
Siang hari. Polisi sudah mulai melakukan pencarian terhadap Mei tapi Darren dan yang lainnya tetap berusaha mencari Mei sampai ketemu. Mereka tak ingin bergantung pada polisi saja selama mereka masih bisa melakukan yang bisa mereka lakukan untuk mencari Mei.
Di sebuah tempat, di pinggiran kota. Darren berjalan menyusuri jalanan yang becek dan berlumpur. Dia tidak mempermasalahkan sepatu mahalnya terkena kotoran itu bahkan dia juga membiarkan ujung celananya kebasahan terkena air yang menggenang di jalan itu. Dia terus berjalan tanpa arah tujuan sambil sesekali dia menanyakan Mei pada orang-orang yang lewat di sana.
Teriknya matahari sudah membakar kulit mulusnya yang tak pernah sekali pun terpapar sinar matahari di tengah hari. Darren masih semangat untuk mencari istrinya bahkan dari kemarin dia belum makan karena tak sempat untuk mengisi perutnya. Pikirannya yang selalu tertuju pada Mei membuatnya tak merasakan lapar sedikit pun.
"Mei, kamu di mana?" batin Darren.
Darren mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Jauh dari tempatnya berada dia melihat seorang perempuan berambut panjang dengan memakai kaus berwarna hitam dan jeans panjang berwarna biru. Dari belakang, perempuan itu terlihat sangat mirip dengan Mei, dia pun berlari menghampiri perempuan yang sedang berdiri di tepi sungai yang mengalir tenang itu.
Setibanya di belakang perempuan itu. Darren menyentuh pundak perempuan itu sembari mengucapkan nama istrinya. Perempuan itu berbalik badan menjadi menghadap Darren, dia menatap Darren penuh tanya, mengapa Darren memanggilnya dengan nama 'Mei'?
"Maaf, Mbak. Saya salah orang. Saya pikir, Mbak istri saya," ucap Darren.
"Iya, gak apa-apa, Mas," sahut perempuan itu.
"Maaf, Mbak. Apa, Mbak pernah melihat perempuan ini di sekitar sini?" tanya Darren sembari memperlihatkan foto Mei.
Perempuan itu terkejut sesaat setelah melihat foto yang ditunjukkan oleh Darren. "Siapa, nih orang? Kenapa dia mencari perempuan itu?" batin Riska.
Ya, Riska lah yang Darren kira adalah Mei dan dialah yang ditanyai oleh Darren perihal Mei.
"A_eum ... nggak, Mas. Saya gak melihat perempuan ini du sekitar sini," sahut Riska dengan gelagapan.
"Oh, terima kasih ya, Mbak," ucap Darren dengan penuh kecewa.
"Maaf, Mas. Kalau boleh tahu, memangnya kenapa, Mas mencari dia? Perempuan itu orang hilang atau menang, Mas ada masalah dengannya?" tanya Riska yang ingin tahu siapa Darren sebenarnya.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Bukannya saya ingin ikut campur tapi kalau dia orang hilang, siapa tahu, saya bisa membantu untuk mencarinya," ucap Riska lagi karena Darren tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Dia istri saya. Dia, menghilang sejak kemarin," sahut Darren.
"Oh. Yang sabar ya, Mas. Saya akan bantu cari dan saya akan menginformasikan pada, Mas kalau nanti saya melihat perempuan dalam foto itu," ucap Riska basa-basi padahal dalam hatinya ada ketakutan. Takut mereka akan ketahuan bahwa merekalah yang menculik Mei.
"Baik, terima kasih, Mbak. Ini kartu nama saya." Darren memberikan kartu namanya pada Riska.
"Hubungi saya jika ada yang melihat istri saya. Seratus juta untuk siapa pun yang membawa istri saya ke hadapan saya dan dua puluh juta untuk siapa pun yang menginformasikan tentang keberadaan istri saya," jelas Darren.
"Saya permisi," sambung Darren lagi sembari pergi meninggalkan tempat itu.
Riska menatap kartu nama itu, dia terkejut karena ternyata Darryl bukan orang biasa. Pemilik perusahaan properti terbesar di negerinya, tentunya Riska tahu karena sering melihat dan mendengar nama Darren di televisi atau berita radio. Dia menatap kepergian Darren dengan begitu lama, dirinya baru tahu kalau rupa wajahnya setampan itu.
