
Setelah acara selesai, Aryanti dan keluarganya hendak pulang kini mereka berada di parkiran tempat mobil mereka diparkiran.
Aryanti, Wiliam dan Darren sudah masuk ke dalam mobil sedangkan Mei masih berada di luar.
Baru Mei akan masuk ke dalam mobil tiba-tiba seorang yang tadi mengganggunya datang dan mencegahnya masuk ke dalam mobil.
"Tunggu dulu cantik, sebelum kamu pulang bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu," ucap laki-laki itu.
"Maaf, saya mau pulang. Tolong jangan ganggu saya," ucap Mei.
Darren dan kedua orang tuanya tidak segera turun dari mobilnya, mereka hanya melihat kejadian di luar mobilnya.
"Baru-baru banget, ayolah sebentar saja." Laki-laki yang tak mengetahui bahwa ada orang selain mereka itu meraih tangan Mei lalu menariknya.
Mei menarik balik tangan laki-laki itu lalu memelintir nya kebelakang!
"Gue bilang jangan ganggu gue tapi lo masih aja mengganggu. Pergi lo dari hadapan gue." Mei mendorong laki-laki itu hingga dia jatuh tersungkur.
"Lo mau main-main sama gue hah." Laki-laki itu kembali bangkit lalu menghampiri Mei!
"Gue gak mau bikin masalah tapi lo yang memulainya. Lo gak sayang sama reputasi lo? Lo kaya dan berpendidikan tinggi tapi sayang otak lo cuma diisi oleh sesuatu yang gak penting."
Laki-laki itu mencengkram kedua belah bahu Mei lalu mendorongnya hingga sampai Mei menyandar di mobilnya.
Laki-laki itu menahan Mei lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Mei, dia hendak mencumbu bibir Mei yang menggoda.
Darren dan kedua orang tuanya pun segera turun dari mobil untuk menghentikan aksi laki-laki itu.
Mei mengangkat kakinya hingga lututnya mengenai organ vital milik laki-laki itu.
Sebelum laki-laki bajingan itu berhasil menciumnya, Mei segera melakukan perlawanan.
Laki-laki itu meraung kesakitan sambil memegangi pusaka nya yang terasa sakit.
"Jangan pernah macam-macam dengan perempuan jika gue lihat lo kayak gini lagi, gue habisi nyawa lo." Mei menampar pipi laki-laki itu dengan keras hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Jangan anggap remeh ancaman gue ini. Ingat, ingat."
Mei segera meninggalkan laki-laki itu dan berjalan menghampiri Darren dan kedua orang tuanya.
"Ayo kita pulang," ucap Mei.
"Mei, kamu gak apa-apa?" tanya Aryanti.
"Tidak Bu, aye bae-bae aja kok."
"Kalau gak, Darren aja yang nyetir," ucap Wiliam.
"Gak usah, aye aja."
Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan Mei pun langsung mengemudikan mobilnya.
Laki-laki yang tadi mencoba mengganggu Mei itu masih terkapar di lantai, dia menatap mobil itu hingga sampai mobil itu sudah tak terlihat lagi.
__ADS_1
*******
"Nih si Mei kok belum pulang juga ya Bang," ucap Saroh.
"Iya nih, udah malam ini."
"Coba aye telpon dia dah." Saroh pun mengambil ponselnya yang terletak di meja ruang keluarga lalu mencoba menelpon Mei.
Berkali-kali menelpon Mei namun tak kunjung tersambung, nomor ponsel Mei tidak bisa dihubungi.
"Telponnya gak aktif Bang," ucap Saroh.
"Kemana tuh anak, jangan sampai dia kenapa-kenapa."
"Aye jadi gak enak pikiran Bang, si Mei kan bertugas mengkawal Bu Aryanti. Gimana kalau ternyata musuhnya dia banyak, gimana kalau Mei kagak bisa melawan mereka?"
"Eh jangan ngaco dah lu. Anak gue jagoan, dia gak akan bisa kalah dengan mudah."
Sebenarnya Rojak juga khawatir tapi dia berusaha menyembunyikan kekhawatiran nya itu dari sang istri.
*******
Di rumah Mario.
"Gimana kamu cocok gak?" tanya Romli pada Mario.
