Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 14


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!" seru seseorang dari luar rumah Rojak.


"Waalaikumsalam!" sahut Saroh dari dalam rumah.


Wanita paruh baya itu berjalan cepat menuju pintu utama rumahnya!


Dibukanya pintu itu dan langsung nampak tiga orang yang berpakaian rapi, satu pemuda yang berdiri di antara seorang laki-laki dan perempuan itu terlihat sangat tampan dan juga berkharisma.


Mereka tersenyum ke arah Saroh yang saat itu tengah menatap mereka.


"Bang Romli, Mpok Warmi," ucap Saroh.


"Iya Mpok Saroh, apa kabar?" ucap Warmi.


"Baik, alhamdulillah baik semua. Mari masuk dulu dah, kita ngobrol di dalam aja."


Mereka semua masuk rumah sederhana itu dan langsung duduk di ruang tamu rumah itu.


"Siapa yang datang?" tanya Rojak sembari berjalan menuju ruang tamu.


"Eeh Romli." Rojak tertawa sumringah sembari memeluk Romli.


"Jak, apa kabar lu?" tanya Romli pada teman lamanya itu.


"Biasa, gue mah gini-gini aja. Gimana dengan lu?"


"Kami sekeluarga baik-baik saja. Kenalin nih anak gue namanya Mario."


"Anak lu cakep juga Rom."


"Siape dulu babehnya."


Dua sahabat yang sudah lama tak bertemu itu asyik berbincang sendiri hingga mereka tak menghiraukan Warmi dan Mario yang dari tadi hanya diam sembari menatap mereka.


Tak lama, Saroh datang dengan membawa minuman dan sedikit camilan untuk mereka.


"Mereka kalau udah bertemu emang gitu suka lupa kalau ada orang lain bersamanya," ucap Saroh sembari menata minuman dan camilan itu di atas meja.


"Iya Mpok, biarkan saja mereka mungkin mereka kangen," ucap Warmi.


"Minum dulu Mpok."


"Terimakasih."


"Sebentar ya, aye panggilin anak aye dulu."


Saroh pun langsung pergi untuk memanggil Mei di kamarnya!


"Eh ngomong-ngomong katanya mau datang malam, kok jam segini udah nyampe sini?" ucap Rojak.


"Emang gak boleh?" tanya Romli.


"Bukan gak boleh, anak gue si Maisya belum dandanan kalau jam segini."


Memang janjinya keluarga Mario akan datang setelah maghrib tapi ternyata baru pukul tujuh belas lewat lima belas menit mereka sudah tiba di rumah Rojak.

__ADS_1


"Anak gue udah gak sabar pengen ketemu sama anak lu."


"Apa, orang tadi Papa yang maksa aku biar cepat-cepat," ucap Mario.


Di kamar Mei.


"Mei noh temannya Babeh lu udah datang, lu cepat dandannya dan temui mereka."


"Katanya mau datang malam Nyak, aye belum siap-siap nih."


"Udah lu bisa kan pake bedak dan teman-temannya?"


"Bisa Nyak, biar aye preman gini tapi aye bisa dandan dikit doang mah. Bagus mereka tiba jam segini biar nanti malam aye bisa pergi."


"Iya makanya lu sekarang dandan yang cantik dan temui calon laki lu."


"Iya Nyak, kalau gak cocok nanti aye banting dia ya."


"Et dah, lu jadi cewek jangan kasar-kasar nanti yang ada gak ada yang mau ama lu. Nyak keluar duluan, lu jangan lama-lama ya."


"Iya Nyak, paling setengah jam."


Saroh tak menanggapi perkataan Mei lagi, dia tahu anaknya itu hanya bercanda. Saroh segera kembali menemani tamunya di ruang tamu rumahnya!


"Tunggu sebentar ya, Mei lagi ganti pakaian dulu."


Semua orang di ruangan itu kembali berbincang.


