
Keesokan harinya.
Pagi ini, Mei dan Darren baru akan pulang ke kota asal mereka. Sebelum pergi, Mei mendatangi rumah keluarga Risya untuk berpamitan. Dalam perjalanan menuju rumah orang tua Risya, Mei terus terdiam. Dia mengingat perlakuan Hengky padanya, dalam hatinya ada kegundahan yang melanda. Apakah Darren akan tetap menerimanya jika dia tahu bahwa Hengky sudah menyentuhnya meski tak sampai melakukan hubungan suami istri?
"Hei, kamu kenapa? Ada aku di sini, kamu akan baik-baik saja," ucap Darren yang melihat Mei begitu gelisah.
Mei menatap Darren, tapi dia tak berucap sesuatu apa pun. Darren mengelus-elus lutut hingga paha Mei berulang kali sambil berkata. "Jangan takut, semua akan baik-baik saja."
Mei tersenyum lalu mengangguk pelan. "Jika kamu tahu siapa yang menculik aye dan apa yang dia lakukan pada aye. Apa kamu masih akan bersikap manis seperti ini?" batin Mei.
Tak lama mereka tiba di depan rumah orang tuanya Risya. Darren menghentikan mobilnya lalu mereka segera turun dari mobil. Darren segera menghampiri Mei dan bersiap untuk memangku tubuh Mei, tapi langsung ditolak oleh Mei.
"Kenapa? Telapak kaki kamu terluka, aku takut lukanya semakin parah," ucap Darren.
"Gak. Aye baik-baik saja," sahut Mei.
"Yakin? Aku ngilu melihat kamu berjalan," ucap Darren lagi.
"Gak apa-apa." Mei berjalan biasa seolah tidak ada luka di telapak kakinya. "Tuh, gak sakit. Jangan khawatir," sambung Mei sembari tersenyum ke arah Darren, mencoba meyakinkan suaminya bahwa dirinya, baik-baik saja.
"Kamu ini. Emang paling beda sendiri," ucap Darren dengan senyum bahagia.
Mereka pun tiba di depan pintu itu dan langsung mengetuk pintu rumah orang tua Risya. Tak lama Risya membukakan pintu, senyum langsung mengembang di bibirnya setelah melihat tamu yang datang pagi ini ke rumahnya.
"Mas, Mbak, silakan masuk!" Risya membuka pintu itu lebar-lebar dan mempersilahkan mereka duduk di kursi ruang tamu rumahnya.
"Mbak, di mana bapak dan ibu?" tanya Mei.
"Ibu ada, sedangkan bapak sudah berangkat bekerja," sahut Risya.
"Kamu gak kerja?" tanya Darren.
"Kerja. Sebenarnya saya baru mau berangkat bekerja," sahut Risya.
__ADS_1
"Oh. Saya pikir kamu tidak bekerja," ucap Darren yang hanya dibalas senyuman oleh Risya.
"Ada tamu rupanya," ucap ibunda Risya.
"Bu," ucap Darren.
"Ibu buatkan minum dulu ya," ucap ibunda Risya lagi.
"Gak usah, Bu. Kami ke sini untuk berpamitan saja. Kami akan pulang hari ini," jelas Mei.
Ibunda Risya mengurungkan niatnya untuk membuatkan mereka minum. Dia berjalan mendekati mereka lalu duduk di samping Risya. Dirinya memang tidak tahu bahwa Mei berasal dari luar kota.
"Kalian mau pulang? Memangnya ke mana kalian pulang kenapa harus sepagi ini?" tanya ibunda Risya.
"Kami dari ibu kota. Penculik itu membawa istri saya kabur ke sini, jadinya kami harus berkunjung ke kota ini. Berkunjung dengan terpaksa," sahut Darren.
"Eum. Bu, saya ingin berterima kasih pada ibu dan keluarga terutama, Mbak Risya. Terima kasih sudah menolong saya," ucap Mei.
"Tidak usah berterima kasih. Kemarin 'kan udah berterima kasih," ucap Risya.
