Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 29


__ADS_3

"Joanna kamu–"


"Nggak ya kak. Aku lebih suka kakak sama Mei bukan sama wanita gak tahu diri ini." Baru Darren akan mengucapkan sesuatu pada Joanna, Bella langsung memotong perkataan kakaknya itu.


"Papa aku takut, Tante Bell aku takut." Gaby menangis dari kejauhan namun suaranya masih dapat didengar oleh mereka bertiga.


"Gaby." Bella langsung berlari menghampiri Gaby lalu memangku gadis kecil itu!


"Sayang jangan takut, semua akan baik-baik saja," ucap Bella.


"Tante itu yang waktu itu mau menculik aku. Aku masih ingat dia yang berteriak memarahi aku di taman itu," ucap Gaby.


"Apa jadi wanita itu juga mencoba mendekati kamu."


Bella berjalan lagi menghampiri Darren dan Joanna!


"Gaby takut pada wanita ini karena wanita ini pernah berusaha menculik Gaby kalau kakak masih mau dengannya silahkan tapi Gaby gak akan aku biarkan bersama kalian," ucap Bella dengan nada kesal.


Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Bella pun langsung pergi meninggalkan Darren dan Joanna di sana!


"Bella kamu mau kemana?" tanya Darren.


"Pulang lah, gak lihat apa Gaby ketakutan gini." Bella berucap tanpa menatap Darren yang masih berdiri di tempat semula.


"Darren aku kangen," ucap Joanna.


"Maaf Joanna, aku harus mengejar Gaby." Darren melepaskan tangan Joanna yang menggenggam tangannya lalu berjalan dengan sedikit berlari untuk menyusul Gaby dan Bella!


Sebenarnya Darren masih mencintai Joanna dan juga sangat merindukannya tapi dirinya tak mungkin membiarkan putrinya kecewa padanya dan lagi sebenarnya posisi Joanna di hatinya sudah sedikit bergeser dan tergantikan oleh sosok Mei, gadis preman pasar itu.


"Darren! Darren!" Joanna memanggil Darren beberapa kali namun laki-laki itu tak menghiraukan teriakannya.


"Sialan, jangan sampai Darren udah gak mau lagi sama gue. Pokoknya gue harus dapetin Darren lagi." Joanna mengepalkan tangannya lalu memukul meja itu.


*******


"Itu si duda nyebelin ngapain minta gue jadi istrinya kalau masih ada cewek lain. Tuh cewek cantik lagi kalau dibandingkan dengan gue mah, gue kalah jauh," ucap Mei yang duduk di kursi belakang taksi yang ditumpanginya itu.


"Neng kita mau kemana?" tanya sopir taksi itu.


"Kita ke xxx bang."


Sopir taksi itu pun langsung melajukan mobilnya ke arah tempat yang Mei sebutkan.


"Tuh duda balikan gak ya sama cewek tadi? Kok aye merasa gak rela ya. Ah gak mungkin aye cemburu tuh duda kan nyebelin," batin Mei.


Mei memukul kepalanya beberapa kali agar tak mengingat Darren lagi.

__ADS_1


"Aduh Mei, lu kenapa jadi oon gini sih? Terserah Darren lah mau balikan lagi atau nggak sama tuh cewek, kok malah lu yang pusing." Mei terus berbicara didalam hatinya.


Selama ini Mei belum pernah merasakan hal seperti ini, dirinya merasa aneh dan tak mengerti dengan perasaannya ini tapi yang pasti Mei merasa dirinya tidak mungkin jatuh cinta pada laki-laki itu.


*******


"Sayang ayo kita pulang. Kalau kamu gak nyaman kita langsung pulang sekarang," ucap Darren sembari mengambil alih Gaby dari pangkuan Bella.


"Pa, Tante jahat itu yang menculik aku waktu itu," ucap Gaby dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Melihat Joanna, Gaby sangat ketakutan sehingga dirinya tak bisa berhenti menangis.


Sepertinya Gaby begitu trauma dengan apa yang pernah dia alami itu sehingga dirinya sangat ketakutan saat melihat Joanna.


Waktu itu Joanna menang membentak Gaby dan terus mengomel saat Gaby merengek meminta pulang. Gaby yang tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu pun langsung ketakutan dan mengalami trauma mendalam.


"Iya sayang, kita pulang ya biar kamu gak bisa, liat tante itu lagi.


Darren memasukkan Gaby kedalam mobilnya lalu dia pun segera masuk. Dirinya harus cepat membawa Gaby pergi dari sana agar gadis itu bisa, berhenti menangis.


