
Pagi hari.
"Mei istirahat dulu sana, biar kita yang gantiin," ucap Dion yang baru tiba di pasar.
"Udah beres urusan lu pada?".
"Udah, tadi gue nungguin adik yang dirawat di rumah sakit."
"Lu pasti capek, udah lu istirahat aja. Pasar dalam keadaan aman kok."
"Ada lu pasti semuanya aman."
"Joni mana?"
"Gak tahu, gue kan bukan Babehnya."
"Haha lu bisa aja." Mei tertawa kecil sembari menepuk punggung Dion.
"Dion sini!" Karen melambaikan tangannya pada Dion memintanya untuk duduk di tempat biasa mereka nongkrong.
"Ada apa?"
"Jangan tanya ada apa, ayo kita ke sana!" Mei dan Dion pun segera melangkah menghampiri Karen.
"Nih kopi spesial buat lu."
Dion tersenyum sembari menatap Karen, "terimakasih, belum jadi istri aja lu udah perhatian banget sama gue," ucapnya.
"Dari sebelum kita pacaran juga, gue udah perhatian sama lu."
"Udah, lu istirahat aja dulu lagian pasar aman kok."
"Mei!" Mario berjalan menghampiri Mei di sana.
Pemuda itu nampaknya ada yang ingin dibicarakan dengan Mei. Terlihat dari cara dia menatap Mei dan datang sepagi itu ke pasar hanya untuk menemui Mei.
"Mario, ngapain kamu ke sini pagi-pagi gini? Gak mungkin kamu mau belanja sayuran."
"Semalam aku gak bisa tidur."
"Terus?"
"Kepikiran kamu terus."
"Jangan gombalin singa betina lu kalau dia terusik ketenangannya bisa-bisa lu dimangsa," ucap Dion.
"Aku serius. Mei kamu benar-benar mengganggu ketenangan hidup aku. Saat aku tidur kamu ada dalam mimpi, saat aku terbangun kamu selalu ada di setiap tempat yang aku datangi saat aku makan saja aku melihat kamu dalam diri Mamaku."
"Kok kamu jadi nyalahin aye, pan aye kagak ngapa-ngapain kamu. Lagian siapa suruh kamu mimpiin aye?"
"Aku mau kamu bertanggungjawab atas apa yang terjadi sama aku."
"Lah, aye kudu ngapain?"
__ADS_1
"Tolong terima cinta aku. Kita akan menikah dan hidup bersama."
"Wah ini bahaya nih jangan sampai satu cinta ada tiga hati. Semalam Darren juga melamar Mei dan sekarang pagi-pagi buta gini udah ada yang ngelamar lu lagi Mei," celetuk Karen.
"Apaan sih lu emang aye cewek apaan," ucap Mei.
"Mama!" seru Gaby.
Gadis kecil itu berlari ke arah Mei yang sedang berdiri bersama Mario di samping mereka ada Dion dan Karen yang sedang duduk di atas bale kecil.
"Gaby, sepagi ini?" gumam Mei tak percaya.
"Maaf Mei mengganggu pekerjaan kamu tapi dari semalam Gaby ingin bertemu dengan kamu," ucap Sarah.
"Iya Nek, kagak apa-apa." Mei tersenyum dalam hati yang masih di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Ini anak, ke sini atas kemauan sendiri atau disuruh Bapaknya?" ucap Mei didalam hatinya.
"Mama aku kangen, semalam aku pengen nelpon Mama tapi gak dibolehin sama Nenek."
"Oh gitu. Sayang tapi kenapa harus ke sini sekarang kamu kan harus sekolah."
"Iya ini juga mau sekolah tapi ke sini dulu buat ketemu sama Mama."
Mei tersenyum lalu mencubit pipi Gaby pelan! "Kamu ya, sampai sepagi ini kamu datang. Udah sarapan belum?"
"Belum, Papa bilang katanya kita sarapan nasi uduk bareng di sini."
