Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 68


__ADS_3

Setelah hampir satu jam nongkrong di pasar bersama Mei dan teman-temannya. Bella dan Mario pamit pergi, mereka harus kembali bekerja terutama Bella yang mengharuskan dirinya stay di kantor sedangkan Mario karena dia pekerja bebas yang tidak tunduk pada perintah siapa pun, dia memilih pergi ke restorannya untuk memantau keadaan tempat usahanya itu.


"Kak, aku ke kantor lagi deh tapi sebelum itu aku anterin Gaby dulu," ucap Bella.


"Gak usah. Gaby biar kakak yang antar lagian bentar lagi aye mau pulang, kok," jelas Mei.


"Hore! Pulang sama Mama," seru Gaby penuh bahagia.


"Ya udah kalau gitu. Aku pergi duluan ya," ucap Bella pada Mei.


"Iya. Hati-hati di jalan," ucap Mei pada Bella.


"Awas kamu ya kalau sampai Bella kenapa-kenapa," ucap Mei lagi pada Mario.


"Iya, Mei. Tenang aja aku pasti jagain Bella, kok," sahut Mario.


Mei hanya tersenyum ke arah Mario dan Bella. Setelah itu dia juga bersiap untuk mengantarkan Gaby pulang.


********


Di suatu tempat.


Bodyguard Satya sedang terlibat perkelahian dengan sekelompok orang yang menculik Bu Widya. Dengan sekuat tenaga, mereka terus melawan orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari mereka.


Di dalam mobil penculik.


Bu Widya hanya bisa menangis sembari berteriak memanggil bodyguardnya. Dia meminta tolong pada mereka agar melepaskan dirinya dari dalam mobil yang terkunci itu.


"Tolong! Tolong keluarkan saya dari sini!" teriak Bu Widya sembari menggedor-gedor kaca mobil itu.

__ADS_1


Seorang bodyguard berusaha membuka pintu mobil itu tapi belum juga berhasil, dia sudah mendapat pukulan di bagian punggungnya hingga dirinya kesakitan dan terjatuh ke aspal. Penculik itu memukul bodyguard Satya dengan balok kayu hingga bodyguard itu langsung lumpuh dan tak dapat melakukan perlawanan lagi.


Dari kejauhan mobil yang dikendarai oleh Helmy melaju mengarah ke tempat perkelahian itu. Satya langsung panik saat melihat dua bodyguardnya sudah terkapar di atas aspal.


"Hel, cepat. Mama saya dalam bahaya!" titah Satya.


"Kita hampir sampai," ucap Helmy sembari menambah kecepatan mobilnya sampai mencapai batas maksimal.


Setelah dekat dengan mereka. Dengan cepat Helmy menghentikan mobilnya dan langsung membantu tiga rekannya yang masih berusaha melumpuhkan lawan. Sementara itu Satya langsung menuju mobil yang didalamnya ada sang ibu.


Satya mencoba membuka paksa pintu mobil itu tapi sayangnya usahanya tidak berhasil. Dengan sekuat tenaganya, dia mencungkil pintu mobil itu dengan menggunakan kunci mobilnya karena memang tidak ada alat lain yang bisa dia gunakan untuk membuka pintu mobil itu.


"Mama! Bertahanlah. Aku akan mengeluarkan Mama!" seru Satya.


"Tolong! Mama mulai kepanasan dan sesak di sini!" seru Bu Widya.


Satya semakin panik saat mendengar sang ibu sudah mulai merasakan sesak di dalam mobil itu. Dia takut sang ibu kenapa-kenapa, dia takut kehilangan sang ibu karena saat ini dirinya hanya memiliki ibu saja sedangkan sang ayah sudah lama tiada.


Dari arah barat, Mei datang dengan mengendarai motornya. Dia melihat ada keributan jauh di depan sana, ada rasa was-was karena dirinya sedang bersama Gaby, dia takut terjadi apa-apa pada putrinya itu tapi dirinya harus melewati jalan itu untuk sampai di rumah mertuanya.


"Ma, ada apa di sana?" tanya Gaby yang juga melihat perkelahian di depannya.


