
Siang itu, Darren sengaja datang ke pasar tempat biasa Mei nongkrong dan bekerja dia datang bersama dengan Gaby.
Sengaja dirinya mengajak Gaby karena dia tahu Mei akan menolaknya jika dirinya datang sendirian.
"Selamat siang Tante Mei," ucap Gaby.
Gadis kecil itu berdiri dengan tangan yang dipegangi oleh sang Ayah, senyum manis mengembang dari bibir gadis kecil itu dengan rambut panjang yang dikuncir dua dan dengan poni sebatas alisnya membuat gadis berusia enam tahun itu terlihat cantik dan lucu.
Mei menoleh menatap ke arah suara! "Gaby, hai," ucapnya.
"Maaf aku datang untuk mengganggumu. Gaby ingin bertemu dengan kamu," ucap Darren.
"Kok Papa bohong, kan tadi Papa yang ngajak aku ketemu sama tante Mei," ucap Gaby dengan polosnya.
Gadis kecil itu memang tidak bisa diajak bekerjasama, dia tidak memahami apa yang sebenarnya Papanya sedang rencanakan.
Gaby memang masih sangat kecil untuk mengetahui urusan orang dewasa karena itulah Darren tidak menjelaskan apa yang dia pikirkan pada anaknya itu.
Darren hanya tahu, Mei sangat menyayangi anak kecil karena itulah dirinya menggunakan Gaby agar Mei bersedia bertemu dengannya.
"Haha ketahuan bohong nya," ucap Mei dengan tawa kecil.
Darren menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu tersenyum kecil.
"Sebenarnya aku mau minta maaf atas sikapku selama ini," ucap Darren.
"Kenapa minta maaf? Gaby yang nyuruh?"
"Nggak, aku gak nyuruh Papa minta maaf sama tante. Papakan gak punya salah apa-apa sama Tante," ucap Gaby.
Mei berjongkok dihadapan Gaby lalu meraih pipi gadis itu.
"Kamu benar, Papa kamu gak punya salah tapi asal kamu tahu saja Papamu ini sukanya ngeselin."
"Wah Tante benar, Papa emang suka ngeselin."
"Kenapa jadi pada ngomongin Papa sih, sayang?" ucap Darren sembari mengusap rambut Gaby.
__ADS_1
"Itu fakta. Anak kecil aja tahu masa masih gak terima."
"Tante, boleh aku menemani Tante bekerja? Apa yang harus aku kerjakan?"
"Gak ada, Tante kan pengangguran jadi tante gak punya pekerjaan."
"Mei kamu belum menjawab pertanyaan aku," ucap Darren.
"Pertanyaan yang mana?"
"Permintaan maaf ku padamu."
"Oh, ya udah aye maafin tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
"Syaratnya Papa harus jadiin tante Mei ini Mamaku," ucap Mei yang ngebet ingin dikasih Mama oleh sang Ayah.
Darren dan Mei melongo menatap gadis kecil itu. Gadis itu membuat dua orang dewasa yang bersamanya itu terkejut dan tak dapat berucap selama beberapa saat.
Mei menatap Darren dan mengisyaratkan sesuatu.
Seolah tahu apa yang Mei katakan, Darren menganggukkan kepalanya menyuruh Mei mengiyakan semua perkataan Gaby.
Mei tersenyum yang dipaksakan lalu meraih tangan Gaby dan menggenggamnya erat.
"Iya," ucap Mei singkat.
Tak ingin membuat Gaby sedih, Mei pun menuruti permintaan Darren yang memintanya mengiyakan perkataan Gaby.
"Hore berarti tante Mei ini Mamaku. Mulai sekarang Tante Mei adalah Mamaku!" seru Gaby dengan penuh kebahagiaan.
Tiga teman Mei yang sedang duduk tak jauh dari mereka pun mengalihkan perhatian mereka pada Gaby yang tengah bersorak hore.
"Mama? Apa Mei dan duda itu udah jadian?" ucap Karen.
"Mungkin saja, buktinya anaknya manggil Mei dengan sebutan Mama," ucap Joni yang sudah merelakan Mei untuk laki-laki lain.
__ADS_1
Bukannya Joni tak mencintai Mei lagi tapi dirinya lebih memilih untuk menyimpan rasa cintanya sendiri karena takut merusak persahabatan yang sudah lama mereka jalin.
Sebagai seorang sahabat, Joni ikut bahagia jika Mei bahagia meski ada rasa cemburu melihat Mei dengan laki-laki lain tapi dirinya berusaha untuk tak menampakkan rasa cemburunya itu.
"Gak mungkin, kapan mereka jadian? Kan semalam Mei jalan sama Mario kenapa jadiannya sama Mas duda itu," ucap Dion.
"Tapi anak kecil itu manggil Mei dengan sebutan Mama."
"Namanya juga anak kecil. Lu kayak gak tahu aja dengan anak yang gak punya Mama, waktu pertama Amel dan Alif ketemu sama Nyak Saroh juga mereka mengira Nyak Saroh emaknya kan."
"Iya juga ya. Dah lah ngapain mikirin mereka."
*******
"Mario kamu udah menyatakan cinta belum sama si Mei?" tanya Warmi.
"Belum Mam, terlalu cepat kalau harus nembak dia semalam."
"Kelamaan, nanti Mei nya keburu dipepet orang."
"Gak apa-apa Mam, kalau memang Mei nya mau sama orang lain aku harus apa?"
"Astaga sebenarnya kamu suka gak sih sama Mei?"
"Ya suka lah tapi untuk menuju pelaminan kan butuh proses Ma."
"Dulu Papa kamu gak pakai lama tuh pas ngajak Mama nikah. Satu kali pertemuan ngajak kenalan dan yang kedua ngajak nikah, pertemuan ketiga lamaran dan yang keempat nikahan."
"Itu dulu Mam, beda sama sekarang. Kalau anak muda zaman sekarang digituin malah dia lari karena mengira aku cuma main-main."
"Nih anak emang susah dibilangin. Udah biar Papa aja yang melamar Mei buat kamu," ucap Romli.
"Jangan Pa, biarkan waktu yang membawa aku dan Mei pada takdir kami yang sesungguhnya."
Bersambung
__ADS_1