"Cocok apanya?" Mario pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Papanya.
"Mei, dia cantik, baik, sopan dan juga senyumnya sulit dilupakan tapi kayaknya dia gak suka sama aku."
"Belum apa-apa kok udah ngomong gitu. Coba aja dulu kali aja kalian cocok," ucap Warmi.
"Gimana ya, aku merasa ada sesuatu yang menghalangi aku untuk mendekati Mei."
"Ah lama-lama gue kawinin lu sama kambing dah. Tiap kali dikenalin sama cewek gak pernah ada yang cocok." Warmi mulai gemas karena anaknya itu tidak juga menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan istrinya.
"Ya jangan dong Ma, masa ganteng-ganteng gini dikawinin sama kambing."
"Ya makanya tunggu apa lagi. Si Maisya itu cantik, baik lagi, buruan lu pepet sebelum ada yang ngambil hatinya."
"Iya dah, besok aku telpon dia."
"Ngapain nelpon dia?"
"Ngakak nikah, apa lagi."
Mario langsung masuk ke dalam kamarnya sebelum kedua orang tuanya menanyai dirinya lagi!
*******
"Udah malam, aye langsung pulang ya Bu, Pak," ucap Mei setelah tiba di rumah Arya dan keluarga.
"Kamu nginap aja di sini."
__ADS_1
"Maaf Bu, bukannya aye gak mau tapi aye harus pulang karena tadi bilangnya cuma sebentar sama Nyak dan Babeh aye."
"Yakin? Ini udah malam lho."
"Iya yakin Bu, mau gimana lagi lagian jalanan masih ramai kok."
"Aku antar kamu sampai depan deh," ucap Darren.
"Gak usah, aye sendiri aja." Mei langsung naik ke motornya lalu mulai menyalakan mesinnya.
"Permisi ya Pak, Bu. Assalamu'alaikum."
Setelah Mei pergi mereka semua pun langsung masuk ke dalam rumah dengan berjalan beriringan!
*******
"Mel kok panasnya makin tinggi sih? Padahal tadi kamu udah minum obat," ucap Niki sembari terus mengompres kening Amel dengan air hangat.
"Bay, coba kamu minta tolong tetangga buat bantuin bawa Amel ke rumah sakit," ucap Niki pada Bayu.
"Mau bayar pakai apa Nik, hasil ngamen aku tadi udah habis buat beli susu Alif."
"Aku punya uang, tadi aku dapat lumayan dari hasil ngamen di lampu merah."
"Kalau gak cukup gimana? Kita telpon kak Mei aja ya."
"Jangan, kasian kak Mei. Dia udah banyak membantu kita, kita gak mungkin terus minta sama dia kan."
"Iya, aku tahu tapi sekarang kita tidak punya pilihan."
*******
Di kamar Darren.
Duda anak satu itu belum tertidur, setelah membersihkan diri, dia duduk di tepi ranjangnya.
Dia mengingat Mei yang ternyata menolongnya saat dia mabuk malam itu. Dia juga merasa bersalah karena sudah menuduh Mei yang menculik Gaby.
Setelah hampir sepuluh menit, Darren terdiam di tempatnya, tiba-tiba dia memukul kepalanya berkali-kali.
"Duuh, aku kenapa jadi ingat preman itu terus sih," uca Darren.
Ya, waktu pertama melihat Mei datang ke rumahnya dengan menggunakan gaun pesta cantik, ada rasa yang tak biasa saat melihat senyuman Mei yang manis.
Dengan adanya lesung pipi membuat senyum Mei semakin menawan.
"Kalau dipikir-pikir, preman itu cantik juga dan kalau diingat-ingat preman itu sudah beberapa kali menolong aku. Apa jangan-jangan aku sama dia emang berjodoh? Nggak, nggak. Nggak mungkin, gak mungkin lah aku cinta sama gadis preman itu."
Darren menepis perasaannya pada Mei pasalnya dirinya tidak pernah menyukai wanita lain selain Joanna.
"Kalau aku memang suka sama dia, berarti aku harus menyiapkan uang untuk Bella berlibur ke luar negeri." Tiba-tiba Darren teringat janjinya kepada Bella yang akan memberikan uang untuk adiknya berlibur.
Bersambung
__ADS_1