"Ini anak gue lulusan luar negri nih, sekarang dia lagi mengurus bisnis gue karena dia kan satu-satunya pewaris harta milik gue," jelas Romli.


"Syukur dah kalau lu punya anak laki pintar lagi."


Tak butuh waktu lama Mei pun tiba di ruangan itu.


Mei berjalan menghampiri mereka dengan senyuman manis yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Selamat sore Om, Tante," ucap Mei dengan senyuman di bibirnya.


Semua orang menatap Mei dengan tatapan kagum begitu juga dengan Mario yang menatap Mei dengan mata yang tak berkedip sekali pun.


"Nah ini anak gue, duduk sini Mei," ucap Rojak.


Mei berjalan mendekati Rojak lalu duduk di kursi yang ada di sampingnya.


Tatapan mata Mario mengikuti langkah Mei dengan raut wajah yang penuh kekaguman Mario tak dapat mengucapkan sesuatu apa pun.


Warmi mengikut Romli dan mengisyaratkan agar sang suami melihat tingkah anaknya yang seperti tidak pernah melihat wanita cantik saja.


Romli yang mengerti dengan maksud sang istri langsung melirik ke arah Mario dan terlihat dengan jelas anaknya itu sedang menatap anak gadis temannya itu.


Mei mencium tangan Romli dan Warmi secara bergantian tapi dia tak mengajak Mario bersalaman.


"Ni sepertinya ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama," ucap Romli.


Mario mengerjapkan matanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Semua orang tertawa renyah tapi tidak dengan Mario dan Mei. Mereka berdua hanya duduk dengan tanpa bersuara.


"Kenalan dong, katanya mau kenalan," ucap Rojak.


Mario tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.


"Hem! Boleh aku tahu namamu?" tanya Mario sembari mengulurkan tangannya pada Mei.


Mei tersenyum lalu menjabat tangan Mario.


"Maisya Melanie panggil aja Mei," ucapnya.


"Nama yang cantik. Cantik seperti orangnya, namaku Mario."


"Udah banyak yang bilang gitu. Kalau mau gombal dengan cara lain aja," ucap Mei sembari menarik tangannya.


"Gak ada gombal-gombalan dalam hidup aku. Semua yang ku ucapkan adalah yang ada dalam hati dan pikiranku."


Mei hanya tersenyum lalu kembali duduk di tempatnya.


*******


"Mama lagi ngapain ngacak-ngacak baju aku?" ucap Isabella.


"Mama mau pinjam baju kamu."


"Buat apa?"


"Buat Mei, perawakan kalian sama jadi kalau Mei datang dengan pakaian yang kurang cocok, Mama mau minta dia pakai baju kamu."


"Sampai segitunya. Mei kan cuma bodyguard harusnya dia pakai celana dan jas."


"Tapi kan Mei beda Bella, dia perempuan masa pakai jas."


"Ya terserah Mama saja." Bella terdiam sembari melihat Aryanti yang sedang memilih pakaiannya untuk Mei.


Setelah hampir setengah jam, Aryanti menemukan dua gaun pesta yang indah dan harganya juga mahal.


"Yang ini boleh ya Bell." Aryanti memperlihatkan gaun itu pada Isabella.


"Boleh-boleh saja Ma, berikan saja pada Mei."


"Kamu gak sayang dengan gaun ini?"


"Untuk Mei, aku tidak merasa sayang pada barangku."


*******


"Maaf ya ini udah maghrib, aye masuk dulu ya," ucap Mei pada mereka semua.


"Oh ya kalau gitu kalian para laki-laki ikut gue ke masjid ya. Kita solat di masjid," ucap Rojak.


"Mpok Warmi boleh shalat di kamar tamu," ucap Saroh.


Warmi mengangguk lalu tersenyum sedangkan para laki-laki segera bergegas ke masjid terdekat yang ada disekitaran rumahnya!

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2