
Sore hari saat Darren tiba di rumah. Seperti biasa dia menghampiri keluarganya yang selalu berkumpul di ruang TV saat dirinya pulang. Dia berjalan santai menghampiri mereka yang sedang duduk di kursi ruang keluarga dan laki-laki berusia tiga puluh tahun itu langsung dikejutkan oleh penampakkan wajah istrinya yang penuh luka.
"Astaghfirullahalazim! Allahuakbar!" Darren segera berlari lalu berlutut di hadapan Mei. Dia meraih kedua belah pipi Mei lalu meneliti wajah mulus yang sekarang penuh dengan luka lebam dan ada beberapa luka berdarah.
Saking khawatirnya terhadap Mei, Darren sampai lupa mencium punggung tangan mamanya dan juga neneknya. Dia juga lupa menyapa Gaby yang biasa dia cium dan peluk saat dirinya tiba di rumah.
"Kamu kenapa lagi, kenapa begini, hah?" tanya Darren dengan penuh kekhawatiran.
"Mama abis berantem, Pa. Mama jagoan deh, tadi mama menyelamatkan orang yang diculik," ucap Gaby yang merasa bangga pada Mei.
"Ya ampun. Lain kali kalau ada bahaya atau ada penjahat, lapor polisi jangan membahayakan diri sendiri," ucap Darren lagi.
"Aye gak apa-apa, kok. Jangan terlalu khawatir gitu deh," ucap Mei santai.
"Maisya Melanie, kamu itu terluka. Gimana aku bisa tenang melihat kamu kayak gini. Pokoknya aku gak mau tahu, sekarang kita ke rumah sakit dan untuk satu minggu ke depan kamu gak boleh keluar rumah," ucap Darren.
"Kok gitu, sih. Aye kan pengen kerja di pasar lagipula pekerjaan di rumah juga pasti beres," ucap Mei yang tak ingin dirumahkan.
"Nggak-nggak. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, pokoknya kamu gak boleh pergi sebelum luka kamu itu sembuh total," ucap Darren.
"Ih, gitu aja marah lagipula aye gak apa-apa masa harus dihukum segitu beratnya," protes Mei.
"Aku marah karena aku sayang sama kamu, aku gak mau celaka, aku gak mau terluka, aku gak mau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sama kamu, aku cinta sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu," ucap Darren dengan hanya satu kali tarikan napas.
Mei hanya mengulum bibirnya mendengar ocehan suaminya. Begitu pun dengan Bu Aryanti dan Nek Sarah, mereka hanya diam sembari menahan tawanya. Gaby yang melihat sangat ayah begitu khawatir pada mamanya juga ikut tersenyum, gadis kecil itu merasa papanya terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan sang ibu padahal sebenarnya dia tahu bahwa Mei adalah perempuan hebat.
"Eh, suami lagi marah malah senyum-senyum," ucap Darren lagi setelah sadar bahwa Mei tersenyum mendengar ocehannya.
Tak kuasa menahan tawa. Bu Aryanti dan Nenek Sarah pun tertawa, mereka tak habis pikir dengan Darren yang terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan Mei.
"Benar kata kamu Ar. Darren langsung kelimpungan melihat Mei begini," ucap Nek Sarah disela tawanya.
"Kalian malah tertawa, memangnya ada yang lucu hah?" ucap Darren sembari menatap semua keluarganya.
"Gimana gak ketawa, marahnya kayak gitu, sih," ucap Bu Aryanti.
__ADS_1
"Sebenarnya, kamu lagi marah atau lagi merayu? Atau mungkin sedang ngebucin kalau kata anak muda, mah. Kalau marahnya kayak gitu, aye gak takut yang ada aye seneng banget untung gak sampai terbang ke langit ke tujuh," ucap Mei.
"Ih, kamu tuh ya. Aku serius malah kamu bercanda," ucap Darren lagi.
"Sering-sering aja marahnya kayak gitu. Biar Mei betah sama kamu," ucap Nek Sarah.
"Ada apa? Dari luas kalian heboh banget," tanya Bella yang baru masuk ke dalam rumah dengan disusul oleh Pak Wiliam di belakangnya.
"Nih, kayak kamu. Lihat tuh ancur gitu wajahnya," ucap Darren dengan nada kesal.
Bella dan Pak Wiliam menatap wajah Mei dan mereka pun terkejut melihatnya. Bella langsung mendekati Mei lalu melihatnya dari jarak dekat bahkan sangat dekat.
"Kenapa bisa gini, Kak? Tadi pas aku ke pasar, kayak gak kenapa-kenapa," ucap Bella.