" Gaby, bagaimana kalau nanti kamu tahu kalau Joanna itu Mamamu? Papa gak tahu bagaimana reaksi kamu nanti bahkan membayangkannya saja Papa sudah takut kamu akan merasa kecewa dan pastinya benci banget pada Joanna," ucap Darren didalam hatinya.


"Kenapa wanita itu datang lagi disaat kalian sudah mulai bahagia," ucap Bella yang duduk di bangku belakang mobil yang Darren kemudikan.


"Entahlah," ucap Darren singkat.


Darren terdiam dan tak menjawab perkataan Isabella.


"Sudah aku duga, kakak memang masih mencintai wanita tak tahu diri itu," ucap Bella lagi.


"Kamu gak ngerti Bell."


"Aku ngerti kak. Sudahlah jangan bahas tentang wanita itu, aku gak sudi menyebutkan namanya apalagi jika harus menjadikan dia sebagai kakak iparku lagi."


Sepanjang perjalanan mereka terus berdebat mereka lupa jika ada Gaby bersama mereka, untunglah karena capek habis menangis, bocah kecil itu tertidur di sana.


*******


Di rumah Mario.


"Pergi sama laki-laki? Siapa laki-laki itu?" tanya Mario pada dirinya sendiri.


Saat itu Mario sedang rebahan di atas sofa yang ada di balkon kabarnya sambil menatap cerahnya malam itu.


"Apa Mei udah punya pacar ya? Takut kalau dia punya pacar gak mungkin orang tuanya ingin menjodohkan aku dengan Mei?"


Ada banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tentang Mei namun dirinya tak tahu harus bertanya pada siapa, tidak mungkin dirinya bertanya pada Mei.

__ADS_1


"Apa aku langsung lamar Mei ke orang tuanya ya tapi gimana kalau ditolak? Malu dong aku."


*******


"Assalamu'alaikum!" seru Mei dari depan pintu rumah orang tuanya.


Mei pun langsung masuk karena menang pintu itu tidak dikunci oleh orang tuanya.


"Waalaikumsalam, udah pulang lu Mei," ucap Saroh.


"Roman-romannya ada dua laki-laki yang lagi ngejar elu Mei," ucap Rojak.


"Maksud Babeh?" ucap Mei pura-pura tidak tahu.


"Jangan pura-pura gak tahu lu. Lu mau pilih Darren atau Mario?"


"Ya aye kagak tahu lah Beh. Orang mereka gak suka sama aye."


"Gak suka gimana? Kalau mereka gak suka sama lu, gak mungkin mereka datang kemari buat nemuin lu," ucap Saroh.


"Nyak sama Babeh ini mikirnya kejauhan tahu gak. Emang mereka bilang kalau mereka suka sama aye? Nggak kan?"


"Emang nggak tapi kelihatan dari mukanya kalau orang lagi suka sama lawan jenisnya Mei," ucap Rojak.


"Terserah Nyak ama Babeh aja dah, aye mau ke kamar duluan, aye capek mau istirahat."


Mei pun langsung masuk ke dalam kamarnya karena tak ingin mendengar perkataan kedua orang tuanya yang terus membahas tentang dua laki-laki tampan namun berbeda status itu.


*******


Di dalam kamar Darren.


Darren duduk di tepi ranjang dengan wajahnya yang lesu.


"Kenapa kamu datang lagi Joanna? Apa kamu sudah bosan mengejar kebebasan dan dengan laki-laki pilihan kamu itu? Kenapa disaat aku sudah mulai melupakan kamu dan mulai membuka hati untuk orang lain, kamu malah datang dan berharap bisa kembali padaku lagi," ucap Darren didalam hatinya.


Saat itu pikiran Darren bercampur aduk, antara Mei dan juga Joanna. Dua-duanya sama-sama disukainya.


Bedanya Joanna adalah wanita dari masa lalunya sedangkan Mei adalah gadis yang ditemuinya di masa kini.


Darren masih mengingat kenangan indah bersama Joanna tapi dirinya juga masih merasakan sakit akibat luka yang ditorehkan oleh Joanna bersamaan dengan itu, Darren juga mengingat senyum Mei yang menurutnya sangat manis, bayang-bayang Mei yang sedang bercanda dengan anak-anak jalanan itu terus saja melintas dipikirannya.


Sehingga membuat Darren sulit memutuskan untuk memilih wanita dari masa lalunya atau wanita dari masa kini.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2