"Gila, tuh Bang Hengky. Berani sekali dia bermain-main dengan orang macam dia," gumam Riska sembari memasukkan kartu nama itu ke dalam saku celananya. Dia pun pergi untuk menginformasikan masalah serius ini pada ketua gengnya.
*******
Polisi sedang melakukan pencarian terhadap Mei. Mereka memulai pencarian dari jalanan yang biasa dilewati oleh Mei, mereka juga memeriksa setiap CCTV yang terpasang di setiap titik jalan itu.
Sementara itu, di tempat lain. Anak buah Satya sudah menyebar ke setiap sudut kota. Mereka menanyakan Mei pada orang-orang di sekitar sana sambil memperlihatkan foto Mei. Beberapa di antara mereka juga ada yang mengecek rekaman CCTV yang terpasang di setiap jalan. Dengan kekuasaan Satya, mereka mendapatkan akses mudah untuk memasuki setiap pasilitas pemerintah yang tidak bisa dimasuki dan diketahui orang sembarangan.
Mereka diperintahkan untuk menemukan Mei secepatnya, karena itulah mereka harus bertindak cepat dengan kecerdasan otak dan ketangkasan gerakan mereka. Sebisa mungkin mereka harus menemukan Mei hari ini juga.
*******
Di luar kota.
__ADS_1
Di rumah mewah milik Hengky.
Seorang penghulu dan beberapa orang dateng ke rumah Hengky. Mereka datang atas permintaan Hengky. Mereka berjalan memasuki rumah mewah itu, tak ada satu pun tamu yang mereka lihat padahal menurut pengakuan Hengky, hari ini ada pernikahan di rumah itu.
"Anda sudah tiba," ucap Hengky pada Pak penghulu.
"Maaf, Pak. Katanya hari ini Anda mau menikah, tapi saya tidak melihat siapa pun di sini selain, Anda dan mereka," ucap Pak penghulu sembari melirik dua asisten rumah tangga di sana.
"Saya memang tidak mengadakan pesta saya hanya ingin melakukan ijab qobul saja. Pengantin wanitanya ada di kamar, silakan, bapak-bapak semuanya." Hengky mengarahkan mereka memasuki kamar tempat dirinya menyekap Mei.
Setibanya di dalam kamar itu. Pak penghulu dan tiga orang yang bersamanya terkejut karena melihat pengantin perempuannya yang diborgol dan kakinya terikat dengan rantai. Meski perempuan itu memakai kebaya lengkap dengan riasan wajah, tetapi mereka bisa melihat bahwa wanita itu terpaksa melakukan pernikahan ini.
"Gila, kamu Hengky! Pak, jangan nikahkan kami. Saya tidak mencintai laki-laki itu dan saya juga sudah mempunyai suami," jelas Mei yang saat itu sedang duduk di atas tempat tidur.
"Pak, calon istri saya ini menderita gangguan jiwa. Dia ditinggal suaminya menghadap ilahi dua bulan lalu, jadi pikirannya masih sedikit terganggu. Tolong nikahkan saja kami agar saya dapat merawatnya tanpa adanya fitnah," jelas Hengky, berbohong. Demi dapat menikahi Mei, Hengky rela membohongi banyak orang dan melukai perasaan Mei.
"Bohong! Dia bohong, Pak!" teriak Mei.
Pak penghulu dan orang-orang itu menatap Mei, mereka bingung harus memercayai siapa karena mereka tidak mengenal keduanya. Baik Hengky maupun Mei, mereka berdua sama-sama pendatang hingga mereka yang tinggal di daerah sana pun tidak terlalu mengenal Hengky dengan baik.
Akhirnya setelah mendengar penjelasan Hengky, pak penghulu itu pun menikahkan mereka dengan menggunakan wali hakim karena Hengky mengatakan bahwa Mei hidup sebatang kara. Tak butuh waktu lama, akhirnya proses ijab qobul pun selesai. Pak penghulu dan beberapa orang itu langsung pergi meninggalkan rumah mewah itu, kini hanya menyisakan Hengky, Mei dan dua orang asisten rumah tangga di rumah itu.
Hengky menatap Mei dengan senyuman penuh kemenangan. Setelah pak penghulu dan orang-orang itu benar-benar pergi, Hengky mulai mendekati Mei lalu menyentuh setiap bagian sensitif Mei dari yang atas hingga bagian bawah.
"Aaaa! Jangan lakukan itu. Hengky! Sadar, aye udah punya suami!" seru Mei saat Hengky menggerakkan tangannya ke bagian bawahnya.
Bersambung
__ADS_1