Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 72


__ADS_3

Siang hari sekitar pukul sebelas. Darren sengaja datang ke pasar untuk menemui istri tercintanya. Dia begitu khawatir mengingat istrinya itu masih memiliki luka yang belum sembuh bahkan masih mengeluarkan darah saat luka itu tergores sedikit saja.


Dari parkiran depan pasar itu, Darren berjalan menuju tempat biasa Mei berkumpul dengan teman-temannya, tapi belum tiba di sana. Dia sudah bertemu dengan belahan jiwanya itu.


"Hei, Sayang." Darren menghampiri Mei yang sedang berjalan santai diarea pasar itu.


Mei menghentikan langkahnya karena mendengar suara Darren. Dia menoleh ke belakang dan langsung melihat sosok suami bucinnya di sana. Sebuah senyuman terukir di bibirnya, dia melangkah mendekati sang suami.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Mei.


"Aku mau melihat kamu, ingin memastikan kamu baik-baik saja dan ingin memastikan kamu tidak berantem di sini," jelas Darren.


"Ih, aye gak berantem, kok. Lagian gak mungkin berantem tanpa ada sebab," ucap Mei.


"Aku kangen. Peluk, dong." Darren merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan Mei.


Mei mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dia melihat ada banyak sekali orang di sekitar mereka. Dirinya merasa malu jika harus berpelukan di sana. Dia tersenyum ke arah Darren lalu menolaknya dengan halus.


"Kalau aye peluk kamu di mari, nanti aye tidak terlihat galak lagi. Nanti yang ada orang-orang pada gak takut sama aye," ucap Mei.


Darren menurunkan tangannya lalu mendekati Mei. "Kamu malu?" tanyanya.


"Nah, itu tahu. Ngapain harus peluk segala," ucap Mei.


"Aku sudah bilang, aku kangen. Makan yuk! Sekalian ajak tuh teman-teman kamu, anak-anak kamu dan juga Nyak, Babeh," ucap Darren.


"Lah kalau semua diajak pergi. Siapa yang mau menjaga ini pasar?" tanya Mei.


"Kita makan di sini aja. Sekarang Bella sedang menjemput Gaby dan Mario lagi nyiapin makanannya," jelas Darren.


"Makan di mari. Yakin? Kamu gak jijik, di sini kotor. Kalian gak pernah makan di tempat gini," ucap Mei yang merasa tidak yakin.


Darren memang orang kaya yang tidak pernah makan di pinggir jalan apalagi di emperan pasar. Mei berpikir Darren dan keluarganya tidak akan bisa hidup seperti mereka yang biasa susah dan makan seadanya dan di mana pun tempatnya.

__ADS_1


"Kalau aku mau sama kamu, aku juga harus mau dengan keluarga kamu. Apa salahnya aku mencoba makan di pasar yang penting makanannya higienis. Buktinya aku pernah makan nasi uduk di sini dan minum kopi di sini sama kamu," ucap Darren.


"Bukan gitu. Masalahnya ada Bella dan Gaby, mereka gak mungkin mau."


"Udah, tenang aja. Ayo kita jemput Babeh sama Nyak dan anak-anak juga tentunya," ucap Darren.


"Telpon aja Babeh. Suruh mereka ke mari, anak-anak juga sekarang udah tinggal sama Babeh di rumah," jelas Mei sambil terus berjalan menuju tempat tongkrongannya.


"Iya, 'kah? Lalu bagaimana dengan rumah kita. Apa setelah mereka tinggal sama Nyak dan Babeh, mereka mau pindah lagi ke rumah kita? Aku maunya minggu depan kita pindah," ucap Darren lagi.


"Nanti kita bicarakan ini dengan mereka ya. Kamu duduk dulu, aye mau menelpon Nyak dulu," ucap Mei setelah mereka tiba di tempat tongkrongannya.


Karen, Dion dan Joni tersenyum ramah pada Darren. Joni mengelap kursi untuk Darren duduk lalu mempersilahkan Darren untuk duduk di sana.


"Silakan duduk!" pinta Joni.


"Oh, terima kasih. Padahal gak harus di lap segala," ucap Darren sembari menghempaskan bokongnya ke kursi itu.


