Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 46


__ADS_3

Bugh!


Mei memukul wajah salah satu laki-laki itu dengan keras. "Itu untuk luka yang lu kasih ke nyokap gue."


Mei memukul lagi wajah laki-laki yang satunya.


"Kalian pikir kalian siapa hah, berani-beraninya melukai nyokap gue."


Dua laki-laki itu terus melawan meski Mei terus menyerang karena tak ingin kalah dari mereka.


Merasa kewalahan, satu dari dua laki-laki itu mengeluarkan pisau kecil lalu menyerang Mei dengan pisau itu.


"Mei awas!" teriak Aryanti.


"Tolong, tolong bantu Mei. Mereka membawa senjata tajam, Darren lakukan sesuatu, bantu Mei." Aryanti mulai panik karena mereka menyerang Mei menggunakan senjata tajam.


"Kakak hati-hati," ucap Amel.


Sett!


Mei terkena gurisan pisau dibagian ceruk lehernya.


"Ahhh." Mei meringis kesakitan sembari memegangi lehernya yang mulai mengeluarkan darah.


Semua orang yang melihatnya mulai panik saat melihat Mei terluka sementara Joanna tersenyum penuh kemenangan.


Mei merobek bagian bawah gaunnya lalu mengikat lehernya dengan kain itu.


"Sialan," tukas Mei.


Gadis yang biasa dijuluki sebagai preman pasar itu mulai terpancing untuk mengeluarkan semua kemampuannya saat tahu kalau lawannya bukanlah orang sembarangan.


Darren mengambil botol minuman lalu berjalan ke arah mereka untuk membantu Mei melawan mereka!


Kini mereka imbang dengan satu lawan satu. Mereka pun lanjut bertempur tanpa menghiraukan banyak orang yang menonton mereka.


"Darren, kamu jagain Gaby aja. Aye gak apa-apa kok."


Mereka terus saling memberi pukulan hingga Darren mendapatkan pukulan pada perutnya hingga dia terjatuh tersungkur ke tanah.


Mei terus melawan mereka sendirian karena Darren masih belum bangkit. Darah terus mengalir lari lehernya tapi Mei belum mau menyerah sebelum mengalahkan mereka.


Hampir sepuluh menit berduel bersama mereka, akhirnya Mei berhasil mengalahkan mereka.

__ADS_1


Mei mencengkram kerah baju laki-laki itu dengan kencang.


"Katakan siapa yang nyuruh lo berdua buat nyerang gue?"


Joanna mulai panik karena takut mereka mengatakan yang sebenarnya pada Mei.


"Cepat katakan!" Mei berucap dengan nada keras sembari menodongkan pisau milik laki-laki itu pada wajah laki-laki itu.


Darren segera mengikat tangan dan kaki mereka agar mereka tidak bisa kabur lagi. Darren dan keluarganya akan melaporkan tindakan mereka pada polisi.


"Lo mau mati ditangan gue atau katakan siapa yang menyuruh lo berdua dan apa tujuannya."


"A_ampun, b_baik kami akan mengatakannya."


"Joanna yang membayar kami untuk melakukan ini."


"Joanna!" Darren terkejut saat mendengar pengakuan mereka.


Joanna segera berlari karena tak ingin masuk penjara.


"Joanna jangan lari kamu! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu!" seru Darren.


Darren mengejar Joanna!


Mei terjatuh dan tak sadarkan diri!


"Mei!" ucap Aryanti dan Sarah secara bersamaan.


Semua orang di sana begitu panik karena Mei tiba-tiba tumbang.


Darren menghentikan langkahnya lalu kembali menghampiri Mei!


"Mei! Mei bangun."


Tak ada respon dari Mei, Darren pun langsung berinisiatif membawa Mei ke rumah sakit.


"Sekarang waktunya kita membalas kebaikan kak kak Mei," ucap Bayu.


Niki mengangguk paham. "Ayo kita lakukan."


Bayu dan Niki pun berlari kencang untuk mengejar Joanna, mereka harus bisa mendapatkan wanita itu untuk membalas budi pada Mei dan keluarganya!


**********

__ADS_1


Di rumah sakit.


Mei sudah mendapatkan penangan dokter dan karena kehabisan banyak darah dirinya juga sudah mendapatkan transfusi darah.


Untunglah di rumah sakit itu ada stok darah yang golongannya sama dengan golongan darah Mei.


"Mei bertahanlah, demi aku, demi anak-anak kamu yang kamu sayangi," ucap Darren.


Saat itu Mei masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, dirinya bisa mendengar semua ucapan yang dikatakan orang di sekitarnya tapi dirinya tidak bisa berinteraksi dengan mereka.


"Mama, Mama cepat sembuh ya. Aku gak mau pulang kalau Mama gak pulang," ucap Gaby sembari terus menangis.


**********


"Aaaa! Lepasin saya! Lepasin gak!" teriak Joanna.


Tak butuh waktu lama, Niki dan Bayu sudah berhasil menangkap Joanna dan mengikatnya dengan tali.


"Dasar orang gak punya hati. Kamu tuh udah berani melukai kak Mei, kamu akan kami jebloskan ke penjara," ucap Bayu.


Meski Bayu dan Niki terbilang masih anak-anak tapi mereka terbiasa hidup keras ditambah lagi mereka sudah diajari ilmu bela diri oleh Mei sehingga mereka tidak terlalu kesulitan untuk menangkap Joanna.


"Dasar anak kampung! Lepasin saya."


"Diam! Sudah bagus kami tidak melukai wajah kamu seperti kamu yang menyuruh orang untuk melukai kakak kami."


Bayu menyumpal mulut Joanna dengan saputangannya.


"Mmmmph! Mmmpohh!"


"Berisik tahu gak."


Niki mengambil ponsel Joanna lalu segera menelpon Darren.


[Dimana kamu Joanna!] ujar Darren dari sebrang telpon.


[Ini Niki Om. Om, aku sama Bayu udah berhasil menangkap wanita yang bernama Joanna. Kami harus apakan wanita ini.]


[Kalian sudah menangkapnya? Kalian diam di sana sebentar lagi Om akan datang untuk menjemput kalian.]


[Baik Om.]


Niki mematikan telpon itu lalu menyalakan GPS di ponsel itu agar Darren gampang menemukan mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2