Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 62


__ADS_3

Keesokan harinya, di kediaman Darren dan keluarga.


Hari ini adalah hari libur, semua keluarga tidak melakukan aktivitas sehari-hari. Mereka bersantai dengan cara bangun lebih siang dari biasanya. Seperti yang dilakukan oleh Bella dan Gaby, gadis beda usia itu selalu tidur satu kamar saat malam minggu dan akan bangun lebih telat dari biasanya.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi tapi dua gadis itu masih asyik tidur dan menjelajah di alam mimpi. Mei membuka pintu kamar Gaby untuk melihat putrinya sudah terbangun atau belum. Seperti biasa setiap pagi Mei pasti memeriksa anak suaminya itu dan akan menyiapkan semua kebutuhannya.


Mei memang masih gadis saat menikah dengan Darren tapi dia sudah mengerti cara mengurus anak dan keluarga karena dirinya terbiasa mengurus semua kebutuhan anak-anak asuhnya. Dia juga sering membantu ibunya memasak dan melakukan pekerjaan rumah karena itulah Mei sudah paham bagaimana cara menjadi istri yang baik untuk suami dan menjadi ibu yang baik untuk anaknya.


"Mereka masih tidur?" tanya Darren sembari memeluk Mei dari belakang.


"Seperti yang kamu lihat. Anak gadis itu tidur dengan gaya uniknya, masa pipi tantenya ditendang gitu," ucap Mei sembari menatap ke arah Gaby yang tidur dengan posisi kakinya menapak di pipi Bella.


"Dia memang gitu kalau tidur makanya aku gak ngebolehin kamu tidur sama dia," ucap Darren lalu mencium daun telinga Mei.


"Kenapa? Aye biasa tidur sama anak-anak asuh aye," ucap Mei.


"Takutnya kamu ditendang oleh Gaby dan akhirnya kamu marah terus kabur dari aku. Aku bisa gila kalau ditinggal sama istri yang paling hmm, ini," jelas Darren.


"Kerjaannya gombal mulu. Kita sarapan yuk! Biarin aja Gaby dan Bella tidur," ucap Mei lalu melerai tangan Darren yang masih melingkar di perutnya.


"Ya udah, ayo." Darren menggandeng tangan Mei lalu mereka berjalan berdampingan.


"Kita udah selesai sarapan, kalian baru turun," ucap Bu Sarah pada Darren dan Mei.


"Gak apa, Nek lagipula kita sarapan telat sedikit hari ini," ucap Darren.


"Sarapan sana! Kamu punya penyakit lambung, jangan telat makan," ucap Bu Aryanti pada Darren.


"Jadi kamu punya penyakit lambung? Eh, kamu gak boleh makan telat. Ayo makan nanti kamu sakit, aku yang repot," ucap Mei sembari menarik tangan Darren membawanya ke ruang makan.


*******


Di pasar.


Hari baru memasuki setengah sembilan pagi tapi tiga sahabat seprofesi Mei sudah bercucuran keringat karena terkena teriknya mata hari dan capeknya berkeliling pasar yang luas demi menjaga keamanan pasar tersebut. Karena Mei tidak ada mereka harus bekerja keras untuk memastikan tidak ada kejahatan di pasar yang lama mereka jaga dari pencurian, pencopetan dan berbagai kejahatan lainnya.

__ADS_1


"Gak ada Mei, gue keliling sendirian deh," ucap Joni pada Karena.


"Gak ada Mei, gak ada yang dengerin gue curhat," ucap Karen.


"Gak ada Mei, gak ada yang ngasih kita gorengan gratis," ucap Dion.


Seketika Joni dan Karen menatap Dion dengan tatapan heran. Mengapa Dion nyambung ke gorengan saat mereka merasakan kehilangan Mei.


"Kenapa nyambung ke gorengan?" tanya Karen.


"Kalau ada Mei, biasanya banyak yang ngirim gorengan, martabak, nasi padang dan banyak lagi," jelas Dion.


"Berarti, lu gak kehilangan dia? Lu cuma kangen sama makanan pemberian penggemar si Mei doang," ucap Joni mencoba menyimpulkan perkataan Dion.


