Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 37


__ADS_3

Di kamar Darren.


Darren sudah siap untuk pergi, dia sudah menggunakan pakaian rapi dan sekarang sedang menyisir rambu rambutnya agar tak berantakan.


"Uang buat aku liburan jangan lupa ditransfer ya," ucap Bella yang sengaja datang ke kamar Darren.


"Iya, bawel banget sih."


"Jangan gitu dong kakak sayang. Kakak kan udah kalah jadi harus terima akibatnya."


"Iya-iya besok kakak transfer mau berapa?"


"Secukupnya lah, paling tiga hari aku di sana eh satu minggu deh."


"Gak sekalian aja satu bulan kamu di sana."


"Jangan dong nanti gak ada buat modal nikah sama Mei. Kakak mau kemana?"


"Ke rumah Mei lah masa ke rumah Joanna."


"Ya kali aja kakak nyasar ke rumah Joanna."


"Mana ada. Joanna udah pergi dan gak mungkin kembali."


"Buktinya sampai sekarang wanita gak tahu diri itu masih sering datang ke rumah dan ke kantor untuk nemuin kakak kan."


"Ke rumah? Joanna ke rumah kita?"


"Iya, kenapa memangnya?"


"Kok dia masih hidup? Nenek sama Mama gak ada niatan membasmi ulat bulu itu."


"Ih ulat bulu, ular sawah dia tuh."


"Terserah kamu aja, kakak mau pergi dulu." Darren berjalan keluar dari kamarnya dan meninggalkan Bella di sana.


"Gaby sayang, kamu bobo ya. Jangan rewel dan jangan bikin Nenek kesal."


"Papa mau kemana?"


"Papa ada urusan sebentar besok baru tidur ditemani Papa ya."


"Iya deh, Papa jangan lupa pulang ya."


"Iya sayang lagian gimana bisa Papa lupa pulang sedangkan di rumah Papa punya kamu yang manis ini. Papa pergi dulu ya."


*******


Di tempat tinggal anak-anak asuhnya Mei.


"Untung hari ini kak Mei gak tahu kalau kita ngamen lagi Nik," ucap Bayu pada Niki.


"Allah masih melindungi kita dari amarah kak Mei."


"Kak hari ini makan apa?" tanya Alif.


"Belum tahu tadi kak Mei bilang kita tunggu aja di sini," ucap Amel


"Tadi kak Mei kesini?"


"Nggak. Kak Mei telpon ke tetangga, kak Mei pengen bicara sama kak Niki dan kak Bayu tapi kalian gak ada akhirnya aku yang bicara sama kak Mei."

__ADS_1


"Terus kamu bilang kakak lagi kemana?" tanya Bayu.


"Aku bilang aja kakak lagi nyuci piring berdua sama kak Niki."


Niki dan Bayu menghela nafas lega karena Amel memberi alasan yang tepat.


"Assalamu'alaikum, anak-anak," ucap Mei dari luar rumah mereka.


"Kak Mei. Dia dengar pembicaraan kita gak ya," ucap Bayu.


Mereka semua terkejut saat mendengar suara Mei di luar rumahnya.


"Anak-anak kalian ada di dalam kan?" ucap Mei karena tak kunjung ada yang membukakan pintu.


"Waalaikumsalam, ada kak." Niki membukakan pintu untuk Mei. Dia tersenyum saat melihat sosok Mei yang sedang berdiri didepan pintu.


"Ini kakak bawain kalian makanan."


"Terimakasih kak, ayo masuk dulu."


"Gak usah, kakak ada urusan lain. Kalian makan ya habis itu tidur."


"Iya kak."


"Amel, Alif kalian baik-baik saja kan?"


"Baik kak," sahut Amel dan Alif.


"Kalau gitu kakak langsung pergi ya."


"Iya kak hati-hati ya."


Mei tersenyum lalu segera pergi dari sana!


"Kamu ... kamu ngapain di sini bawa banyak makanan lagi?" tanya Mei.


"Aku, aku mau bagi-bagi makanan sama penduduk di sini." Darren nampak terkejut saat melihat Mei di sana.


Darren menang sengaja datang ke sana untuk membagikan makanan pada anak-anak asuhnya Mei dan pada semua orang di sana


"Jangan bohong kamu. Kelihatan banget wajah kamu gugup gitu."


"Gak bohong kok, aku jujur Mei. Aku mau ngasih ini kepada Niki, Bayu, Alif dan Amel sisanya buat tetangga dekatnya."


