dia merasakan getaran-getaran cinta di hatinya."


"Kamu ini, udah kayak apa aja."

__ADS_1


"Udah deh, uang kakak udah masuk ke rekening aku. Aku mau nganterin hape kakak dulu ya."


"Eh tunggu!" Aryanti meraih tangan Bella sehingga gadis itu menghentikan pergerakan kakinya.


"Kamu ambil berapa dari rekening kakakmu?"


"Gak banyak Ma, paling satu bulan penghasilan kakak."


"Bella balikin setengahnya. Kebanyakan itu nanti kalau kakakmu gak punya tabungan lagi mau dari mana dia melanjutkan hidupnya."


"Uang kakak banyak Ma lagian aku gak ngambil sebanyak itu juga kali, aku cuma ngambil lima puluh aja kok."


"Lima puluh apa?"


"Ya juta lah Ma masa ribu." Bella segera melangkah melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena dicegah oleh Mamanya.


Aryanti menatap punggung Bella yang kian menjauh, dia menggelengkan kepalanya lalu mulai berjalan meninggalkan tempat itu!


*******


"Nyak, Beh, aye mau pergi sebentar ya. Mau nemuin anak-anak," ucap Mei pada kedua orang tuanya.


"Iya Beh, aye pasti hati-hati kok."


"Mei kayaknya lu gak usah pergi-pergi dulu deh, Nyak takut ada orang itu lagi."


"Nyak jangan takut, pan Nyak tahu kalau aye ini jagoan jangankan dua preman, sepuluh preman bisa aye kalahkan demi melindungi aye dan juga Nyak."


"Sombong lu."


"Bukan maksud aye sombong Nyak tapi aye cuma berusaha membuat Nyak tenang saat aye lagi di luar."


"Ya udah pergi sana lu. Ingat jangan sampai lu gak pulang."


"Iya Nyak, aye pergi dulu ya. Assalamu'alaikum."


Mei mencium punggung tangan kedua orang tuanya lalu segera pergi dari rumahnya!

__ADS_1


"Syukur-syukur aye ketemu dua orang itu di jalan. Awas aja, aye kagak bakal kasih mereka ampun sebelum mereka memohon," ucap Mei didalam hatinya.


Mei segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di tempat anak asuhnya tinggal.


*******


"Siapa yang datang ke rumah Mei dan melukai Ibunya Mei?" gumam Darren sembari berjalan bolak-balik di depan pintu kamarnya.


Sedari tadi Darren terus memikirkan siapa orang yang meminta Mei untuk menjauhinya. Selama ini dirinya tidak memiliki hubungan percintaan dengan wanita lain dan sedang tidak dekat dengan wanita lain selain Mei tapi kenapa ada orang yang datang ke rumah orang tuanya Mei dan mengancam mereka.


"Kayaknya aku harus mengadakan penjagaan di rumah Mei biar gak terjadi hal yang sama pada Ibunya Mei, aku gak mau mereka kenapa-kenapa."


*******


"Hai anak-anak, kalian lagi ngapain di mari?" tanya Mei pada anak-anak asuhnya.


"Baru abis makan kak," sahut Niki.


"Hah makan ... siapa yang ngasih kalian makan?"


"Om Darren, tadi Om Darren juga yang ngajarin kami baca karena kak Mei gak datang-datang," ucap Amel.


"Om Darren, jadi dia yang ngajarin kalian hari ini? Oh ya maaf ya tadi kakak gak datang karena ada sedikit masalah di rumah."


"Masalah apa kak? Kakak dan keluarga gak kenapa-kenapa kan?" ucap Bayu.


"Lu pada jangan khawatir, semua aman."


"Aman kalau ada kak Mei. Kak Mei adalah pahlawan bagi semua orang," ucap Alif.


"Bisa aja, Indonesia udah merdeka jadi kakak gak pantas dibilang pahlawan yang pahlawan."


"Kak tadi Kak Darren mau nyekolahin kita semua, apa boleh kami terima tawaran dia?"


"Boleh dong nanti kakak tanyakan lagi kepastiannya ya."


Mereka semua tersenyum bahagia lalu memeluk Mei beramai-ramai.

__ADS_1


"E_e_eh pada kenapa ini? Kok nangis dipelukan kakak, nanti basah baju kakak."


Bersambung.


__ADS_2