"Gak ape-ape, Bang. Mumpung Joni lagi baik hati," ucap Karen.


Darren menatap Dion. Dia keheranan dengan pertanyaan Dion yang tidak bisa itu. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Saya sudah menikahi dia, gak mungkin saya tidak mencintainya," ucap Darren.


"Bukan gitu. Lihat saja gaya hidup kalian jauh berbeda. Lu banyak duit dan berpenampilan modis sedangkan Mei ... gadis biasa yang hidupnya juga gak berkelas," ucap Dion.


"Tidak ada perbedaan yang menghalangi cinta. Kami berdua saling mencintai, awas jangan coba merebut dia dari saya," ucap Darren.


Tak lama Mario datang dengan beberapa karyawannya yang menenteng sebuah tas besar berisi makanan ala restorannya. Mereka berjalan menghampiri Darren yang saat itu sedang duduk bersama teman-temannya Mei.


"Hai, Kakak ipar. Nih, makanan udah tiba," ucap Mario.


"Kalian langsung kembali aja," ucap Mario pada karyawannya yang dibalas anggukan oleh mereka dan setelah itu, mereka pun langsung pergi dari sana.


"Eh, ada acara apa nih? Kok bawa-bawa makanan segala," ucap Dion yang memang sudah kenal dengan Mario.

__ADS_1


"Acara pribadi keluarga besar kita," sahut Mario dengan senyum lebar di bibirnya.


"Wah, ini makanan dari restoran kamu?" tanya Mei pada Mario.


"Iya, Mei eh ... maksudnya kakak ipar." Mario nyengir ke arah Mei.


"Awas ya. Istri gue tuh," ucap Darren.


"Tahu. Lagian aku juga punya Bella, ambil aja tuh Mei," ucap Mario pada Darren.


Tak lama keluarga Mei tiba di pasar itu. Babeh Rojak dan Nyak Saroh langsung berjalan menghampiri mereka. Tak lupa anak-anak itu juga ikut bersama mereka berdua. Niki dan Bayu langsung mencium punggung tangan Mei, Darren dan semua orang yang berkumpul di sana sedangkan Amel dan Alif mendahulukan memeluk dan mencium Mei, setelah itu baru mereka mencium tangan semua orang secara bergantian.


"Gimana kabar kalian hmm? Betah tinggal sama Nyak? Babeh gak nyuruh, lu pada nyuciin angkot-angkot itu 'kan?" tanya Mei pada anak-anak itu.


"Yaelah, Mei. Lu suudzon aja sama orang tua. Kagak mungkinlah, Babeh nyuruh mereka mencuci mobil," ucap Babeh Rojak.


"Canda, Beh," ucap Mei.


"Mama!" seru Gaby. Gadis kecil itu langsung mencium punggung tangan Mei lalu Darren dan setelah itu mencium punggung tangan semua orang yang berkumpul di sana. Dia juga memeluk Amel dan Alif.


"Kakek dan Nenek juga di sini. Wah, keluargaku kumpul semua, kenapa nenek dan eyang tidak diajak juga?" ucap Gaby.


"Siap bilang? Kami ada di sini juga," ucap Bu Aryanti yang ternyata juga hadir di sana.


"Ya Allah, Mama, Nenek. Kalau mau ada kalian juga kenapa gak makan di restoran aja," ucap Mei yang tak menyangka keluarga suaminya juga hadir di sana.


"Emang kenapa, Mei? Makan di sini atau di restoran 'kan sama aja," ucap Bu Sarah.


"Bukan gitu, Nek. Gimana ya ... di sini tempatnya kotor dan berbau, takutnya merusak selera makan," ucap Mei.


"Bisa saja, Mei. Papa suka makan di sembarang tempat," ucap Pak Wiliam.


"Ya udah, kita langsung aja makan. Nih satu orang satu kotak makanan ya," ucap Darren sembari membagikan makanan itu. Terlihat mereka begitu menikmati kebersamaan, di sana tidak ada perbedaan antara yang susah dan yang kaya, tidak ada perbedaan antara yang memiliki orang tua dan yang tidak hidup bersama orang tua kandungnya. Bagi mereka, semua sama, sama-sama berhak bahagia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2