"Gak apa-apa. Kakak kamu aja yang terlalu berlebihan," ucap Mei.
"Mei, anak, papa ini terlalu sayang sama kamu. Lain kali kalau ada sesuatu yang genting, telpon polisi saja biar kamu gak kayak gini lagi," jelas Pak Wiliam.
"Maaf, Pa. Aye gak bisa membiarkan orang lain dalam bahaya tapi lain kali aye akan menelpon polisi saat terjadi hal seperti tadi," sahut Mei.
"Ngapain? Tadi aye udah dirawat oleh dokter andal. Lukanya udah gak sakit lagi karena udah ditangani oleh Dokter Gaby," jelas Mei.
Ya, Gaby memang sudah membersihkan luka Mei dan juga sudah mengobatinya dengan obat luka. Gadis kecil itu sudah merawat Mei dengan baik dan sigap.
"Oke, karena, Mama sudah selesai dirawat oleh Dokter Gaby yang imut dan cantik. Sekarang, Mama boleh istirahat di kamar," ucap Gaby yang memang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter.
"Baik, dokter. Resep obatnya mana?" ucap Mei dengan senyuman manisnya.
"Oh iya, resepnya ya. Resepnya, istirahat di rumah selama satu minggu, gak boleh melakukan pekerjaan rumah apalagi mengepel lantai karena takut luka di tangan akan kembali berdarah dan jangan membantah perintah papa karena papa bisa mati kalau, Mama gak ada," jelas Gaby yang berhasil membuat semua orang di sana tertawa.
"Oh, resep obatnya banyak sekali ya, Dok tapi gak apa-apa. Selama Dokter Gaby yang merawat saya, saya akan turuti," sahut Mei.
"Malah main dokter-dokteran. Gaby, mama lagi sakit jadi, harus segera istirahat. Main dokter-dokteran nya nanti saja," jelas Darren pada Gaby.
Darren meraih tangan Mei lalu menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar. Dirinya selalu dibuat jantungan dengan penampakan wajah Mei yang sering tiba-tiba penuh luka. Itu memang resikonya karena mempunyai istri tangguh yang baik hati, tak jarang Darren harus merasakan kekhawatiran yang begitu luar biasa terhadap istrinya.
__ADS_1
*******
Di kediaman Satya.
Pemuda itu terus teringat pada Mei yang sudah dua kali menolongnya. Dia semakin dibuat penasaran oleh Mei karena ternyata Mei tidak gampang didekati.
Malam ini di kamarnya. Dia masih terjaga bayangan wajah cantik Mei terus saja melintas di pikirannya bahkan luka akibat perkelahian tadi siang tak dirasakannya saat dirinya tengah memikirkan sosok seorang wanita yang dia sendiri belum tahu siapa dan di mana wanita itu tinggal, sudah punya kekasih atau mungkin sudah menikah. Dia tidak tahu, yang ada dalam pikirannya sekarang dirinya jatuh cinta pada seorang preman pasar yang cantik dan juga baik.
"Satya," ucap Bu Widya memanggil sang Putra.
"Satya!" serunya lagi karena Satya tak menyahut juga meski dirinya sudah beberapa kali memanggil sang putra.
Satya terperanjat. Seketika lamunannya buyar begitu saja saat mendengar suara kerasa dari sang ibu. Dia menoleh ke arah suara dan langsung melihat sang ibu yang ternyata sudah berada di dalam kamarnya.
"Ada apa, Ma?" tanyanya.
"Kamu baik-baik saja? Apa perlu ke rumah sakit untuk mengobati luka kamu?" tanya Bu Widya yang khawatir pada kondisi sang putra.
"Tidak usah, Ma. Aku baik-baik saja, kok," sahutnya.
Bu Widya berjalan mendekati Satya lalu duduk di tepi ranjangnya. "Kamu sedang memikirkan apa? Apa ada sesuatu yang berbahaya?" tanya Bu Widya lagi.
"Iya, Ma. Ada sesuatu yang bahaya," sahut Satya.
"Apa itu kenapa tidak melapor pada polisi kalau kamu merasa terancam," ucap Bu Widya penuh kekhawatiran.
"Polisi tidak akan bisa membantu. Aku suka sama Mei dan bahayanya bagaimana kalau ternyata dia sudah ada yang punya," jelas Satya.
"Ih, kamu ini!" Bu Widya memukul Satya dengan bantal.
"Cari tahu dulu baru kamu tahu bahaya atau tidak," sambung Bu Widya.
Setelah sang ayah meninggal. Satya selalu berbagi cerita dengan sang ibu bahkan untuk urusan pribadi pun, dia selalu bercerita pada sang ibu.
Bersambung
__ADS_1