
"Maaf ya tapi aye udah bilang ke Bu Aryanti kalau aye gak perlu dibayar untuk semalam," ucap Mei.
"Tapi ini Mama yang nyuruh." Darren mencoba memberitahu Mei kalau Mamanya yang memintanya untuk memberikan uang itu pada Mei.
"Gak usah, kamu bawa lagi aja tuh duit."
"Aku udah capek-capek nyari kamu kesana kemari pas ketemu eh kamu malah nolak," ucap Darren.
"Itu salah kamu bukan salah aye."
"Mei, ini cowok bukan calon laki lu terus yang mana yang calon laki lu yang semalam datang ke rumah lu?" tanya Joni.
"Apa sih lu Jon, calon laki yang mana? Gue kagak punya calon laki."
"Semalam gue ke rumah lu tapi lu gak ada adanya cuma orang tua lu yang sedang ngobrol sama keluarga calon laki lu."
"Kagak ada, lu ngaco dah itu cuma teman lama Babeh gue. Lu diam dulu dah, gue mau ngomong sama ini orang," ucap Mei sembari menunjuk ke arah Darren.
"Aku gak bisa pulang sebelum kamu nerima uang ini," ucap Darren.
"Et dah perasaan keluarga lu doyannya maksa orang mulu ya. Gue bilang gue gak usah dibayar untuk pekerjaan semalam."
"Aku akan dapat hukuman jika kamu tidak menerima uang ini."
"Terserah lu."
"Mei, maaf ya ni gue ikut campur tapi tadi lu bilang Amel lagi sakit, dia butuh perawatan medis. Apa gak sebaiknya lu terima aja tuh duit?" ucap Karen.
__ADS_1
"Tapi itu bukan hak gue atau pun Amel. Gue gak melakukan pekerjaan apa pun buat mereka, gue gak mau makan gaji buta."
"Kalau gitu ada pekerjaan buat kamu Mei," ucap Isabella yang tengah berjalan menghampiri mereka.
Bella merasa bosan menunggu Darren di dalam mobilnya, akhirnya dia turun dan menghampiri mereka.
Semua orang mengalihkan pandangannya pada gadis cantik yang berjalan ke arah mereka itu.
"Kamu." Mei menatap Isabella dengan tatapan penuh tanya.
"Aku datang bersama kakakku ini. Kalau kamu gak mau nerima uangnya gak apa-apa. Kalau kamu mau nerima uang harus ada kerja dulu, aku ada kerjaan buat kamu."
"Kerja apa?"
"Kamu bisa bawa kendaraan apa?"
"Multi fungsi ya kamu. Tugas kamu cuma ngantar jemput Gaby pulang sekolah aja. Kamu mau kan?"
"Maaf bukannya aye kagak mau tapi aye tidak bisa meninggalkan pekerjaan aye di sini."
"Ya gak ninggalin Mei, pagi kamu antar dia ke sekolah habis itu tinggalin dia di
sekolah dan siangnya saat waktunya pulang, kamu jemput dia deh."
"Iya, ide bagus itu. Biar gak ada yang berusaha menculik Gaby lagi," ucap Darren.
"Bukannya kemarin kamu menuduh aye yang menculik Gaby? Gimana kalau Gaby beneran aye culik?"
__ADS_1
"Gue baru kali ini nemu cewek yang jual mahal kayak lu. Preman pasar keras kepala." Darren mulai kesal pada Mei yang terus menolak.
"Hidup, hidup aye kenapa kamu yang sewot."
"Mei maaf ya, Kak Darren emang orangnya emosian."
"Kagak apa-apa, aye udah biasa mendengar perkataan dia yang pedas itu."
*******
"Ma, kalau Darren suka sama Mei, Mama setuju gak?" tanya Aryanti pada Sarah.
"Kenapa tidak, sepertinya Mei gadis yang baik."
"Tapi dia gak sepadan sama kita."
"Memangnya kamu gak setuju?"
"Aku malah pengen Mei jadi menantu di rumah ini Ma."
"Terus, kenapa kamu bilang gitu tadi?"
"Ya aku cuma ngomong, takutnya Mama gak setuju karena Mei bukanlah anak orang kaya."
"Kaya atau tidak, selama Darren dan Gaby bahagia, Mama sih setuju-setuju aja."
Bersambung
__ADS_1