Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 91


__ADS_3

Di pasar.


Selesai sudah, Satya membelanjakan dua bocah kecil itu, akan tetapi dia masih enggan untuk pulang. Dirinya masih betah berlama-lama dengan Mei di sana, meski kondisi pasar tidaklah bersih seperti di Mall-Mall yang biasa dia kunjungi, tetapi dirinya tetap betah dan nyaman selama ada Mei di sampingnya. Saat ini, mereka sedang beristirahat di tempat biasa Mei nongkrong bersama teman-temannya, Satya terus berusaha mengajak Mei bicara.


"Udah selesai, anak-anak?" tanya Mei pada Amel dan Alif.


"Udah, kak," sahut Amel.


"Bilang makasih sama omnya sana!" titah Mei pada dua bocah itu.


"Makasih, Om ganteng," ucap Amel dan Alif secara bersamaan.


"Iya, sama-sama," sahut Satya dengan senyuman ramah.


"Kamu baik sekali, Mei. Mereka tidak mempunyai hubungan apa pun denganmu, tapi kamu begitu perhatiannya pada mereka," ucap Satya sembari menatap Mei.


Mei tersenyum. "Siapa bilang aye gak ada hubungan apa pun dengan mereka? Mereka adik-adik aye biar pun mereka tidak terlahir dari perut Nyak aye," ucapnya.


Satya menatap jam di tangannya. "Bentar lagi jam dia belas, mau makan bersama?" tanya Satya pada Mei.


"Gak usah. Aye kagak mau merepotkan kamu," ucap Mei.


"Gak repot, kok. Aku senang melihat anak-anak ini senang," ucap Satya sembari mengusap punggung Alif.


*******


Darren baru saja tiba di jalan depan Sekolah Gaby. Dia menepikan mobilnya tepat di depan mobil Joanna, setelah itu, dia langsung turun dari mobilnya dan langsung menghampiri seorang satpam yang berjaga di depan gerbang sekolah.


"Darren. Hah soal, ngapain dia jemput Gaby segala," batin Joanna sembari menatap ke arah Darren.


"Gaby belum keluar ya, Pak?" tanya Darren pada satpam itu.


"Belum, Pak. Masih sepuluh menit lagi," jawab satpam itu sembari menatap jam di tangannya.


"Mau menunggu di dalam, Pak?" tanya satpam itu lagi pada Darren.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Saya menunggu di sini saja," sahut Darren.


Orang-orang di sekolah Gaby memang sudah tahu pada Darren dan orang-orang terdekat Gaby seperti neneknya, kakeknya dan juga Bella tentunya, mereka tidak akan memberikan informasi apa pun tentang murid di sekolah itu pada sembarangan orang yang belum mereka kenal.


"Tadi, aku tanya. Dia bilang gak tahu, tapi sama Darren bilangnya gitu," gumam Joanna. Dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu karena dirinya tidak mungkin berhasil menemui Gaby saat ada Darren.


Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya Gaby keluar dari area sekolah. Gadis kelas satu SD itu langsung menghampiri sang ayah yang sedang menunggunya di depan gerbang sekolahnya.


"Hai, Pa!" seru Gaby sembari tersenyum manis ke arah Darren.


"Assalamu'alaikum," ucap Gaby lagi setelah dekat dengan Darren. Dia segera mencium punggung tangan Darren.


"Kok, Papa yang jemput? Pak sopir juga ada," ucapan Gaby.


"Kita mau makan siang bareng mama. Yuk kita temui mama di pasar!" ajak Darren lalu menggandeng Gaby dan berjalan berdampingan.


"Kadang saya heran sama Pak Darren. Dia itu orang kaya yang punya segalanya, tapi menikah dengan perempuan yang terlahir dari kalangan biasa, preman pula," ucap seorang satpam sembari menatap kepergian Darren dan Gaby.


"Istrinya Pak Darren yang sekarang memang berbeda dari yang perempuan lainnya. Dia preman tapi hatinya baik, buktinya keluarga Pak Darren menerima dia dengan baik," sahut satpam yang lain.


"Orang kaya bisa saja menyingkirkan preman pasar itu dengan uangnya, tapi buktinya, mereka terlihat bahagia. Bu Aryanti bersikap baik terhadap istrinya Pak Darren. Semua terbukti karena mereka sering berkumpul bersama, pergi bersama dan melakukan acara keluarga dengan keluarga yang lengkap tanpa ada satu pun yang kurang. Sepertinya keluarga Pak Darren memang tidak pernah membedakan sosial terhadap orang lain," jelas satpam yang lainnya.


******


Di pasar.