"Gak tahu. Kayaknya kita gak usah pulang dulu deh, bahaya. Mungkin mereka sedang tawuran," jelas Mei.


"Ma, kasihan orang-orang yang sudah kalah itu. Mereka harus dibawa ke rumah sakit," ucap Gaby saat melihat beberapa orang tergeletak di aspal.


"Biarin aja. Salah mereka juga, ngapain tawuran," sahut Mei sembari memelankan laju motornya karena dia akan putar balik.


"Tolong!" teriak Bu Widya sembari terus menggedor-gedor kaca mobil itu.

__ADS_1


Mei mengalihkan pandangannya dan mencoba mencari si pemilik suara. Dia mendengar suara teriakan seorang perempuan yang minta tolong.


"Tolong!" teriak Bu Widya lagi.


Mei melihat ke dalam mobil itu dan dia langsung mendapati seorang perempuan paruh baya di dalamnya. Mei segera menghentikan laju motornya dan turun dari motor itu.


"Gaby, sepertinya ada yang membutuhkan pertolongan. Kamu bersembunyi di sana ya," ucap Mei sembari menunjuk ke arah pohon besar yang terdapat di pinggir jalan yang jaraknya lumayan jauh dari tempat keributan itu.


Gaby mengikuti arah jari Mei lalu dia mengangguk paham. "Siap, Ma. Mama hati-hati ya," ucap gadis kecil itu.


"Jangan keluar dari sana sebelum mama, memanggil kamu," jelas Mei sebelum akhirnya Gaby pergi menjauh dari tempat itu.


Setelah Gaby pergi. Mei mengambil obeng dari bagasi motornya lalu segera bergegas menghampiri mobil yang di dalamnya ada Bu Widya. Dengan kekuatan penuh, Mei berusaha membuka pintu yang ternyata sudah ada bekas pembobolan. Tak butuh waktu lama. Mei pun sudah bisa membuka sedikit pintu mobil itu tapi belum berhasil sepenuhnya, seorang laki-laki menyerangnya dari belakang.


Mei pun terkena pukulan di bagian punggung kiri tapi itu tak membuatnya langsung terkalahkan. Dia segera menyerang laki-laki itu dengan cepat dan lincah. Dirinya tidak bisa membiarkan perempuan itu berlama-lama di dalam mobil itu karena akan berakibat buruk bahkan mungkin wanita itu bisa meninggal karena kehabisan napas.


Dari dalam mobil. Bu Widya berusaha mendorong pintu itu dengan tangannya, sesekali dia mendorong pintu itu dengan kakinya.


Tak sampai lima tiga menit, penjahat itu sudah berhasil dikalahkan oleh Mei. Laki-laki itu meraung kesakitan karena Mei menghantam bagian sensitifnya. Merasa lawannya sudah kalah. Mei langsung berusaha membuka pintu mobil itu lagi dan hanya beberapa detik saja, dia berhasil membuka pintu mobil itu.


Bu Widya pun langsung turun dari mobil itu. Dengan dibantu oleh Mei, Bu Widya berjalan menuju pinggiran jalan itu agar tidak terancam bahaya.


"Tolong anak saya. Dia dikeroyok banyak orang," ucap Bu Widya sembari menatap Satya dan Helmy yang sedang berjibaku melawan penculik yang jumlahnya lebih banyak dari kelompoknya.


"Ibu tunggu di sini. Aye akan mencoba membantu mereka," ucap Mei.


Mei tidak tahu yang mana lawan dan yang mana kawan, yang dia tahu anak dari ibu itu menggunakan jas berwarna biru dan yang satu lagi berpakaian serba hitam seperti seorang bodyguard. Mei langsung melawan salah satu dari mereka yang saat itu sedang menyerang Satya secara bersamaan.


Kini Satya mendapat satu tambahan tenaga yang membuat kekuatannya bertambah. Dia tak tahu bahwa tenaga tambahan itu adalah Mei karena dirinya tidak sempat untuk memerhatikan orang yang tiba-tiba datang membantunya itu.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2