
Setelah selesai makan siang di rumah orang tuanya. Mei langsung mengantarkan Alif dan Amel kembali pulang ke tempat tinggal mereka. Mei mengemudi dengan tenang dalam kecepatan sedang, dia selalu mengutamakan keselamatan dalam berkendara.
Setelah setengah perjalanan, Mei melihat ada seseorang yang sedang dikeroyok oleh tiga orang sekaligus. Dia langsung menepikan mobilnya lalu menghampiri mereka dengan langkah cepat. Sebelum ke luar dari mobilnya, tak lupa dia meminta Alif dan Amel untuk tetap diam di dalam mobilnya.
"Woy! Berhenti, lu semua!" seru Mei sembari menunjuk ke arah mereka.
"Siapa lo? Jangan ikut campur urusan kita," ucap laki-laki itu pada Mei.
"Aye kagak mau ikut campur urusan lu-lu pada tapi yang lu semua lakukan ini gak benar. Kalau ada masalah sebaiknya bicarakan dengan baik-baik," jelas Mei.
"Pergi. Pergi dari sini! Mereka orang-orang jahat," ucap laki-laki yang sudah terkapar lemah di atas aspal itu.
"Dia buruan kami. Mau apa lo?" ucap salah satu dari tiga laki-laki itu.
"Dia buruan, lu tapi lu semua membuat onar di wilayah aye. Pergi dari sini dan jangan pernah kalian membuat keributan di mari!" ucap Mei dengan meninggikan suaranya.
"Sok jagoan, lo jadi perempuan." Salah satu laki-laki bertubuh besar itu langsung menyerang Mei dengan cara meninju bagian atas dengan maksud untuk menghantam wajah Mei.
Bukan Maisya Melanie namanya kalau dia mengalah pada para penjahat. Mei melawan laki-laki itu dengan santai dan tidak terlihat sedikit pun kepanikan di dalam dirinya. Perkelahian satu lawan satu pun terjadi hingga akhirnya Mei berhasil mengalahkan laki-laki itu yang akhirnya dua rekan laki-laki itu langsung menyerang Mei secara berbarengan.
Kini dua lawan satu tapi preman cantik itu tidak menunjukkan kekalahan sedikit pun. Dengan lincah, dia terus menghindari serangan mereka dan akan menyerang balik saat sudah mempunyai kesempatan.
Setelah hampir sepuluh menit, dua preman sudah bisa dikalahkan oleh Mei sementara satu orang lagi memilih kabur untuk menyelamatkan diri. Mei segera membantu laki-laki yang mereka keroyok itu dengan membantunya berdiri dan membawanya ke pinggir jalan.
"Ya ampun, Bang. Abang kenapa bisa dikeroyok orang-orang itu? Kagak mungkin mereka penagih hutang 'kan," ucap Mei sembari mendudukkan laki-laki itu di bahu jalan.
"Ah, aww." Laki-laki itu meringis kesakitan karena dipukuli oleh tiga preman itu.
"Saya gak tahu siapa mereka. Saya tidak mengenal mereka yang jelas mereka bukan penagih hutang karena saya tidak mempunyai hutang pada siapa pun," jelas laki-laki itu sembari menahan sakitnya.
Alif dan Amel turun dari mobil lalu berlarian menghampiri Mei sembari membawa dua botol air mineral. Mereka sengaja membawa air mineral itu untuk laki-laki tak dikenal itu dan juga Mei.
__ADS_1
Di tempat yang lumayan jauh dari sana. Hengky menepikan mobilnya dan terus memperhatikan Mei. Sebelumnya dia merasa khawatir Mei akan dilukai oleh mereka tapi ternyata Mei yang mengalahkan mereka.
"Gila, jago juga si Mei," ucap Hengky berbicara sendiri.
Hengky memang tidak tahu bahwa Mei jago bela diri bahkan dia punya julukan sebagai preman cantik penguasa wilayah sana dan sekitarnya. Mereka memang sempat berpacaran tapi selama satu tahun bersama Mei tidak pernah memperlihatkan kemampuannya. Hingga saat dirinya pergi pun, dirinya tidak tahu tentang kemampuan kekasihnya itu.