"Gue juga kehilangan Mei tapi lu tahu sendiri kalau gue bilang gua kangen sama Mei, nanti ada yang cemburu," ucap Dion.


"Siapa yang cemburu, ah. Perasaan gue gak pernah cemburu," ucap Karen.


"Udah-udah, sekarang siapa yang keliling? Gue mau makan dulu," ucap Joni.


"Ya udahlah, gue makan dulu. Lu berdua udah pada makan belum?" tanya Joni.


"Belom lah. Kita nanti aja," ucap Dion.


Seperti itulah kehidupan mereka yang kerja bebas tanpa harus terpaku oleh waktu. Mereka sarapan semaunya dan melakukan semua hal semaunya asalkan pasar itu aman dan pastinya ada salah satu dari mereka yang aktif seharian. Sedari dulu mereka memang tak pernah menganggap pekerjaannya sebagai beban. Makan seadanya dan dapat uang pun tak seberapa tapi mereka enjoy menjalankannya, selama mereka masih bisa membantu orang banyak, mereka tak pernah mengeluh tentang pendapatan.


Mereka hanya dibayar semampunya oleh para pedagang di pasar tersebut. Untuk biaya keamanan, ketertiban dan kebersihan pasar mereka hanya mendapat dua ribu perak dari satu pedagang itu pun kadang tidak semuanya membayar.


Saat mereka sedang asyik berbincang dan Joni sedang lahap-lahapnya makan. Mei dan Darren datang ke pasar itu. Pasangan pengantin baru itu berjalan bergandengan dengan senyuman yang terus terpancar dari bibir mereka.


"Hai semuanya!" seru Mei pada teman-temannya.


"Baru diomongin, udah nongol aja, lu," ucap Dion.


"Ngomongin apa?" tanya Mei sambil terus berjalan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Nih, si Joni kangen sama, lu," ucap Karen.


"Lu kangen ama aye, Jon?" tanya Mei.


"Gue kangen banget sama lu, Mei," sahut Joni sembari menggigit ayam goreng yang digenggamnya.


"Mei punya saya. Kamu kangen sama Mei sebagai apa?" tanya Darren yang merasa cemburu mendengar Joni kangen pada istrinya.


"Kangen segalanya tapi bukan kangen yang berlebihan. Gak usah cemburu kali, gue ini temenan ama Mei udah dari orok," jelas Joni.


Darren tersenyum lalu melingkarkan tangan kanannya di pinggang Mei. "Saya hanya bersiaga saja. Takutnya ada yang mencurinya dari saya," ucap Darren.


"Ealah, dulu aja bencinya gak ketulungan. Sekarang bucinnya gak ada lawan," celetuk Dion.


"Hahaha! Karma itu," ucap Joni sembari tertawa kecil.


"Ish, udah ah lu pada. Aye ada kabar baik nih," ucap Mei.


"Kabar baik apa?" tanya tiga temannya Mei itu.


"Kabar baiknya adalah ...." Mei menggantung ucapannya.


"Kabar baik apa? Lu hamil?" tanya Karen yang sudah tak sabar ingin mendengar kabar baik dari Mei.


"Hamil. Mana ada hamil orang nikahnya aja baru," ucap Mei.


"Aye akan tetap kerja di mari tapi dalam waktu yang lebih singkat. Aye akan ke mari setelah aye selesai ngurus anak, suami dan rumah dan aye akan pulang lebih dulu dari kalian," jelas Mei.


"Hah! Yang bener, lu?" tanya Karen sumringah.


"Benerlah, masa aye bohong."


Sontak tiga teman Mei itu langsung bahagia dan langsung memeluk Mei secara bersamaan bahkan Joni tak memedulikan tangannya yang masih kotor karena dirinya sedang sarapan. Mereka berpelukan tanpa menghiraukan Darren yang berdiri di dekat mereka. Darren hanya yang merasa tersisihkan hanya bisa diam dengan perasaan kesal karena tak dianggap keberadaannya oleh istri dan teman-temannya.


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2