"Iya. Sekarang Papa masih di mobil."
"Mei siapa laki-laki ini?" tanya Sarah.
"Oh kenalin saya Mario, temannya Mei," ucap Mario sembari mengulurkan tangannya pada Sarah.
"Tepatnya saingan cucu anda," celetuk Joni yang baru tiba di sana.
Semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Joni termasuk Mario dan Karen.
"Apa sih lu Jon. Jangan sembarangan dah kalau ngomong," ucap Mei.
"Wah udah rame aja di sini, lagi pada ngobrolin apa?" tanya Darren.
"Ada kamu juga," ucap Darren pada Mario.
"Kamu bisa gak ngebiarin aku ngobrol tenang sama Mei," ucap Mario pada Darren.
"Kamu jangan berani menggoda calon istri aku ya atau aku akan–"
"Akan apa? Kalian bisa gak sih gak berdebat saat bertemu, aye tuh pusing tahu gak."
"Kalian udah saling kenal?" tanya Sarah pada Mario dan Darren.
"Udah. Dia juga suka sama Mei," sahut Darren.
__ADS_1
*******
"Alif, Amel, kak Bayu sama kak Niki mau kerja dulu kalian jangan pergi ke mana-mana ya," ucap Niki pada adik-adiknya.
"Iya kak, nanti kalau ada kak Mei kita harus bilang apa? Kak Mei kan suka marah kalau tahu kakak ngamen."
"Bilang aja lagi pergi bertemu dengan teman-teman kakak."
"Hus, bilang gitu juga pasti dimarahin kan kita gak ajak mereka," ucap Bayu.
"Iya juga ya. Tapi kita gak bisa terus bergantung pada Kak Mei, kasian dia setiap hari bekerja hanya untuk memberi kita makan padahal kita bukan siapa-siapanya kak Mei."
Niki yang sudah menginjak usia dewasa pun sudah mulai mengerti dan mulai merasa tidak enak hati jika setiap hari harus bergantung pada orang yang sebenarnya tidak memiliki hubungan darah dengan mereka.
"Aku tahu itu, ya udahlah lagian kalau pun marah kak Mei gak sampai mukul kita," ucap Bayu.
"Kalau gitu kita pergi aja sekarang. Tabungan kita sudah lumayan siapa tahu bisa bertambah agar kita bisa menyekolahkan Alif dan Amel."
Mereka semua tersenyum lalu berpelukan, empat anak yang sama-sama tidak pernah mengenal orang tua mereka itu saling menguatkan satu sama lain.
*******
"Ternyata sarapan di tempat kayak gini enaknya luar biasa. Aku baru pertama makan di tempat seperti ini," ucap Gaby.
"Lanjut lagi ya makan nya," ucap Sarah.
"Mei nanti siang ada acara?" tanya Darren.
"Ada, setiap jam dia belas siang dan jam tiga sore aye ada urusan yang gak bisa ditinggalkan."
"Oke, kalau gitu nanti malam kita ketemu lagi, aku akan menjemput kamu ke rumah."
"Terserah," sahut Mei.
*******
Di salah satu butik milik orang tua Mario.
Mario sedang berada dalam ruangan pribadinya, dia duduk sambil merenung.
"Apa hubungan mereka serius? Apa kalau mereka beneran mau nikah, aku bisa melupakan Mei?" ucap Mario didalam hatinya.
Melihat Mei yang sudah dekat dengan anaknya Darren membuat pikiran Mario berlabuh ke mana-mana. Dirinya jadi menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ah Mario kenapa jadi seperti ini, bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau memang jodoh pasti jalannya akan dimudahkan," gumam Mario.
"Rasanya aku gak bisa mengalah Kalau kenyataannya Mei memilih Darren."
Mario yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Mei terus memikirkan tentang dirinya, Mei dan juga Darren, rasa tak ingin kehilangan Mei kian membesar dalam dirinya.
Bersambung
__ADS_1