Hari ini Hengky memang meluangkan waktunya untuk mengikuti Mei karena dia ingin tahu siapa saja yang memiliki hubungan dekat dengan Mei terutama laki-laki yang kini merebut Mei darinya. Sementara itu, jauh di depannya. Mei masih saja sibuk dengan korban pengeroyokan itu.
"Kak, kita bawa ke rumah sakit saja Om ini," ucap Amel.
"Amel benar. Abang harus ke rumah sakit," ucap Mei.
"Tidak usah. Terima kasih," ucap laki-laki itu.
"Aye kagak bisa pergi meninggalkan Abang dengan kondisi seperti ini," ucap Mei lagi.
"Panggil saya Satya. Nama saya Satya," ucap laki-laki itu karena tidak nyaman dipanggil dengan sebutan abang.
Tak lama saat mereka mengobrol, dua mobil melaju menuju ke arah mereka. Dua mobil itu pun berhenti tepat di depan Mei dan Satya. Sekitar delapan orang laki-laki bertubuh besar dan kekar keluar dari mobil itu.
"Pak, di mana orang-orang itu?" tanya salah satu laki-laki yang baru turun dari mobil.
Satya memang sudah menelpon orang-orang itu saat dirinya menyadari bahwa dirinya sedang diikuti oleh orang-orang yang tak dia kenal. Satya adalah salah satu pengusaha muda yang berhasil go internasional, namanya begitu dikenal oleh semua kalangan. Hanya segelintir orang saja yang tak tahu pada Satya dan salah satunya adalah Mei.
Satya sering menjadi incaran para pesaingnya. Mereka tidak lagi menggunakan cara bersih untuk bersaing melainkan mereka menggunakan cara kotor dan ada beberapa yang menginginkan Satya tiada.
"Mereka sudah kabur. Kalian datang terlambat, untung ada gadis ini yang menolong saya," jelas Satya.
Mei hanya diam. Dia memilih tak ikut campur dengan urusan mereka padahal sebenarnya ingin sekali dirinya mengatakan bahwa dirinya sudah menikah dan kini bukan gadis lagi.
"Ya udah ya. Kalau gitu, aye pergi duluan," ucap Mei.
__ADS_1
"Terima kasih ya. Tunggu sebentar." Satya mengambil dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan memberikannya pada Mei.
"Ini sebagai tanda terima kasih saya," sambung Satya sembari menyodorkan uang itu pada Mei.
Mei tersenyum lalu mendorong tangan Satya yang hendak membernya uang. "Kagak usah. Aye ikhlas," ucap Mei lalu bangkit dari duduknya.
"Ayo anak-anak!" Mei segera melangkahkan kakinya sembari menggandeng Alif dan Amel.
Satya dan orang-orang itu menatap kepergian Mei. Ada rasa penasaran dalam hati Satya terhadap Mei tapi kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk berbincang lebih lama lagi dengan Mei. Sementara itu, Mei langsung meninggalkan tempat itu karena dirinya harus segera pulang.
Hengky pun langsung mengikuti Mei lagi. Dia harus tahu dimana Mei tinggal dan siapa suaminya Mei.
*******
Di tempat lain.
Mario sedang bersama Bella. Pasangan kekasih yang baru jadian beberapa hari itu sedang makan bersama di salah satu restoran milik Mario.
"Kamu sudah telat kembali ke kantormu," ucap Mario.
"Tidak apa-apa. Aku sudah izin pada kak Darren," jelas Bella.
"Setahu aku, kamu baru belakangan ini bekerja di perusahaan itu tapi sekarang sudah terlambat masuk kantor," ucap Mario.
"Aku tahu tapi perusahaan ini milik papaku. Aku bisa keluar masuk kantor tanpa harus teguh pada waktu," jelas Bella lagi.
"Perusahaan akan maju kalau yang mengelolanya rajin dan disiplin. Bagaimana jadinya perusahaan orang tua kamu nanti setelah mereka tiada kalau kamu sebagai generasinya tidak cukup disiplin dan bertanggungjawab dengan pekerjaan kamu," jelas Mario.
"Ada kak Darren. Dia selalu bisa diandalkan," ucap Bella lagi.
Bersambung
__ADS_1