"Eh, Bang. Mei udah punya laki, jangan didekati," ucap Karen mengingatkan Satya.


Bukannya apa-apa Karen berkata seperti itu. Dia takut Satya salah paham dengan keramahan Mei yang akhirnya dia jatuh cinta dan harus menelan kekecewaan. Sebagai orang yang dekat dengan Mei dan yang selalu bersamanya, dirinya tahu benar saat seseorang laki-laki mendekati Mei, pasti dia mempunyai maksud dan tujuan tersendiri.


Satya menoleh, menatap Karen. Dia tersenyum ke arah gadis itu. "Saya tahu," ucapnya.


"Jangan sampai ada luka dalam pertemuan ini. Kita kagak mau Mei mengalami masalah dan kita juga kagak mau, Abang mengalami kekecewaan gara-gara ditolak cinta oleh Mei," lanjut Joni.


"Tenang saja. Lagipula, saya di sini bukan untuk menemui Mei, saya datang ke sini untuk membahagiakan dua anak ini yang ternyata adalah adiknya Mei. Saya gak tahu kalau ternyata mereka adalah adik-adiknya Mei," jelas Satya berbohong, padahal dia sengaja mencari tahu tentang Mei dan semua orang terdekatnya demi mendekati Mei.

__ADS_1


Dari depan pasar, mobil Darren melaju memasuki parkiran yang berada di dalam pasar itu Darren sengaja membawa mobilnya masuk agar dia bisa langsung menemui pujaan hatinya, ratu di Kerajaan cintanya.


"Bang Darren datang, tuh. Minggir, Bang! Jangan duduk di samping Mei, nanti dia cemokur," ucap Dion saat melihat mobil Darren masuk ke area pasar.


Mereka yang sudah tahu bagaimana Darren, langsung mengantisipasi adanya kesalahpahaman diantara mereka. Dion tahu Darren pasti cemburu melihat Mei duduk bersebelahan dengan laki-laki lain, melihat Mei terlalu dekat dengan Dion dan Joni saja kadang Darren suka cemburu apa lagi melihat Mei duduk berdekatan dengan Satya yang tampannya luar biasa karena dia memang masih muda.


Satya tertawa kecil lalu beranjak dari duduknya. "Kalau gitu, saya pulang aja deh."


"Ayo anak-anak!" ajak Satya pada dua anak itu.


"Kayaknya Amel dan Alif di mari aja dulu. Gaby pasti pengen ketemu mereka," ucap Mei.


"Gaby?" Satya menatap Mei.


"Anaknya," ucap Joni.


"Oh." Satya tersenyum lalu segera pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apa pun.


Satya berjalan dengan langkah tegak, saat berpapasan dengan Darren, pemuda itu melempar senyum misterius pada Darren. Sementara Darren hanya menatapnya dengan tatapan datar. Dia tahu tadi Satya duduk bersebelahan dengan Mei dan mereka tertawa bersama seolah sudah dekat. Darren melihat tatapan Satya pada Mei begitu luar biasa.


Setibanya di depan Mei. Darren langsung mencium kening Mei lalu duduk di sebelahnya. "Siapa itu?" tanyanya.


"Sapa? Siapa?" tanya Mei balik.


"Jangan pura-pura gak tahu. Aku melihat kamu duduk bersama dengannya," ucap Darren lagi.


Tiga teman Mei tertawa tanpa suara. Mereka sudah menduga bahwa di duda bucin itu pasti cemburu. Mereka langsung berpindah tempat menjauhi Mei dan Darren karena takut tidak kuat menyaksikan kebucinan bapak satu anak itu. Sementara itu, Gaby, Alif dan Amel asyik mengobrol bertiga. Mereka membicarakan masalah sekolah masing-masing.


"Yaelah, masih aja cemburu. Aye cuma cinta sama kamu, My Husband lagian ya dia itu bukan siapa-siapa, dia ke mari ngajak Amel dan Alif belanja dan satu yang harus kamu tahu, dia kagak ada niatan menemui aye di mari meski aye dan dia udah saling kenal," jelas Mei.


"Apa! Kamu udah kenal dengannya. Kenal di mana? Siapa dia? Jangan bilang kalau dia mantan kamu," ucap Darren penuh curiga.


Bukannya menjawab semua pertanyaan suaminya. Mei malah tertawa kecil sembari menatap wajah Darren yang panik luar biasa. Inilah yang membuat dirinya selalu cinta dan semakin cinta pada Darren. Selain Darren itu cemburuan dan kadang sedikit posesif, Darren juga super romantis yang membuat Mei selalu lengket pada duda satu anak itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2