Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 74


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit. Mei langsung mendapatkan penanganan dokter, tidak ada luka yang cukup serius, setelah dokter menjahit luka yang terdapat di pundak Mei, dokter pun langsung mengizinkan Mei pulang.


Setelah berada di luar area rumah sakit. Abeth kembali membius Mei agar Mei tidak kabur. Setelah Mei pingsan, mereka pun langsung membawa mereka ke hadapan Hengky.


Tak butuh waktu lama. Sekitar dua puluh menit berkendara, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah. Di sana sudah ada Hengky yang sudah bersiap untuk pergi.


Sebuah mobil sudah dipanaskan dan barang-barang Hengky juga sudah masuk dalam mobil itu tinggal Mei saja yang belum siap untuk dibawa. Hengky yang sudah lama menunggu langsung berjalan menghampiri mobil hitam milik Erlan, dia langsung menanyakan kekasih hatinya.


"Kalian berhasil?" tanya Hengky.


"Berhasil, Bang tapi tidak sengaja anggota gue melukai perempuan ini karena perempuan ini hampir membuatnya mati," jelas Abeth membela anak buahnya.


"Apa! Saya bilang jangan lukai dia!" bentak Hengky sembari melihat kondisi Mei yang masih berada di dalam mobil itu.


"Kenapa, dia pingsan?" tanya Hengky.


"Kami membiusnya karena gadis ini sulit untuk dilumpuhkan," sahut Erlan.


Hengky kembali ke mobilnya untuk mengambilnya sesuatu. Tak sampai beberapa menit, Hengky kembali dengan membawa sebuah borgol dan besi rantai lengkap dengan gemboknya. Dia langsung memborgol tangan Mei dan mengikat kakinya dengan besi rantai itu lalu mengunci rantai itu dengan gembok yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Bawa dia ke mobil saya!" titah Hengky setelah selesai dengan urusannya.


Erlan dan Abeth pun langsung menggotong tubuh Mei dan memindahkannya ke mobil Hengky. Setelah semua selesai, Hengky memberikan uang sisa pembayaran pada mereka, meski Mei ditangkap dengan keadaan terluka, dirinya tetap membayar mereka sesuai dengan yang sudah dijanjikan sebelumnya.


"Ini sisa pembayarannya. Ingat, jaga rahasia ini dengan baik! Jangan sampai ada keluarga Mei tahu kalau saya yang sudah membawanya pergi," jelas Hengky.


"Tenang, Bang. Kami bekerja dengan rapi, tidak ada jejak apa pun di tempat kejadian," ucap Abeth dengan penuh keyakinan.


"Bagus. Sekarang kalian boleh pergi!" titah Hengky.


Mereka semua pun segera pergi meninggalkan Hengky dengan membawa uang hasil kerja keras mereka. Hengky masih berdiri di sana sambil menatap kepergian para preman itu. Dia tersenyum penuh kemenangan, dirinya berpikir setelah ini dirinya bisa memiliki Mei seutuhnya.


*******


Di pasar.


Hari sudah memasuki tengah hari tapi Mei belum juga tiba di pasar. Tiga sabatnya mengira bahwa Mei tidak ke sana hari ini. Mungkin Mei ada keperluan pribadi sehingga tidak bisa datang ke sana. Pikir mereka.


Dion, Joni dan Karen pun kerja tanpa Mei hari ini. Meski begitu mereka tidak merasa kesulitan dalam mengawasi pasar karena memang setiap hari pasar itu selalu aman.


"Perasaan gue ada yang salah dengan hari ini," ucap Karen yang baru selesai berpatroli.


"Salah di mananya?" tanya Joni.

__ADS_1


"Si Mei, kagak datang ke mari tapi dia kagak ada ngabarin kita," sahut Karen yang merasa ada yang aneh.


Bisanya memang saat Mei tidak bisa datang ke pasar, dia akan menelpon salah satu dari mereka untuk memberitahu mereka bahwa Mei tidak bisa datang, tapi ada yang berbeda dengan hari ini. Hari ini Mei tidak datang ke pasar dan tidak memberi mereka kabar, mengapa dia tidak datang.


"Iya juga ya. Ah, mungkin Mei lagi sibuk sama keluarganya. Biarin aja dia," ucap Dion.


"Semoga aja dia memang sibuk sama keluarganya." Karen pun langsung melangkah pergi dari sana.


Saat Karen sudah berada di depan pasar. Satya datang dan langsung menghampirinya. Karen terdiam di tempatnya, dia tidak mengenal laki-laki itu tapi laki-laki berjas itu memanggil namanya dengan benar.


"Kamu, temannya Mei 'kan?" tanya Satya.


"Iya. Dengan siapa ya?" tanya Karen yang memang tidak mengenal Satya.


"Saya temannya ... eh, bukan. Tepatnya, saya orang yang pernah ditolong oleh Mei," jelas Satya.


"Sebenarnya, saya ingin bertemu dengannya. Saya ingin berterima kasih padanya," sambung Satya lagi.


"Oh. Sayangnya, hari ini dia gak datang ke mari," jelas Karen.


"Gak datang ya? Apa besok dia datang? Oh ya dan satu lagi, apa saya boleh tahu rumahnya di mana?" tanya Satya.


