
"Hai sayang, udah lama nunggu ya?" ucap Darren saat tiba di restoran tempat mereka akan makan malam bersama.
"Papa, iya nih aku udah mulai bosan nungguin Papa. Kenapa Papa lama banget?"
"Maaf ya Gaby, tadi dijalan macet banget," ucap Mei.
"Mama cantik banget," ucap Gaby.
"Terimakasih sayang."
"Mei, kamu cantik banget," ucap Isabella.
"Terimakasih," ucap Mei.
Mereka semua pun duduk dalam satu meja yang sama!
"Kita udah pesan makanan, jadi kita tinggal nunggu," ucap Bella.
"Oh udah, pesan apa?"
"Nanti juga tahu, kakak tinggal bayar aja."
Tak lama makanan yang Bella pesan pun tiba.
Pelayan restoran itu pun segera menata makanan pesanan Bella di atas meja!
"Selamat menikmati," ucapnya lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Eh kayaknya itu teman aku deh," ucap Bella saat mereka akan mulai makan.
"Hah mana?" Darren terlihat mencari-cari orang yang dimaksud oleh Bella.
"Itu." Bella mengarahkan jari telunjuknya ke arah seseorang yang berada tak jauh darinya.
"Ya udah tante Bell, kita samperin teman tante Bell yuk!" Gaby beranjak dari duduknya lalu menggenggam tangan Isabella.
"E_eh jangan. Kalian di sini saja," ucap Darren.
"Pa, Papa di sini kan ada Mama yang nemenin sedangkan temannya tante Bell cuma sendirian, kasian Pa."
"Gaby kan kamu yang mau makan sama Mama, kok kamu malah mau pergi?" ucap Mei.
"Mama kan udah jadi Mama aku, kita punya banyak waktu untuk makan bersama. Kasian katanya teman tante Bell itu baru ditinggalkan oleh orang yang disayanginya."
"Ya udah kalau gitu, kamu memang baik."
Gaby menatap Bella lalu tersenyum tipis, mereka berdua pun langsung meninggalkan Darren dan Mei di sana.
"Ni kenapa jadi cuma kita doang yang makan ya," ucap Mei.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu gak nyaman? Kamu takut aku apa-apain? Gak usah takut, aku sama kamu lebih jago kamu kan," ucap Darren.
"Ya nggak gitu. Kalau tahu Gaby nya mau pergi mending kita gak usah makan malam bareng."
"Kamu nyesel?"
"Sedikit." Mei menyendok makanan itu lalu memakannya.
"Kalau boleh jujur, kamu menjadi lebih cantik saat kamu kesal gini."
Mei mengangkat kepalanya dan menatap Darren.
"Apa? Apa kamu bilang?"
"Kamu cantik," ucap Darren dengan santainya.
"Kamu lagi menggoda aye."
"Nggak. Aku orangnya jujur dan gak pernah mengatakan apa yang gak ada dalam otak aku."
Mei masih menatap Darren dengan mulut yang tertutup, tak ada sepatah kata pun yang diucapkannya.
"Oh ya satu lagi, selain cantik kamu juga menarik," sambung Darren.
Mei tertawa kecil lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Setelah ini kamu mau bicara apa lagi?"
"Apa lagi?"
"Ya maksud aku, aku mau kamu jadi istri aku."
"Apa? Kemarin aja kamu benci banget sama aye."
"Siapa yang bilang kalau aku benci?"
Di tempat yang agak jauh dari Darren dan Mei. Gaby dan Isabella menatap mereka dengan senyuman bahagia di bibirnya.
"Tante yakin rencana kita ini bakal berhasil?" tanya Gaby.
"Yakin. Semoga aja, kamu berdoa aja semoga Mama Mei beneran jadi Mama kamu."
"Iya aku pasti berdoa yang terbaik untuk Papa dan Mama Mei."
"Kamu memang harus berhasil membuat mereka pacaran Gaby biar tante bisa liburan gratis," ucap Bella didalam hatinya.
"Darren!" seru seorang wanita dari jarak yang lumayan jauh dari mereka.
Darren dan Mei menoleh ke arah suara dan mereka melihat seorang wanita yang berpakaian seksi, dia cantik dan juga masih muda.
__ADS_1
"Joanna," gumam Darren.
"Joanna ... siapa Joanna?" ucap Mei didalam hatinya.
"Darren, aku kangen sama kamu," ucap Joanna sembari memeluk Darren.
Darren terdiam dan tak merespon pelukan Joanna, dia hanya berdiri mematung dengan tangan yang tetap pada posisinya.
Mei melihat kejadian itu hanya diam dan tak melakukan apapun.
Baru Darren memintanya untuk menjadi Mamanya Gaby, sekarang sudah ada wanita yang datang dan langsung memeluk Darren.
"Dasar duda nyebelin, tadi minta gue jadi istrinya sekarang malah dipukul-peluk sama cewek cantik," ucap Mei didalam hatinya.
"Joanna," gumam Isabella.
Isabella menatap Joanna yang sedang memeluk Darren, dia pun langsung beranjak dari duduknya dan mulai melangkah.
"Tante Bell mau kemana?" tanya Gaby.
"Kamu diam di sini dan jangan kemana-mana. Tante harus menemui Papa kamu dulu." Isabella langsung berjalan menghampiri Darren yang masih dipeluk oleh mantan istrinya.
"Menyingkir lah dari kakak gue." Isabella menarik tangan Joanna agar tak memeluk Darren lagi.
"Kamu apa-apaan Isabella," ucap Joanna.
Darren masih terdiam, sekian lama tak bertemu dengan Joanna, kini dirinya bisa melihatnya lagi.
Rindu yang sudah lama terpendam pun sedikit terobati.
"Ngapain lo datang lagi ke kehidupan kakak gue. Lo udah gak pantas lagi ada di samping kakak gue."
"Isabella kamu gak tahu apa-apa jadi kamu jangan ikut campur urusan aku sama Darren."
"Gak, gue gak akan ngebiarin lo masuk ke dalam keluarga kami lagi."
"Udah-udah! Joanna, Isabella tolong jangan ribut di sini," ucap Darren.
"Darren maafkan aku, aku masih cinta sama kamu, aku mau kita balikan lagi, aku mau jadi istri kamu lagi," ucap Joanna.
"Permisi. Kayaknya aye gak pantas di sini karena aye bukan bagian dari keluarga kalian jadi lebih baik aye pergi," ucap Mei.
"Mei, jangan pergi dulu. Mei tunggu dulu, dia bukan siapa-siapa kak Darren," ucap Isabella.
Mei tak menghiraukan Isabella yang terus memintanya agar tak pergi dari tempat itu, Mei cukup tahu diri, dirinya tidak berhak mengetahui urusan pribadi mereka apalagi Joanna yang mengatakan bahwa dia ingin kembali lagi pada Darren.
Mei tak ingin mengganggu pertemuan mereka karena mungkin saja mereka sepakat untuk kembali bersama.
Bersambung
__ADS_1