Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 25


__ADS_3

"Aku sama Gaby mau makan siang, kamu mau gak menemani kami makan?" tanya Darren pada Mei.


Ah Mas duda ini memang pandai mencari kesempatan dalam kesempitan.


Saat Mei sudah masuk dalam perangkapnya, Darren pun langsung melanjutkan rencananya untuk mendekati Mei dengan membuat Gaby dekat dengan Mei setelah itu dengan alasan Gaby, dirinya dapat bertemu kapanpun dengan Mei.


"Tapi aye ada urusan," ucap Mei.


"Urusan apa Ma?" tanya Gaby sembari menatap Mei.


Mei menatap Gaby dengan mulut yang tertutup rapat, wajahnya mengerut setelah mendengar Gaby memanggilnya dengan sebutan Mama.


"Boleh kan aku manggil Tante Mei dengan sebutan Mama?" ucap gadis kecil itu lagi.


Mei nyengir kuda, deretan giginya yang rapi pun terlihat dengan jelas.


"Iya, boleh dong sayang," ucap Mei dengan nada canggung.


Dirinya masih gadis, jangankan anak, pacar atau suami pun tak punya tapi tiba-tiba ada seorang anak yang memanggilnya Mama, sungguh membuat dirinya merasa sensasi yang luar biasa.


Apa yang akan mereka katakan saat mendengar ada yang memanggilnya Mama.


Mungkin akan banyak sekali yang bertanya pada Mei hingga Mei kewalahan menjawab pertanyaan mereka.


Mei adalah seorang preman pasar tapi sifatnya yang baik, ramah dan suka menolong, membuat dirinya dekat dengan orang-orang pasar itu.


"Kalau gitu ayo kita makan siang bersama," ucap Mei.


"Gimana ya Gaby, siang ini tante gak bisa karena ada suatu hal yang harus tante kerjakan."


"Gaby sayang, gimana kalau makan bersama dengan Mama Mei nya nanti malam aja? Sekarang Mama Mei nya harus kerja dulu," ucap Darren.


"Tapi aku maunya sekarang."


Darren tersenyum dengan tangan yang terus menggenggam tangan Gaby.


"Gaby, ayo paksa calon Mamamu makan bareng kita. Nangis dong biar Mei gak tega sama kamu," ucap Darren didalam hatinya.


Dalam mulut Darren berucap seolah membujuk Gaby agar tak harus makan siang bersama Mei tapi hatinya menyuruh Gaby untuk memaksa Mei makan bersama mereka agar dirinya bisa berlama-lama dengan Mei.


"Malam aja ya sayang. Kamu gak akan marah kan? Mama kan baru hari ini jadi Mama kamu," ucap Mei.


"Iya deh, kita makan bersama nanti malam saja," ucap Mei.


Sedikit kecewa tapi dirinya juga merasa bahagia karena bisa dinner bersama Mei meski harus diganggu oleh sang putri.


"Ya udah ayo kita pulang, pamitan dulu sama Mamamu," ucap Darren pada Gaby.


Mei menatap Darren tajam seolah mengisyaratkan dirinya tak suka dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


Darren hanya tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya.


Melihat itu Mei merasa tak suka dan segera mengalihkan pandangannya pada Gaby.


"Mama, aku pulang dulu ya jangan lupa nanti malam."


"Iya sayang, hati-hati ya di jalan."


"Minta nomor telpon kamu," ucap Darren.


"Untuk apa?"


"Untuk telponan lah, masa untuk dikasih ke Pak Kardi."


"Gak usah telpon-telponan dah."


"Mei nanti kalau aku nyasar mau jemput kamu gimana?"


"Ya udah mana ponsel kamu!" Mei menadahkan tangannya dihadapan Darren.


"Tulis yang benar ya, jangan sampai aku salah menelpon nanti." Darren memberikan ponselnya pada Mei.


Setelah Mei menyimpan nomor ponselnya di kontak penyimpanan ponsel Darren, dia memberikan ponsel itu pada Darren.


"Terimakasih Mama sayang," ucap Darren dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.


"Oh iya, lupa." Darren menatap Mei dengan tatapan aneh.


"Kalau gitu aku sama Papa pergi dulu ya Ma, Assalamu'alaikum," ucap Gaby.


"Waalaikumsalam. Hati-hati." Mei tersenyum lalu membiarkan mereka pergi.


Darren dan Gaby pun langsung pergi meninggalkan Mei di sana!


*******


"Biasanya Gaby main di sini sama Neneknya kok gak ada ya," ucap Joanna sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman itu.


Biasanya memang Gaby bermain di taman yang letaknya tak jauh dari rumah Aryanti itu tapi hari ini Gaby tidak datang ke taman itu karena dia pergi bersama Darren untuk menemui Mei di pasar tempatnya bekerja.


Joanna sudah cukup lama duduk di kursi taman itu, dia juga sudah capek berkeliling taman itu untuk mencari Gaby namun sekian lama dirinya di sana, dirinya tak juga mendapatkan sosok Gaby.


"Mana sih anak itu? Giliran dibutuhin malah gak ada." Joanna kembali mengedarkan pandangannya berharap Gaby datang ke tempat itu.


*******


"Gaby, kamu suka sama Tante Mei?" tanya Darren sambil menyetir.


"Suka, Mama Mei orangnya baik."

__ADS_1


"Kamu gak takut kalau nanti kita tinggal satu rumah sama dia?"


"Takut kenapa? Mama Mei kan baik meski dia preman tapi hatinya baik."


"Tahu dari mana kamu hmm?"


"Kalau Mama Mei gak baik, waktu itu dia gak mungkin mengantarkan aku ke sekolah."


"Kapan?"


"Waktu aku diculik sama Tante galak itu."


"Oh iya Papa baru ingat."


"Iya, Mama Mei juga pernah menyelamatkan Nenek. Kapan Papa mau ajak Mama tinggal bersama kita?"


"Emm itu ... itu nanti sayang kalau udah waktunya."


"Waktunya kapan? Jangan lama-lama."


*******


"Kapan lu jadian sama Mas duda yang mulutnya pedes itu?" tanya Dion.


"Iya, keren juga lu dipanggil Mama," ucap Karen.


"Diam lu pada. Siapa yang jadian sama tuh duda nyebelin," ucap Mei dengan nada kesal.


"Kenapa lu?"


"Gue tuh kesal sama tuh cowok. Rasanya gue tuh masuk dalam perangkapnya."


"Perangkap gimana?" tanya Joni.


"Ya gue diminta jadi Mamanya tuh bocah."


"Wah bener-bener tuh duda, masa tiba-tiba minta lu jadi emaknya tuh bocah."


"Bukan Darren yang minta tapi bocah itu milih gue yang jadi Mamanya."


"Oh tuh duda pedes namanya Darren. Keren sih, cocok jadi laki lu Mei," ucap Karen.


"Itu namanya lu bukan kena perangkapnya si duda tapu lu kena jebakannya si bocil," ucap Dion.


Saat Mei, Karen dan Dion sedang sibuk berbincang membicarakan tentang yang terjadi pada Mei hari ini, Joni memilih tak banyak bicara. Rasa cemburunya membuat otaknya berjalan lambat dan sulit untuk memikirkan perkataan yang baik yang tak memperlihatkan rasa cemburunya.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2