Karen menatap pria tampan itu. Dia melihat ada kekaguman tersendiri untuk Mei di mata laki-laki itu. "Mungkin besok dia akan datang. Saya ingatkan sama kamu ya, jangan terlalu mengagumi dia dan maaf, saya gak bisa memberi tahu alamatnya tanpa seizin dari dia. Perempuan itu akan lebih menakutkan saat ada orang yang mengusik hidupnya," jelas Karen.


Satya tersenyum sembari menatap Karen. "Tidak. Saya hanya ingin berterima kasih saja, tidak ada maksud lain. Masalahnya, ini menjadi penting karena Mei sudah menyelamatkan mama saya."


"Kalau gitu, saya permisi. Terima kasih, kamu asyik diajak ngobrol," ucap Satya lagi yang hanya di balas dengan senyuman oleh Karen.


********


Di kediaman Babeh Rojak.


Nyak Saroh sedang menyiangi sayuran, tapi pikirannya melayang memikirkan semua hal. Entah mengapa dirinya sungguh tidak bisa tenang hari ini. Ada sesuatu yang mengganggu hatinya, tapi dirinya pun tidak tahu apa yang mengganggunya.


"Astaghfirullah, aye kenapa, tiba-tiba ingat sama Mei. Semoga tuh anak baik-baik saja," batin Nyak Saroh.


Nyak Saroh terlihat melamun tapi tangannya masih bergerak memotong sayuran kangkung yang sedang dia bersihkan dari akarnya itu. Niki yang melihat ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Nyak Saroh, langsung menghampirinya dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Nyak Saroh.


"Nyak. Ada apa?" tanya Niki setelah dia duduk di kursi itu.


"Kagak ape-ape. Nyak cuma lagi keinget ama kakak, lu," sahut Nyak Saroh.


"Nyak kangen sama, kak Mei? Kemarin pan baru ketemu sama kakak," tanya Niki lagi.

__ADS_1


Nyak Saroh menatap Niki lalu tersenyum tipis. "Nyak baik-baik saja. Lu udah kerjain tugas rumah belum?" tanya Nyak Saroh pada Niki.


"Hari ini gak ada tugas rumah, adanya tugas rumah nyuci, ngepel dan bersih-bersih," jelas Niki.


********


Sore hari sekitar pukul enam belas. Darren datang ke pasar karena mendapat laporan dari Gaby yang katanya Mei belum pulang padahal biasanya dari pukul empat belas tiga puluh, Mei sudah ada di rumah. Dia pun sengaja datang ke pasar untuk menjemput istri tercintanya itu.


Di parkiran depan. Darren langsung menuju tempat biasa istrinya nongkrong. Dia melangkah cepat karena tak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya.


"Eh, Bang! Kenapa, Lu ke mari?" tanya Joni.


Darren mendengkus kesal karena dia paling tidak suka dipanggil dengan sebutan 'abang'. "Di mana istriku?" tanyanya pada Joni.


"Istri? Maksudnya Mei?" bukannya menjawab, Joni malah bertanya balik pada Darren.


"Ya iyalah, siapa lagi," sahut Darren.


"Tunggu-tunggu. Kamu lagi gak bercanda 'kan, nanyain Mei ke kita?" ucap Dion.


"Aku serius. Mana dia? Gaby udah menunggunya dari tadi," jelas Darren.


"Mei gak ke mari. Kita pikir dia sedang ada acara bersama keluarga kamu," jelas Karen.


"Apa! Dia gak ke sini? Lalu dia ke mana?" Darren mulai panik. Tiga teman Mei juga ikut panik.


Darren segera mengambil ponselnya lalu menelpon mamanya untuk memastikan apakah Mei sudah pulang atau belum. Sementara Joni, Dion dan Karen langsung menelpon orang-orang terdekat Mei untuk menanyakan tentang keberadaan Mei.


Setelah menelpon semua orang, tapi tidak satu pun diantara mereka yang mengetahui keberadaan Mei. Mereka mulai panik karena tak satu pun yang melihat Mei. Darren semakin panik dan khawatir pasalnya tidak biasanya Mei pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu padanya.


"Babeh!" seru Karen dan Joni.


"Bang, coba telpon Babeh Rojak. Siapa tahu Mei ada di sana," ucap Dion.


"Oh, iya. Kamu benar." Darren segera menelpon Babeh Rojak untuk menanyakan soal Mei.


[Halo, Mantu.] kata Babeh Rojak dari sebrang telpon.


[Beh, apa di sana ada Mei? Saya tidak bisa menelponnya jadi, saya telpon Babeh.] tanpa basa-basi, Darren langsung menanyakan Mei pada sang mertua.


[Kagak ada. Dari pagi dia kagak ke mari. Emang kenapa? Kalian berantem?]


[Nggak, Beh. Masalahnya dari pagi dia gak ada, aku pikir dia di pasar karena tadi dia pamitnya mau ke pasar, tapi ternyata di pasar juga gak ada. Teman-temannya bilang,katanya Mei gak datang hari ini.]

__ADS_1


[Apa, Lu bilang? Anak gue kagak ada!] Babeh Rojak langsung terkejut saat tahu Mei tidak ada dan ternyata telponnya tidak bisa dihubungi.


Bersambung


__ADS_2