Mei tersenyum lalu membantu membawakan satu plastik besar berisi nasi kotak itu. "Aye bantu ya. Kamu bae bener sama mereka."


Darren menghela nafas panjang lalu tersenyum, dia pikir Mei akan marah padanya ternyata pikirannya itu salah Mei malah memuji dirinya.


"Sejak kapan kamu sering ke sini untuk menyantuni mereka?"


"Sejak aku kenal kamu."


"Kok bisa?"


"Aku curiga karena kamu gak pernah mau diajak jalan atau bertemu dengan Mamaku saat jam makan siang dan sore hari. Waktu itu aku mengikuti kamu sampai ke sini, aku melihat kamu memberi mereka makan dan bersenda gurau bersama mereka dan dilain hari aku lihat kamu mengajari anak-anak jalanan itu membaca dari situlah aku mulai datang ke sini untuk menyantuni mereka dan sejak saat itu juga aku mulai tergila-gila sama kamu. Jujur aku berharap banget kamu bisa jadi istri aku."


"Sampai segitunya ngikutin aye, pasti kamu berpikir yang nggak-nggak deh."


"Iya, tidak bisa aku pungkiri. Melihat kamu yang preman kayak gini, siapa sih yang berpikiran positif pastinya ke negatif semua."


"Jangan pernah menilai orang hanya dari penampilannya saja, banyak orang berwajah sangar tapi aslinya gak jahat."

__ADS_1


"Maaf ya, Mei aku pernah berpikir buruk tentang kamu."


"Gak apa. Udah nyampe nih, ini makanan kamu aja yang bagiin ya, anak-anakku sudah aku kasih makan tadi."


Darren tersenyum ke arah Mei dan untuk sesaat mereka saling bertatapan dalam waktu yang lumayan lama.


Darren pun membagikan makanan yang dia bawa pada orang-orang di sana.


Tak butuh waktu lama, mereka pun selesai Darren segera mengajak Mei pergi dari sana.


*******


"Pulang-pulang muka ditekuk gitu, ada apa?" tanya Romli.


"Aku lelah Pa, tadi banyak sekali pelanggan butik yang datang."


"Lelah badan sama lelah pikiran itu beda Mario, Mama tahu ada yang sedang kamu pikirkan," ucap Warmi.


"Mama adalah satu-satunya makhluk yang paling gak bisa dibohongi."


"Ada apa hmm?"


"Gak ada apa-apa Ma."


"Gak ada apa-apa gimana? Kamu sendiri yang bilang kalau Mama gak bisa dibohongi."


"Mei, gara-gara Mei kamu gini?" tanya Romli.


"Bisa iya bisa juga nggak."


"Kok gitu?"


"Ada laki-laki lain yang melamar Mei dan Mei udah deket banget sama anak dari laki-laki itu. Sebenarnya kalau pun Mei nolak aku, aku gak apa-apa tapi ada sedikit rasa yang mengganggu aja dipikiranku."


"Tuh kan Mama bilang juga apa, dari awal kamu harus nikahin dia. Kalau udah gini gimana coba?"


"Ya gak gimana-gimana tinggal cari wanita lain lagi."


*******


"Tenang lamaran ku kemarin. Gimana jawaban kamu?" tanya Darren.


"Gimana ya?"


"Apapun jawaban kamu aku akan terima."


"Aye mau tapi jangan nikah dalam waktu dekat ini, beri aye waktu beberapa bulan saja."


Darren tersenyum bahagia, wajahnya berbinar sesaat setelah mendengar perkataan Mei padanya.


"Kamu mau? Alhamdulillah, terimakasih. Terimakasih banyak." Darren menggenggam tangan Mei dan mengguncangkan nya pelan.


Mei tersenyum bahagia melihat Darren yang tersenyum bahagia.


Mereka berdua bertatapan dengan tangan Darren yang masih menggenggam tangan Mei.


Di tempat yang tak jauh dari mereka, Joanna melihat dan mendengar percakapan mereka.


Joanna terus memperhatikan mereka dengan amarah yang bergejolak di dadanya.


"Pantas kamu selalu menghindari aku, ternyata sudah ada perempuan lain dihati kamu," ucap Joanna didalam hatinya.

__ADS_1


Joanna mengeratkan rahangnya lalu mengepalkan tangannya. Dalam hatinya ingin sekali dirinya marah pada Darren tapi dirinya tidak mungkin membuat keributan di kafe itu.


Bersambung


__ADS_2