"Mbak Risya, Bu. Kami langsung pamit ya. Kami akan berkunjung ke sini kalau kami ada kesempatan untuk mengunjungi kota ini lagi," ucap Darren.
"Ya. Datanglah kapan pun yang kalian mau," ucap ibunda Risya.
Darren dan Mei pun bangkit dari duduknya dan langsung menjabat tangan Risya dan ibunya secara bergantian. Setelah itu mereka pun keluar dari rumah itu dengan diantarkan oleh Risya dan ibunya sampai ke depan rumahnya.
*******
Di rumah Hengky.
"Aaaargh!" Hengky berteriak karena tak dapat menemukan Mei di manapun.
Dia belum tahu bahwa Mei sudah ditemukan tapi dia tahu bahwa Mei sedang dicari oleh polisi dan juga keluarganya. Dia tahu bahwa mereka sudah berada di kota itu, karena itulah dia sudah menyembunyikan mobil yang digunakan untuk menculik Mei di tempat yang jauh dari kota, di tempat yang jarang sekali dikunjungi oleh manusia.
__ADS_1
Sebelum melakukan kejahatan, dirinya memang sudah memikirkannya apa yang akan terjadi setelahnya. Dia pun sengaja membawa Mei ke kota itu karena sebenarnya kota tempat dirinya tinggal dan menetap, bukanlah di sana. Setelah ini dia akan pergi ke kota lain untuk menghindari kejaran polisi. Dirinya tahu bahwa sekarang dirinya masuk dalam daftar pencarian orang pihak kepolisian.
Saat ini, dalam keadaan kecewa karena tak dapat menemukannya Mei. Hengky mulai berkemas, dia akan segera pergi hari ini juga demi keamanan dirinya dari kejaran polisi. Kemarin, dirinya sudah memecat kedua asisten rumah tangganya dan kini hanya dirinya sendirian di sana.
********
Di ibu kota.
Di kediaman Babeh Rojak.
Semua orang di sana sedang berbahagia mendapat kabar dari Darren yang mengatakan bahwa Mei akan pulang hari ini dan akan langsung ke rumah Babeh Rojak. Nyak Saroh sedang memasak dalam porsi yang banyak karena keluarga Darren juga akan berkumpul di sana untuk menyambut kedatangan Mei. Karena itulah, Nyak Saroh masak dalam jumlah banyak pagi ini.
"Niki, Lu bantu bersihin daging dah tuh. Nyak mau nyiapin bumbunya dulu," ucap Nyak Saroh pada Niki.
"Iya, Nyak. Emang kita mau masak apa?" tanya Niki sembari membuka plastik yang yang membungkus daging sapi yang baru dibeli Nyak Saroh dari pasar.
"Kita mau masak semur daging kesukaan kakak, Lu," sahut Nyak Saroh.
"Oke, Nyak." Niki pun tak bertanya lagi, dia langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh Nyak Saroh.
Di tempat lain, ada Bayu yang sedang menyiangi sayuran karena Nyak Saroh juga ingin membuat gado-gado. Hari ini Nyak Saroh akan memasak semua makanan kesukaan putrinya itu.
"Alhamdulillah, anak gue udah bisa pulang hari ini. Kalau puncaknya ketangkap, gue mau jadiin dia oncom ulek. Enak saja dia main bawa-bawa aja anak gue ke luar kota," ucap Babeh Rojak.
"Beh, kalau penjahatnya ketemu 'kan langsung diamankan polisi. Terus gimana cara Babeh menyentuhnya?" tanya Joni.
"Gue akan lakuin segala cara. Pokoknya gue gak ikhlas anak gue udah dilukai ma, tuh orang," sahut Babeh Rojak lagi.
"Iya deh, Beh. Beh, aye ke pasar dulu ya. Kalau Mei udah tiba, tolong kabarin kita karena kita juga pengen tahu keadaan Mei," ucap Joni.
"Iya-iya. Lu amanin pasar dulu dah!" titah Babeh Rojak pada Joni.
Joni pun langsung pergi dari rumah itu dengan perasaan yang bahagia karena tahu Mei sedang dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
Bersambung.